Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Pastor Jan Jaworski, legenda hidup bagi warga Chimbu Papua Nugini

Pastor Jan Jaworski, legenda hidup bagi warga Chimbu Papua Nugini

Selamat sekitar tiga puluh tahun, Pastor Jan Jaworski, seorang ahli bedah, telah melayani warga di Chimbu, salah satu daerah terpencil di dataran tinggi Papua Nugini.

“Menyembuhkan fisik adalah tugas yang mudah,” kata Pastor Jan kepada surat kabar lokal The National.

Pastor Jan telah menjadi pastor paroki Yombar melewati periode konflik suku yang menghancurkan yang telah mempengaruhi seluruh jemaatnya.

Saat dia menyembuhkan luka fisik mereka, imam asal Polandia itu lebih dari sekali bertanya-tanya tentang misinya dan hal baik apa yang mungkin dia sudah capai.




Tempatnya berkarya adalah dunia yang jauh dari kehidupannya sebelumnya.

Pada tahun 1970, ia menyelesaikan pendidikan di sekolah kedokteran di Poznan. Saat itu ia belum sebagai imam, namun memiliki tekad untuk menggunakan keahliannya di tempat yang kekurangan dokter. Ketika seorang teman universitas menjadi pastor dan dikirim ke Papua Nugini (PNG), dokter muda itu pun ingin melakukan hal yang sama.

Tapi dia masih membutuhkan waktu lebih lama untuk pelatihan medis, mengumpulkan keterampilan yang dia harap suatu hari dapat dibawa ke PNG.

Akhirnya, pada tahun 1984, ia menyatakan siap. Saat itu ia berada di Wina untuk menyelesaikan tahun terakhir pelatihan ketika dia mendapat kesempatan untuk mengunjungi sebuah pameran tentang budaya PNG yang menampilkan gambar pria dataran tinggi dengan kostum tradisional.

- Newsletter -

“Saya sedikit takut ke mana saya akan pergi, dan apa yang akan saya lakukan,” kata Pastor Jan.

“Seorang teman saya, seorang pastor Pallottine yang telah menjadi pembibing rohani saya selama bertahun-tahun, berkata, ‘Sekaranglah waktunya bagi Anda untuk membuat keputusan – Anda harus memasuki imamat.’ Saya siap untuk ini entah bagaimana… saya tidak pernah sebelumnya secara langsung membicarakannya, tetapi saya merasa saya menuju ke arah ini. Saya sedang menunggu tanda dari Tuhan,” katanya

Ia mengirim surat lamaran ke Departemen Kesehatan PNG, dan dia menuliskan namanya untuk masuk novisiat untuk belajar menjadi imam.

“Saya membuat kontrak dengan Tuhan, bahwa apapun yang akan terjadi, saya akan menerimanya,” katanya.

Pastor Jan Jaworski merayakan Misa di kapel rumah sakit di dataran tinggi Papua Nugini. (Foto oleh Henry via Church Alive)

Dua minggu sebelum dia memasuki novisiat, dokumen visa dari PNG tiba dan dia segera terbang ke Port Moresby dengan perasaan lega.

“Para imam itu mengatakan ‘Anda harus membuat keputusan. Begitu Anda masuk tarekat kami, Anda tidak akan melakukan operasi. ‘Ini sangat menyakitkan bagi saya, tetapi saya berkata,’ Kehendak Tuhan adalah kehendak Tuhan,” kenangnya.

“Salah satu orang pertama yang saya temui di PNG adalah seorang misionaris Australia, Pastor Peter Flynn, yang telah masuk sekolah kedokteran dan menjadi dokter, dan sedang melakukan beberapa operasi dasar. Saya pikir mungkin saya bisa menjadi imam dan melakukan operasi. “

‘Pilih dokter atau imam, tapi tidak bisa keduanya’

Empat tahun kemudian, uskup yang mengirimnya ke Roma ke seminari bersikukuh bahwa saat dia kembali dia harus memilih – menjadi seorang dokter, atau seorang imam, tetapi tidak keduanya.

Namun, ketika ditahbiskan oleh Paus St. Yohanes Paulus II pada tahun 1992, uskup itu berubah pikiran dan Pastor Jan boleh melakukan bedah.

Selama 27 tahun terakhir, Pastor Jan telah menyelamatkan nyawa warga PNG, khususnya di provinsi Chimbu.

Dalam perjalanannya, dia menemukan bahwa memperbaiki tubuh fisik lebih mudah daripada menemukan cara untuk memperbaiki komunitas yang brutal dalam masyarakat yang berakar sangat dalam, yang menjadi tantangan baginya melalui keberhasilan dan kegagalan selama bertahun-tahun.

Sebagai pastor paroki, dia telah memainkan peran sebagai pembawa damai yang telah membuatnya diakui sebagai kepala suku – suatu kehormatan langka bagi orang kulit putih.

Sekarang di usia hampir 70 tahun, Pastor Jan terkenal karena disiplin waktunya yang luar biasa; percaya bahwa jika dia terlambat sebentar, nyawa seseorang akan terancam.

Imam itu juga prihatin dengan para gadis dan wanita yang menjadi korban kekerasan seksual yang meluas di komunitas mereka.

 Pastor Jan Jaworski dengan seorang pasien muda di sebuah rumah sakit di dataran tinggi Papua Nugini. (Foto oleh Henry via Church Alive)

Dalam wawancara tahun 2010, Pastor Jan berbicara tentang tantangan yang dihadapi komunitas lokal setelah pertempuran antar suku yang kejam.

“Gadis-gadis yang paling menderita. Para wanita menderita kelaparan, kebun mereka, sumber nafkah dan pendapatan musnah, ”katanya.

Anak-anak menderita berbagai penyakit, dibawa kembali untuk mati di tanah leluhur mereka. Saya marah,” katanya.

“Saya marah sampai-sampai saya ingin memindahkan gereja dari tempatnya, tetapi uskup berkata: ‘Orang-orang ini membutuhkan dukungan. Jika Anda tidak akan melakukan sesuatu untuk anak muda, mereka akan menjadi kriminal. “Jadi perlahan-lahan saya berdamai dengan diri saya sendiri, dan kami mencoba melakukan sesuatu untuk menghindari kejadian menyakitkan lainnya dari pertikaian antar suku di pemilihan berikutnya.”

Pada tahun 2014, seorang anak laki-laki berusia 9 tahun dirawat di rumah sakit Kundiawa setelah diserang oleh pamannya dengan kapak. Pamannya menuduh bocah itu sebagai ‘sanguma’ (penyihir). Untungnya, imam itu berhasil mengoperasi anak itu dan menyatukan kembali jaringan yang rusak.

Pastor Jan dan beberapa anggota gereja mencarikan tempat yang aman bagi bocah itu untuk bersama anak-anak lain agar mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan dan bisa hidup normal.
Ini adalah salah satu contoh karyanya, sebagai ahli medis dan imam di dataran tinggi PNG di mana dia sekarang telah menjadi tokoh yang dihormati banyak orang.

Artikel ini adalah editan atas Johnny Poiya dan Jo Chandler yang dimuat Church Alive, terbitan Konferensi Waligereja Papua Nugini dan Kepulauan Solomon.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: yourvoice@licas.news

Support Our Mission

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Exit mobile version