Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Uskup Filipina sesalkan kematian pelaut yang menunggu repatriasi

Uskup Filipina sesalkan kematian pelaut yang menunggu repatriasi

Seorang uskup Katolik di Filipina mengecam kematian pelaut asal negara itu Mariah Jocson yang sedang menunggu dipulangkan ke negaranya, dan menyebut insiden itu sebagai “akhir yang tragis.”

“Sebuah nyawa telah hilang, nyawa yang bisa diselamatkan, ”kata Uskup Ruperto Santos, wakil ketua Komisi Episkopal untuk Migran dan Orang-Orang Perantauan.

“Perhatian kita seharusnya lebih difokuskan pada situasi [pekerja migran kita di luar negeri] untuk memberi mereka harapan, untuk membantu dan menyembuhkan mereka,” kata prelatus itu.

“Prioritas harus diberikan untuk membantu para pekerja kita, biarkan mereka pulang dan biarkan mereka merasa diterima di rumah,” kata Uskup Santos dari Keuskupan Balanga di provinsi Bataan.

Jocson, 28, seorang awak kapal pesiar yang sudah berhenti beroperasi karena pandemi, dilaporkan melakukan bunuh diri setelah berbulan-bulan menunggu pemulangan kembali ke Filipina.


Dia ditemukan tewas di kabinnya di kapal Royal Caribbean, Harmony of the Seas, yang berlabuh di Barbados, pada 9 Juni.

Uskup Santos mengatakan pemerintah harus membawa pulang pekerja Filipina karena ada “dana repatriasi” dan pesawat sewaan dapat membawa pulang para pekerja yang terkatung-katung.

- Newsletter -

Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin Jr. mengkonfirmasi dalam sebuah pernyataan bahwa Jocson mengakhiri hidupnya di atas kapal pesiar di mana sekitar 2.000 anggota kru juga menunggu untuk kembali ke rumah mereka.

“Saya merasa sedih untuk melaporkan bahwa seorang pelaut wanita berusia 28 tahun bunuh diri di kabinnya di kapal tempat dia harus tinggal karena penerbangan repatriasi kembali ke Filipina telah ditangguhkan lagi,” kata Locsin dalam akun Twitter-nya.

“Kita diingatkan bahwa ketangguhan orang Filipina tidak boleh menjadi alasan untuk membuat mereka harus mencapai batas kesabaran. Mereka bukan karet, mereka manusia, ” tambahnya.

Locsin mengatakan Jocson adalah orang kedua yang bunuh diri di antara pekerja migran Filipina yang tidak dapat pulang sejak pandemi melanda.

Jocson dikabarkan bekerja sebagai asisten pelayan Rhapsody of the Seas, yang juga dioperasikan oleh Royal Caribbean. Dia dan kru kapal kemudian dikarantina di Harmony of the Seas.

Menurut laporan delapan anggota awak lainnya dilaporkan bunuh diri sejak Mei.

Bunuh diri itu termasuk seorang karyawan hotel Filipina yang berusia 32 tahun yang meninggal pada pertengahan Mei di Virgin Voyages ‘Scarlet Lady yang berlabuh di lepas pantai Florida.

Kasus bunuh diri Jocson menambah jumlah bunuh diri di kalangan pekerja migran Filipina di tengah krisis kesehatan global menjadi lima orang.

Uskup Santos menyerukan doa dan Misa khusus untuk Jocson dan pekerja migran lainnya yang telah kehilangan nyawa.

“Kita memohon kepada Allah kita yang mahabesar untuk mengingat pelayanan dan pengorbanan mereka bagi orang-orang yang mereka cintai, dan mengampuni kelemahan manusiawi mereka,” kata uskup itu.

Menteri Perburuhan, Silvestre Bello mengatakan kematian Jocson meningkatkan kebutuhan akan kesadaran dan advokasi yang lebih besar tentang kebutuhan psiko-sosial dan kesehatan mental pekerja Filipina di luar negeri.

“Berbagai layanan konseling dan layanan bantuan harus selalu tersedia untuk pekerja migran kita, terutama yang masih berada di atas kapal pesiar,” katanya dalam sebuah pernyataan pada 12 Juni.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest