Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Badai membawa maut saat Natal di Filipina tengah

Badai membawa maut saat Natal di Filipina tengah

Saat jam menunjukkan pukul dua belas pada malam Natal, Judith Guande, 41, dan anak-anaknya meringkuk ketakutan di sudut kecil di dalam ruang kelas di Filipina tengah.

Mereka berada di tempat itu setelah melarikan diri dari rumah mereka di tepi laut beberapa jam sebelumnya untuk menghindari murka angin topan Phanfone (secara lokal disebut “Ursula”), yang melanda wilayah itu pada 24 Desember.




Dengan kecepatan angin 140 hingga 195 kilometer per jam topan “Ursula” membuat beberapa kota kebanjiran dan rumah-rumah rusak.

“Kami harus mengungsi karena rumah kami hanya beberapa meter dari laut,” kata Judith, seorang ibu tunggal beranak enam yang berpenghasilan kurang dari satu dolar sehari dari melakukan pekerjaan kasar bagi tetangganya.

Ketika pagi Natal tiba, setelah topan berlalu, rumah Judith tidak memiliki atap, sedikit “lebih baik ” dari 2013 ketika topan super Haiyan benar-benar menghancurkan rumahnya.

“Sakitnya yang sama muncul lagi,” katanya dengan air mata berlinang. “Tapi aku harus maju terus, kalau tidak rasa sakit akan menelanku hidup-hidup,” kata Judith ketika dia mulai mengumpulkan barang-barang miliknya yang tersisa.

- Newsletter -

“Ursula” adalah topan terkuat yang melanda Filipina tengah tahun ini, menyebabkan sedikitnya 16 orang tewas dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal, merusak perayaan Natal tradisional di negara yang mayoritas penduduknya beragama Katolik itu.

Meskipun jauh lebih lemah daripada Haiyan, “Ursula” melewati jalur yang sama dengan topan super 2013, yang merupakan badai paling mematikan yang menewaskan lebih dari 7.300 orang.

Filipina adalah daratan besar pertama yang dilalui topan Pasifik, dan dilanda rata-rata sekitar 20 badai besar dalam setahun.

A man walks past storm debris in Biliran, Philippines Dec. 26, 2019. (Photo by VERMALYN MALOLOY-ON NAVARRETE/REUTERS)

Natal jauh dari rumah

Di Surigao, Filipina selatan, di Mindanao, penumpang yang terdampar merayakan Natal di dalam kendaraan dan di tempat penampungan di sekitar pelabuhan.

Norberto Otordos, 53, sedang dalam perjalanan mencari perlindungan di pulau Dinagat bersama istri dan cucunya yang berusia sepuluh tahun ketika topan menyelimuti mereka.




Pasangan dan anak kecil itu meninggalkan Mindanao setelah gempa berkekuatan 6,9 skala Richter pada 15 Desember menghancurkan rumah mereka.

“Kami meninggalkan rumah kami yang hancur pada malam 22 Desember dengan harapan bahwa kami akan tiba di Dinagat dan merayakan Natal kami di rumah baru kami,” kata Norberto.

Kehidupan di desa yang mereka tinggalkan tidak mungkin, katanya. “Kami hampir tidak bisa tidur nyenyak karena gempa susulan. Kami tidur di tenda yang selalu dilanda hujan, ”tambahnya.

Marylou, istri Norbert yang berusia 52 tahun, mengatakan mereka tidak punya pilihan selain menghabiskan Natal di dalam terminal feri.

Setelah 31 tahun pernikahan mereka, itu adalah pertama kalinya pasangan itu merayakan kelahiran Yesus jauh dari rumah.

Pihak berwenang mengatakan lebih dari 23.000 orang terdampar di berbagai pelabuhan laut di seluruh negeri pada malam Natal karena penangguhan perjalanan laut.

Beberapa bandara, terutama di provinsi Aklan, juga ditutup.

Semangat Natal tetap ada

Pastor Joebert Villasis, ketua Aklan Catholic College, melaporkan bahwa topan itu “membawa kerusakan” di kampus.“

“Topan mencabut pohon mangga yang sudah berumur hampir seabad. Tetapi tidak ada nyawa yang hilang,” tulis imam itu di media sosial.

“Kami harus mengabil sapu kami sekarang untuk membersihkan  kesedihan akhir tahun dan berharap bahwa 2020 akan membawa kita kebahagiaan,” tambahnya.

Kardinal Luis Antonio Tagle dari Manila meminta umat beriman untuk berdoa bagi mereka yang terkena dampak bencana, terutama mereka yang tinggal di Visayas dan Bicol.

“Kita tidak bisa memprediksi kapan hal-hal seperti ini akan muncul” kata prelatus itu seraya memohon untuk “solidaritas.”

Pastor Chris Arthur Militante dari Keuskupan Agung Palo, yang dilanda topan tahun 2013, mengatakan orang-orang hanya mencari perlindungan saat ini pada puncak topan.

Dia mengatakan bahwa “karena ini Natal banyak tangan yang menjangkau lingkungan masing-masing.”

Dalam sambutan Natal yang emosional kepada keluarga-keluarga yang terkena dampak, Pastor Kim Margallo dari Tacloban mengatakan, “Natal bukan tentang berapa banyak apa yang kita miliki, tetapi ini tentang kehidupan yang akan kita didapatkan setelah badai.”

Erwin Mascarinas dan Jun Aguirre berkontribusi pada laporan ini.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest