Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Pimpinan tarekat religius Filipina desak semua pihak hentikan perusakan lingkungan

Pimpinan tarekat religius Filipina desak semua pihak hentikan perusakan lingkungan

Asosiasi Pimpinan Tarekat Religius Filipina (AMRSP) meminta pemimpin pemerintahan dan pemimpin bisnis untuk menghentikan “praktik merusak” dan menanggapi seruan untuk melindungi lingkungan.

Dalam sebuah pernyataan pada 31 Agustus, para pemimpin tarekat religius di negara itu mengatakan bahwa setelah pandemi “tidak bisa kembali lagi” pada aktivitas manusia sebelumnya yang sangat berdampak pada keanekaragaman hayati.

Mereka mengatakan pemerintah dan bisnis “harus menghentikan praktik destruktif seperti penggunaan energi tak terbarukan, pertambangan, penebangan yang menyebabkan hutan gundul, industri pertanian dan perikanan, industri produksi makanan dan barang-barang konsumsi yang mengancam satwa liar dan hak-hak alam.”


Para pemimpin tarekat juga meminta pemerintah untuk mengambil langkah lebih berani untuk mencegah perang dan mendesak negara-negara untuk mengakhiri perlombaan senjata nuklir.

Mereka mengatakan pandemi telah memaksa manusia untuk “meminimalkan” kegiatan dan telah “membungkam industri besar” yang memungkinkan bumi untuk “berkembang”.

Asosiasi tersebut mengatakan bahwa krisis kesehatan global juga membawa manusia kembali pada makna konsep Paus Fransiskus tentang ‘Rumah Bersama’ dan manusia sebagai satu keluarga.

Para pemimpin Gereja mengatakan perubahan iklim, yang disebabkan oleh invasi manusia terhadap keanekaragaman hayati, telah memengaruhi kesehatan bumi dan manusia.

- Newsletter -

“Dunia yang sakit menunjukkan masyarakat yang sakit,” bunyi  pernyataan AMRSP, dan menambahkan bahwa negara itu tidak luput dari pandemi virus corona.

Namun para pemimpin tarekat mengatakan bahwa dunia “juga memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang solidaritas global” untuk secara kolektif menangani ancaman krisis iklim terhadap kesehatan dunia.

Mereka mengatakan dengan orang miskin dan rentan menjadi yang paling terpukul selama bencana alam dan pandemi, maka tidak ada jalan lagi untuk kembali pada apa yang dianggap normal.

Organisasi para pemimpin tarekat itu mendesak “setiap orang yang hidup di bumi ini untuk mendengarkan jeritan alam dan mengubah dan mengembangkan gaya hidup non-konsumeris.”

“Kembangkan bentuk baru sistem sosial ekonomi dan politik yang mendorong kesetaraan dan perdamaian yang adil. Sistem yang melindungi kesehatan lingkungan dan masyarakat, ”bunyi pernyataan itu.

Pastor Angel Cortez, sekretaris eksekutif AMRSP, mengajak umat beriman untuk merangkul cara hidup normal yang lebih baik.

Dia mengatakan Masa Penciptaan, yang akan dimulai pada 1 September, “mendorong kita untuk melakukan tindakan ekologis pribadi yang dapat menjadi awal dari perubahan yang lebih besar yang dibutuhkan bumi.”

Masa Penciptaan adalah peringatan liturgi Santo Fransiskus dari Assisi, pelindung ekologi, yang berlangsung dari 1 September hingga 4 Oktober.

Masa Penciptaan tahun 2020 di Filipina diperpanjang hingga 11 Oktober sehubungan dengan perayaan tahunan Hari Minggu Masyarakat Adat.

Gereja Katolik Filipina pada tahun 2020 merayakan “Tahun Ekumenisme, Dialog Antaragama, dan Masyarakat Adat”.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest