Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Petugas garis depan COVID-19 dihargai saat Pekan Suci

Petugas garis depan COVID-19 dihargai saat Pekan Suci

“Kenapa harus saya?” demikian pertanyaan yang dilontarkan Elizabet Labro Afuang ketika diberitahu bahwa dia akan menjadi bagian dari ritual pembasuhan kaki pada Kamis Putih.

Afuang adalah anggota tim tanggap darurat kesehatan di desa Bagong Silangan di pinggiran ibukota Filipina.

Selama perayaan Pekan Suci, para pemimpin gereja menghormati “pelayanan dan pengorbanan heroik” orang-orang yang berada di garis depan saat menghadapi krisis kesehatan global yang disebabkan oleh virus corona.



Uskup Honesto Ongtioco dari Cubao mengatakan, kebangkitan Kristus “diwujudkan dalam kehidupan” orang-orang yang menawarkan pelayanan kesehatan dan mengorbankan kehidupan mereka sendiri untuk merawat orang sakit dan orang miskin.

Prelatus itu mengatakan bahwa seperti Yesus, orang-orang yang bekerja untuk membantu mengurangi beban penderitaan telah melakukan  pengorbanan yang besar.

“Banyak dari kita sudah kelelahan tetapi seperti penderitaan Kristus, itu tidak berakhir pada Jumat Agung. Penderitaan menuntun pada kebangkitan, ”kata uskup dalam pesan Minggu Paskahnya.

Dia mengatakan Paskah “mengingatkan kita bahwa krisis ini tidak akan berakhir [pada penderitaan.] Ada harapan dan ada masa depan yang baik yang dijanjikan Tuhan.”

Pastor Karmelit Gilbert Billena mencuci kaki Elizabeth Labro Afuang, seorang petugas kesehatan, saat upacara pembasuhan kaki pada Kamis Putih di desa Bagong Silangan di pinggiran Manila. (Foto oleh Mark Saludes)
- Newsletter -

Uskup Agung Romulo Valles dari Davao, ketua konferensi waligereja Katolik, mengatakan, “sangat menyentuh dan mengharukan” melihat para petugas kesehatan “berjuang keras menyelamatkan dan melindungi kehidupan pasien yang sakit.”

Dia memuji orang-orang yang memanifestasikan “tindakan sederhana dan rasa terima kasih kepada semua orang yang telah mengorbankan diri mereka sehingga orang lain dapat hidup.”

“Bukankah ini manifestasi konkret dari semangat Paskah? Melihat semua ini, tidakkah hati kita dipenuhi dengan harapan?” kata uskup itu

Salib untuk dipikul

Afuang mengatakan dia menerima panggilan untuk melayani di desanya meskipun ada ancaman tertular penyakit karena “saya disumpah untuk melakukan hal ini dan itu adalah tanggung jawab saya sebagai petugas kesehatan.”

Dia mengikuti semua langkah pencegahan dan protokol untuk tetap terlindungi dari penyakit, tapi tidak siap untuk mendapatkan diskriminasi.

Tetangganya bahkan membuat grup obrolan online di media sosial, menyebarkan desas-desus bahwa Afuang telah terkena penyakit tersebut.

Dia berkata bahwa dia menanggung semuanya itu, “tetapi saya merasa sedih melihat anak-anak saya turut terpengaruh oleh prasangka-prasangka ini.”

Seorang perawat kesehatan mengenakan alat pelindung diri sebelum memasuki fasilitas kesehatan di Quezon City di ibukota Filipina. (Foto oleh Mark Saludes)

Pekerja garis depan harus menghadapi tidak hanya kelelahan karena pekerjaan tetapi juga ancaman dan serangan.
Di desa Santo Cristo, Rodelyn, seorang petugas kesehatan, harus membawa seragamnya dalam tas untuk pergi bekerja.

“Ada insiden di mana saya didiskriminasi karena saya bekerja di rumah sakit,” katanya.

Suatu hari, ketika dia memasuki sebuah toko untuk membeli makanan ringan, seorang pelanggan menuangkan alkohol di padanya tanpa memberitahu terlebih dahulu.

“Saya merasa malu dan terancam,” kata Rodelyn. “Wanita itu mengatakan kepada saya bahwa saya tidak boleh masuk ke toko karena saya bisa terinfeksi,” katanya.



Pada 9 April, departemen dalam negeri memerintahkan unit pemerintah daerah untuk menegakkan undang-undang anti-diskriminasi untuk melindungi orang yang bekerja di garis depan menangani epidemi ini.

“Kami terkejut dengan laporan yang sampai di kantor kami tentang kekerasan dan diskriminasi yang dialami oleh pekerja garis depan kami,” kata Menteri Dalam Negeri Eduardo Año.

“Mereka adalah pahlawan di tengah pertempuran melawan COVID-19 dan mereka mengalami diskriminasi dan pelecehan,” katanya.

Gereja Katolik telah membuka gereja dan fasilitas untuk mengakomodasi petugas kesehatan garis depan yang harus pergi bekerja saat lockdown.

Di Keuskupan Agung Manila, setidaknya 500 pekerja garis depan termasuk dokter, perawat, pekerja rumah sakit, dan polisi ditempatkan di 36 fasilitas yang dikelola gereja.

Asosiasi Pemimpin Religius di Filipina juga menawarkan biara bagi petugas kesehatan yang membutuhkan tempat untuk beristirahat.

Pastor Angel Cortez, sekretaris eksekutif asosiasi itu, mengatakan sedikitnya 15 biara dan fasilitas gereja menawarkan kamar-kamar dan ruangan-ruangan untuk para pekerja kesehatan garis depan di ibukota negara itu.

“Gereja selalu terbuka untuk mereka yang membutuhkan tempat terutama di saat krisis ini,” kata imam itu.

“Sekarang, kami telah membuka pintu bagi orang-orang yang bekerja keras untuk melindungi kita semua,” tambahnya.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest