Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Aktivitas gereja di Manila diperkirakan akan berubah setelah pandemi

Aktivitas gereja di Manila diperkirakan akan berubah setelah pandemi

Keuskupan Agung Manila akan menerapkan sejumlah perubahan dalam kegiatannya setelah penguncian akibat virus corona.

Uskup Broderick Pabillo, administrator apostolik Manila, mengatakan bahwa keuskupan agung itu pasti akan memperkuat kehadiran media sosialnya dan meningkatkan pelayanan bagi orang sakit.

Prelatus itu mengatakan krisis kesehatan global telah membuktikan bahwa media sosial telah menjadi sarana penting dalam praktik iman umat.




“Beberapa sudah kami realisasikan,” kata Uskup Pabillo dalam pernyataan pastoral yang dirilis minggu ini.

Dia mencatat bahwa paroki-paroki yang memiliki “pelayanan media sosial yang berkembang dengan baik” dapat menjangkau umat mereka dengan mudah dan menawarkan layanan kepada mereka.

“Jadi, kita harus mengembangkan pelayanan media sosial kita. Layanan keagamaan online akan terus ada,” kata uskup.

Dia mengatakan kerasulan media akan terus dikembangkan dan akan memainkan peran yang lebih besar dalam kehidupan Gereja mulai sekarang.

- Newsletter -

Uskup Pabillo juga mendesak semua lembaga gereja untuk membangun “pelayanan media sosial yang baik.”

Dia juga mencatat bahwa pandemi itu “telah menunjukkan kepada kita pentingnya pelayanan kepada orang sakit.”

Uskup itu mengatakan bahwa di Keuskupan Agung Manila hanya memiliki lima imam yang memberikan pelayanan rumah sakit. Sebagian besar kapelan di rumah sakit adalah imam tarekat religius atau imam tamu.

“Kita harus secara serius berpikir sebagai keuskupan agung untuk memperkuat pelayanan kita kepada orang sakit, bahkan sampai ke tingkat paroki,” katanya.

Prelatus itu mengatakan pelayanan kepada orang sakit tidak hanya untuk melayani orang sakit di rumah sakit tetapi juga untuk staf medis, dan kaum lanjut usia di rumah-rumah mereka.

Dia mengatakan ada kebutuhan untuk merekrut pelayan awam yang lebih muda dari pelayan altar yang lebih tua, atau anggota paduan suara yang lebih tua, atau bahkan meminta suster atau bruder dari tarekat religius untuk membantu dalam pelayanan.

Dalam surat gembalanya Uskup Pabillo juga mencatat bahwa praktik “jarak sosial” akan terus berlanjut bahkan setelah pandemi.

Dia mengatakan mungkin akan diadakan lebih banyak Misa pada hari Minggu setelah pandemi untuk membatasi kehadiran orang atau meminta orang untuk datang ketika ada jumlah umat sedikit.

“Setiap paroki harus menyediakan ruang yang memadai untuk ditaati  oleh mereka yang menghadiri Misa,” kata uskup.

“Ini berarti bahwa Misa tidak lagi harus setiap jam,” katanya, seraya menambahkan bahwa harus ada waktu di antara misa untuk membersihkan gereja.

Perayaan besar harus dilakukan di luar ruangan, dan gereja dapat membeli layar lebar dan sistem suara luar ruangan untuk orang-orang yang memilih berada di luar gereja.

Uskup mengatakan dia berharap alkohol dan pembersih tangan disediakan secara rutin di pintu gereja dan kantor-kantor.

Dia berencana menyediakan tempat cuci kaki di tangga masuk gereja dan kantor.

Uskup Pabillo mengatakan orang-orang harus menghentikan praktik menyentuh atau mencium gambar-gambar religius di gereja-gereja, dan sebagai gantinya orang cukup membungkukan badan atau doa secara diam.

Dia mendesak anggota klerus di keuskupan agung untuk menggunakan kreativitas mereka untuk melayani umat beriman “dalam situasi baru di mana kita berada sekarang.” 

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest