Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kardinal Bo minta warga Myanmar memilih orang yang tepat pada pemilu mendatang

Kardinal Bo minta warga Myanmar memilih orang yang tepat pada pemilu mendatang

Uskup Agung Yangon, Kardinal Charles Maung Bo, meminta warga Myanmar untuk membuat pilihan yang tepat dan mendorong perdamaian dalam pemilihan umum nasional mendatang.

Pemimpin gereja Katolik itu mendesak masyarakat untuk menggunakan “hak pilih dan tugas suci” yang mereka miliki sejak lahir untuk memberikan suara pada bulan November sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju demokrasi.

“Saya mendorong semua orang untuk memastikan bahwa nama Anda ada dalam daftar pemilih dan Anda ada di bilik suara pada hari pemilihan itu,” kata prelatus itu dalam surat pada 1 September.




“Partisipasi aktif warga negara sangat penting dalam demokrasi apa pun,” kata kardinal.

Dia menekankan bahwa membuat suaranya didengarkan saat pemilu adalah “satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian yang tahan lama”.

“Agama-agama besar kita mendorong prinsip perdamaian, saya mendorong Anda, memilih perdamaian,” katanya, dan menambahkan bahwa “berkembangnya demokrasi yang kuat adalah satu-satunya harapan bagi negara yang “berdarah akibat konflik persaudaraan. ”

“Sebagai putra dan putri dari bangsa emas yang besar ini, kita pantas mendapatkan kedamaian,” katanya.

- Newsletter -

Kardinal Bo mengatakan konflik bersenjata di negara itu “telah membunuh ribuan” orang dan membuat ribuan lainnya mengungsi.

Dia mengatakan “era kegelapan harus diakhiri” dan menambahkan bahwa tidak ada yang pernah memenangkan perang di Myanmar.

Prelatus itu mendesak masyarakat untuk tidak membiarkan kemiskinan menghalangi mereka untuk berpartisipasi dalam pemilihan karena demokrasi “memberdayakan yang lemah dan yang rentan.”

“Untuk partisipasi nyata dari orang miskin dalam kekuasaan, pemilihan umum sangat penting,” kata kardinal dan meminta masyarakat untuk memilih partai yang punya komitmen untuk mensejahterakan orang miskin.

Dia mengingatkan warga Myanmar bahwa perdamaian “tidak akan tercapai sampai sumber daya negara ini dinikmai oleh semua orang, terutama bagi masyarakat miskin dan marjinal.”

Pemimpin gereja Katolik itu mendesak para pemilih untuk menilai kandidat pilihan mereka dan “tidak memilih penjarah dan kroni yang merusak semua sumber daya kita dan yang membuat kita miskin”.

Uskup Agung Yangon Kardinal Charles Maung Bo. (Foto milik Radio Veritas Asia)

Kardinal Bo mengatakan bahwa publik harus bisa mengidentifikasi “pedagang kebencian yang menyamar sebagai pelindung agama dan ras”.

“Komunitas dan kepedulian terhadap kebaikan bersama adalah poros di mana demokrasi berputar. Kebencian komunal dan mencari kambing hitam menjadi alat pendulang suara yang kuat,” katanya.
Prelatus itu menekankan bahwa dunia telah menyatakan kengerian mereka atas manipulasi oleh para pedagang kebencian di negara itu.

“Orang-orang ini berkolusi dengan para penjarah bangsa kita, bukan penjaga negara. Ketahuilah siapa mereka dan kirim mereka ke sampah sejarah,” kata prelatus itu.

Kardinal Bo juga mengecam kelompok “pendukung mafia asing” yang bersaing untuk pemilihan. Dia mengatakan orang-orang harus menghindari mereka yang dia sebut “orang tidak patriotik.”

“Caritahu identitas mereka. Mereka tidak akan menjadi bagian dari demokrasi manapun, ”katanya.

Prelatus itu mendesak setiap orang untuk “berinvestasi dalam pembangunan manusia,” dan menambahkan bahwa “calon yang memiliki rencana yang jelas untuk pembangunan manusia” harus dipilih.

Dia mencatat bahwa rezim sebelumnya secara sadis menyangkal perkembangan rakyat Myanmar, membuat negara yang dulunya kaya ini menjadi negara yang kurang berkembang.

Dia mengatakan “masa depan yang kaya” menunggu negara itu jika “bonus demografis” dipelihara dan kaum muda akan diberi kesempatan untuk didengarkan.

Dia mengatakan para pemimpin masa depan negara harus menegaskan pembangunan manusia sebagai hak fundamental dan pemilih harus mencari “integritas bukan hanya kecerdasan.”




Kardinal mengatakan negara membutuhkan pemimpin yang “menanamkan nilai-nilai kejujuran, integritas, akuntabilitas, dan transparansi.”

“Myanmar memiliki banyak pemimpin yang cukup kuat. Sudah waktunya untuk mendapatkan pemimpin yang melayani, ”kata prelatus itu.

Kardinal Bo mengatakan Myanmar harus memilih para pemimpin yang bisa “melawan berbagai pandemi.” Dia mengatakan pandemi virus corona telah “menunjukkan bagaimana pemerintah yang memiliki tekad yang kuat dapat mengurangi kerusakan akibat virus ini.

“Orang Myanmar telah menderita karena pandemi lain,  pandemi kelaparan, pandemi konflik dan pengungsian, pandemi migrasi yang tidak aman, pandemi pendidikan berkualitas rendah,” katanya.

Prelatus itu mendesak semua orang untuk bisa “menghasilkan pejuang yang bisa melawan semua pandemi ini” dalam pemilihan mendatang.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest