Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Features (Bahasa) Gereja-gereja di India kecam pembunuhan ayah dan anak oleh polisi

Gereja-gereja di India kecam pembunuhan ayah dan anak oleh polisi

Gereja dari berbagai denominasi di India menyampaikan kemarahan mereka atas kematian seorang ayah beragama Kristen dan putranya saat berada dalam tahanan polisi di negara bagian Tamil Nadu, di wilayah selatan.

P Jayaraj, 59, dan putranya Emmanuel Bennicks, 31, yang mengelola sebuah toko ponsel di kota Sathankulam di distrik Thoothukudi di negara bagian itu, ditangkap pada 19 Juni atas tuduhan melanggar pembatasan virus corona.

Jayaraj dan Bennicks diduga disiksa saat berada dalam tahanan dan meninggal dua hari kemudian di rumah sakit, kata Pastor Z Devasagayaraj, rektor Our Lady of Periyanayagi Shrine di negara bagian itu.

Pastor Devasagayaraj mengatakan kedua pria itu adalah anggota Keuskupan Thoothukudi Nazareth dari Gereja India Selatan yang merupakan bagian Gereja Protestan Bersatu.




Pada tanggal 18 Juni, Bennicks membuka tokonya sampai sekitar jam 8:15 malam dan polisi yang berpatroli menghentikannya karena melanggar batas waktu penutupan toko.

Sehari kemudian, polisi mengunjungi toko itu lagi dan berdebat dengan Jayaraj. Mereka memaksanya untuk menutup toko sebelum waktu dan ketika dia berdebat mereka lalu membawanya ke kantor polisi, kata imam itu.

Putranya Bennicks mengetahui hal itu dan bergegas ke kantor polisi, di mana ayah dan anak itu kemudian ditahan dengan beberapa pasal hukum pidana India.

- Newsletter -

Kedua pria itu ditempatkan di penjara pada 21 Juni. Keduanya kemudian dibawa ke rumah sakit pemerintah Kovilpatti, di mana mereka meninggal dalam beberapa jam, kata Pastor Devasagayaraj.

Dalam surat pengaduannya ke pengadilan pidana distrik dan asisten komisioner, istri Jayaraj, J Selvarani menulis bahwa suami dan putranya mengalami pemukulan brutal, yang mengakibatkan pendarahan parah pada dubur dan akhirnya meninggal. Dalam suratnya dia mengharapkan tindakan tindakan terhadap petugas polisi yang terlibat.

Laporan media lebih lanjut mengatakan ayah dan anak itu  mengalami pendarahan banyak. Meskipun demikian, hakim mengembalikan mereka ke penjara dan dokter yang bertugas di penjara diduga mengabaikan kondisi mereka.

Dengan klaim keduanya disiksa secara brutal dalam tahanan polisi, keluarga menuntut polisi yang terlibat harus didakwa dengan pembunuhan.

Foto Kardinal Oswald Gracias, kepala Konferensi Waligereja India, yang diambil di Vatikan pada 4 Maret 2013. (Foto oleh Vincenzo Pinto / AFP)

Konferensi Waligereja India (CBCI) pada 28 Juni mengecam insiden mengerikan itu.

CBCI “mengutuk” apa yang menimpa Jayaraj dan putranya Emmanuel Bennicks ketika berada dalam tahanan polisi di Tuticorin, yang mengakibatkan kematian mereka, kata presiden CBCI, Kardinal Oswald Gracias, dalam sebuah pernyataan pers.

Dugaan kebrutalan seperti itu di tangan pasukan yang memiliki tugas untuk melindungi warga sama sekali tidak dapat diterima, kata Kardinal Gracias.

“CBCI menyerukan kepada pemerintah untuk segera mengambil tindakan dan untuk memastikan keluarga mendapat kompensasi,” kata kardinal.

“Gereja berdoa agar Tuhan memberikan istirahat abadi bagi jiwa-jiwa yang telah meninggal dan agar keluarga mereka mendapatkan penghiburan dan kedamaian dalam situasi yang mengejutkan ini.”

Gereja India Selatan juga mengecam keras insiden itu dan mendesak tindakan segera terhadap mereka yang diduga terlibat dalam pembunuhan itu.




Advokat Fernandes Rathina Raja, sekretaris jenderal Gereja India Selatan, mengirim surat terbuka kepada Ketua Menteri Tamil Nadu dan kepada Wakil Ketua Komisi Nasional untuk Minoritas Manjit Singh Rai untuk mengambil tindakan terhadap mereka yang diduga terlibat.

Raja mengatakan bahwa personel polisi yang menggunakan kekuatan berlebihan tidak mengikuti pedoman yang sah, dan hakim juga tidak memenuhi tugasnya seperti yang disyaratkan.

Surat itu juga menyoroti penanganan dokter yang bertugas yang “sengaja mengabaikan atau melanggar” aturan mengenai pemeriksaan medis ketika memeriksa  ayah dan anak itu.

Pada 24 Juni, Pengadilan Tinggi Madras memerintahkan pengawas kepolisian Tuticorin untuk mengajukan laporan status insiden tersebut pada 26 Juni.

Beberapa polisi telah dibebastugaskan, tetapi menurut klaim media, tidak ada laporan yang terdaftar.

Menyusul protes atas pembunuhan itu, kepala menteri mengatakan kasus itu akan diserahkan kepada Biro Investigasi Pusat federal.

Insiden yang dijuluki sebagai “George Floyd India” menyebabkan aksi protes di Tamil Nadu, dan berbagai kecaman atas insiden itu muncul secara nasional melalui media sosial.

Ratusan orang, termasuk politisi dan selebritas, telah menyiarkan tagar #JusticeforJayarajandBennix untuk mengecam dugaan kekerasan polisi tersebut.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: yourvoice@licas.news

Support Our Mission

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Exit mobile version