Menanti datangnya akhir zaman

Kami di Filipina secara berturut-turut dihantam oleh serangkaian topan dan gempa bumi tahun ini, membuat kami bertanya-tanya di benak kami di penghujung tahun  2019: Apakah ini “akhir zaman?”

Meskipun kami sudah terbiasa dengan tragedi seperti ini yang berulang seperti musim, tahun ini tampaknya terlalu berat; bahwa rentetan bencana hingga budaya yang dipenuhi dengan takhayul dan keyakinan ritualistik, adalah pertanda akhir zaman (Armageddon) tak terhindarkan.

“Akhir zaman” sama menariknya dengan kematian kita sendiri. Teka-teki yang jarang diucapkan di luar bisikan, membangkitkan pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu: Apa yang akan terjadi ketika itu datang? Apa yang akan kita rasakan ketika itu datang? Ada apa di baliknya?

Ini adalah misteri yang menyerang inti kemanusiaan kita, karena mengingatkan kita pada kerapuhan kita, pada realitas yang tak terhindarkan bahwa kemanusiaan kita juga akan lenyap.




Segala sesuatu yang kita lihat, rasakan dan sentuh, semua yang kita dengar, semua orang yang kita cintai atau benci, semua yang kita hargai dan tidak bisa tinggalkan … akan lenyap. Bahkan tidak akan ada ingatan akan apa yang telah ada, atau apa yang kita hargai lebih dari hidup itu sendiri, akan tertinggal dalam ketidakjelasan.

Apakah itu kegelapan? Atau cahaya? Saya pernah mengalami perasaan gelisah luar biasa saat terdampar di sebuah ruangan yang sangat gelap. Tidak ada perasaan yang lebih menakutkan selain ketika membuka mata lebar-lebar, dan hanya melihat warna hitam, tidak ada bayangan, atau bahkan secercah cahaya. Seolah-olah mataku mati rasa, tidak melihat apa-apa.Itu adalah pandangan sekilas yang mengerikan pada realitas kebutaan. Yang lebih aneh lagi adalah berpikir bahwa kita semua bisa berakhir seperti ini.

Saya ingat di masa-masa sekolah menengah saya ketika saya gemar membaca literatur apokaliptik, hanya karena masa muda saya senang menakut-nakuti diri sendiri dengan yang real daripada fiksi. Bahkan Kitab Wahyu yang ditemukan dalam Alkitab tidak bisa menandingi karena unsur-unsur mitologisnya jelas, dan dengan demikian tidak akan mengilhami iman dalam masyarakat kontemporer ini, seperti halnya pada zaman kuno para martir Kristen.

- Newsletter -

Ada banyak tulisan yang jauh lebih menarik yang dapat membuat Anda sangat ketakutan. Ingat Nostradamus? Dan bagaimana dengan Norman Cayce? Banyak yang telah dikatakan tentang prediksi kematian dunia pada akhir milenium kedua, apakah persis pada detik terakhir, atau beberapa tahun setelah itu.

Kami biasa menghibur diri sendiri saat itu, tetapi tentang bagaimana semua itu akan berakhir: apakah itu akan menjadi bencana besar dan tiba-tiba, atau kematian yang lambat dan menyakitkan? Akankah kita menyalahkan komet, alien penyusup, virus zombie atau lilitan tanaman karnivora yang mengerikan, atas kematian sejarah?

Ada juga daftar dongeng oleh St Malachy yang secara menarik menubuatkan identitas paus terakhir, yang menurut orang yang menafsirkan nubuat itu, berkorespondensi dengan Benediktus XVI. Jadi, apakah Gereja sudah berakhir?

Saat itu tahun delapan puluhan, dan saya tahu saya akan memasuki usia tiga puluhan pada tahun 2000. Akhir Gereja memang mengganggu, tetapi saya masih dikuasai oleh dilema membingungkan apakah saya harus menyelesaikan pendidikan teknik dan mengambil ujian lisensi atau menikahi pacar saya. Saya ingat waktu itu agak lucu untuk membayangkan manfaat profesi atau pernikahan saya, jika waktu tersisa hanya kurang dari sepuluh tahun sebelum semuanya meledak?

Tetapi seperti nasib, dunia pun terus berputar. Saya menjadi seorang insinyur, saya terjun ke dunia bisnis dan mempraktikkan profesi saya. Saya menikah dan memiliki empat anak. Saya akhirnya menjadi dosen untuk kelanjutan pendidikan, masuk dalam konsultasi dan pengembangan kompetensi, dan mulai mengajar di universitas. Saya juga secara mengejutkan menjadi seorang awam Fransiskan, mulai belajar teologi, dan sekarang saya menantikan karier dalam bidang penulisan dan pelayanan pastoral. Pada tahun 2000 kami lebih takut pada Y2K daripada Nostradamus.

Apakah kita benar-benar harus takut pada “akhir zaman?” Atau apakah kita seharusnya mengharapkannya? Mungkin itu tidak gelap seperti yang kita pikirkan. Dan jika kita kembali dan mengingat dengan penuh kasih apa yang dimaksudkan Yesus pada masanya, mungkin kita akan mengerti arti apa sebenarnya Kabar Gembira itu. Mungkin kita akan lebih memahami penyempurnaan sesungguhnya.

Yesus memimpikan dunia yang bebas dari keserakahan, cinta akan kekuasaan dan prestise, menginginkan dunia yang saling mencintai dan menjaga satu sama lain, dunia di mana tidak ada satupun yang tertinggal, sebuah dunia di mana semua siap untuk memberikan diri  untuk orang lain, seperti yang dia lakukan.

Tetapi ini adalah dunia yang harus terus kita perjuangkan. Banyak orang akan memberikan teladan tanpa pamrih tetapi akan ditundukkan oleh keberhasilan dan keunggulan yang mementingkan diri sendiri. Setiap orang akan berusaha menjadi yang terbaik dengan mengorbankan yang lain. Masyarakat kita menarik kita ke arah yang berlawanan dari tempat yang Yesus inginkan kita berada.

Ini adalah “akhir zaman,” saat ketika kita dibuat cukup berani untuk berjuang menuju arah yang lebih sulit, ketika keegoisan dan kesombongan akan berakhir; waktu untuk pemenuhan kekuasaan Allah. Ini adalah saat ketika kita ditantang untuk berjuang demi pembebasan bagi yang tertindas dan yang ditinggalkan.

Hanya saat itulah kita tahu bahwa semua yang kita lakukan sekarang, hanyalah proses menuju “akhir zaman.”

Kita tidak dipanggil untuk hanya menunggu saat itu datang. Kita dipanggil untuk mengaktualisasikannya. Kita tidak dipanggil untuk hanya berpaling dari kejahatan, tetapi untuk lebih aktif memproklamirkan kebaikan pada setiap orang, dan menunjukkan bahwa kita semua masih bisa menjadi baik, terlepas dari kebodohan kita.

Tidak ada yang perlu ditakutkan di “akhir zaman,” kita harus benar-benar menunggunya.

Brother Jess adalah anggota Ordo Fransiskan Sekuler. Dia berkarya sebagai koordinator Persaudaraan Santo Pio Pietrelcina di Paroki Santo Fransiskus Asisi di Kota Mandaluyong, koordinator Kelompok Doa Padre Pio dari Kapusin di Filipina, dan penasihat penjara dan katekis untuk Biro Manajemen Penjara.

Pandangan yang diungkapkan dalam artikel ini adalah pendapat penulis dan tidak mencerminkan sikap editorial LICAS News.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest