Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Imam Filipina yang pernah diculik teroris meninggal karena serangan jantung

Imam Filipina yang pernah diculik teroris meninggal karena serangan jantung

Pastor Teresito “Chito” Soganub, imam yang diculik oleh kelompok teroris bersenjata di kota Marawi, Filipina selatan pada 2017, meninggal pada hari Rabu, 22 Juli, karena serangan jantung.

“Imam yang kita cintai Pastor Teresito Soganub meninggal karena serangan jantung saat tidur dini hari tadi … di rumahnya di Noralah, Cotabato Selatan,” kata Uskup Marawi Mgr. Edwin Dela Peña dalam pernyataan.

“Dengan sangat sedih kami membuat pengumuman ini, atas nama Prelatur Marawi,” kata uskup dan meminta semua orang beriman untuk mendoakan imam itu.


Pastor Soganub menjabat vikaris jenderal Marawi ketika dia diculik oleh kawanan peria bersenjata bersama dengan beberapa umat paroki lainnya pada 23 Mei 2017.

Dia dibebaskan setelah hampir empat bulan di kota Marawi yang terkepung beberapa jam setelah pertempuran mematikan antara tentara Filipina dan militan sekutu ISIS.

Setahun setelah penculikannya, Pastor Soganub mengakui bahwa selama empat bulan cobaan di tangan teroris yang terafiliasi dengan ISIS, ia memeluk Islam dan mengumpulkan amunisi untuk mereka.

“Saya tawanan,” kata pastor. “Saya tidak takut mati, tetapi saya takut menderita,” katanya beberapa hari sebelum peringatan pertama serangan itu.

- Newsletter -

Dia mengaku merasakan “ketidakpastian” meskipun diberitahu bahwa dia tidak akan dibunuh. “Saya tidak tahu apa yang akan terjadi,” katanya, menambahkan bahwa selama waktu itu satu-satunya yang dia pikirkan adalah agar tetap hidup.

Pastor Soganub mengatakan bahkan bahkan ada satu titik selama masa-masa sulit itu bahwa ia meragukan imannya dan mempertanyakan kebijaksanaan Tuhan.

“Saya marah kepada Tuhan karena menempatkan saya dalam situasi yang begitu mengerikan. Namun, iman saya kepada Tuhan tidak luntur. Bahkan itu menjadi lebih dalam, ”katanya.

“Saya berdoa lebih cepat daripada biasanya karena maut menatap lurus ke wajah kita. Kapan saja, bom atau peluru bisa mengenai siapa pun dari kita selama pertempuran sengit antara kedua belah pihak, ”tambah imam itu.

Selama ditahan, Pastor Soganub dipaksa untuk menghadiri kuliah tentang tujuan teroris. Dia segera mengetahui penculiknya yang mengaku sebagai anggota ISIS.

Ketika salah satu teroris meninggal, pastor itu mengatakan dia merasa sedih. “Kita tidak bisa menghindari rasa kemanusiaan kita bahkan ketika musuh mati. Kita melampaui tawanan dan penculik, ”katanya.

Doa menjadi tempat perlindungan imam itu selama cobaannya. Dia berdoa kepada Perawan Maria, dia berdoa kepada Yesus, dia berdoa kepada Tuhan. Dia berdoa memohon bimbingan bagaimana cara melarikan diri.

Suatu hari, dia memiliki kesempatan untuk melarikan diri. “Tidak ada yang membantu saya,” kata imam itu. Dia bersama seorang koster yang juga dibawa oleh orang-orang bersenjata.

Dengan pistol di tangannya dan tahu bahwa pasukan pemerintah ada di dekatnya, Pastor Soganub dan koster itu melarikan diri tengah malam.

Pastor itu berhasil selamat, tetapi koster tidak.

Pastor Teresito Soganub mengunjungi kediaman uskup di Marawi pada Juli 2019. (Foto oleh Richelieu Umel)

Setahun setelah cobaan itu, Pastor Soganub mengakui bahwa ia akan bangun tengah malam bahkan dengan suara sekecil apa pun.

Dia menghindari bertemu orang dan banyak berdoa. “Jika sulit untuk membangun kembali sebuah bangunan, bagaiman dengan manusia? Sangat sulit untuk membangun kembali batin seseorang, ”katanya.

Pastor Soganub mengatakan sulit untuk melupakan bom yang meledak berkali-kali di sekitarnya, saat-saat ketika kematian itu begitu nyata, saat-saat bahkan ketika dia tidak bisa merasakan ketakutan karena kematian lebih disukai daripada penderitaan.

Dia mengatakan masih ada kemarahan di dalam hatinya, “tetapi saya adalah seorang Kristen dan seorang imam.”

“Saya masih percaya bahwa cara Kristen adalah cara cinta, dan pengampunan adalah bagian darinya,” katanya.

Dalam beberapa bulan terakhir, imam itu menghabiskan waktunya berkeliling negaranya untuk mendorong dialog antar-agama dan pemahaman antara orang Kristen dan Muslim.

Keterlibatannya dalam berbagai pembicaraan adalah caranya untuk berterima kasih kepada mereka yang berdoa untuk  keselamatannya.

“Saya sangat tersentuh oleh banyak orang yang datang kepada saya dan memberi tahu saya bahwa mereka berdoa untuk keselamatan saya,” katanya.

Pastor Suganub  melayani 23 tahun sebagai imam di Prelatur Marawi sebagai vikjen dan sebagai kapelan Katolik di Universitas Negeri Mindanao di Marawi.

Konflik Marawi tahun 2017 berlanjut hingga lima bulan, di mana pemerintah mengumumkan darurat militer di seluruh wilayah Mindanao, Filipina selatan.

Konflik mengakibatkan kematian lebih dari seribu orang, sebagian besar dari kelompok teroris bersenjata, dan menyebabkan sekitar 400.000 penduduk mengungsi.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest