Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Film Mulan menuai hujatan karena dibuat di Xinjiang

Film Mulan menuai hujatan karena dibuat di Xinjiang

Film baru Disney, Mulan, menuai kritik karena pembuatannya di wilayah Xinjiang, di mana pemerintah Tiongkok dilaporkan menahan lebih dari satu juta orang, kebanyakan orang Uighur.

Dalam bagian akhir film tersebut, Disney berterima kasih kepada pihak berwenang di wilayah Xinjiang, termasuk biro keamanan publik di kota Turpan dan departemen publikasi Komite Wilayah Otonomi Xinjiang Uighur di bawah Partai Komunis Cina.

Departemen publikasi partai komunis bertanggung jawab atas produksi propaganda negara di wilayah tersebut.




Dalam sebuah laporan BBC, pakar Tiongkok Adrian Zenz mengatakan biro keamanan publik di Turpan bertugas menjalankan kamp pendidikan ulang di wilayah di mana Uighur dan Muslim Turki lainnya ditahan.

Zenz menuduh Disney “mengambil keuntungan dari bayang-bayang kamp konsentrasi”.

Dalam sebuah unggahn Twitter, Kongres Uighur Dunia mengatakan Disney mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada lembaga pemerintah yang telah “terlibat dalam kamp-kamp interniran di Turkistan Timur.”

Aktivis mahasiswa Shawn Zhang, yang mengekspos Xinjiang dengan menggunakan Google Earth, mengunggah bahwa jika kru film Mulan “tiba di bandara Turpan, dan mengambil jalan raya G312 ke gurun Shanshan tempat mereka merekam, mereka dapat melihat setidaknya tujuh kamp pendidikan ulang.”

Foto yang diambil pada 2 Juni 2019 ini menunjukkan fasilitas yang diyakini sebagai kamp pendidikan ulang di mana sebagian besar etnis minoritas Muslim ditahan di Artux, sebelah utara Kashgar di wilayah Xinjiang, Tiongkok. (Foto oleh Greg Baker/AFP)
- Newsletter -

Turpan diduga sebagai lokasi kamp pendidikan ulang pertama.

“Berapa ribu orang Uighur yang dimasukkan ke dalam kamp oleh Biro Keamanan Publik Turpan saat merekam Mulan di sana?” kata Zhang.

Biro keamanan publik

Zenz mengatakan biro keamanan publik juga bertanggung jawab untuk mengelola pembangunan kamp dan mempekerjakan polisi untuk menjadi staf mereka.

Dia mengatakan bukti paling awal dari “pendidikan ulang” orang Uighur di Turpan adalah dari Agustus 2013.

Pada bulan Juni, Zenz merilis sebuah laporan yang mengungkapkan bahwa Tiongkok memaksa wanita Uighur untuk disterilkan atau dilengkapi dengan alat kontrasepsi, sebuah laporan yang kemudian dibantah oleh Beijing.

Mulan adalah remake dari film animasi tahun 1998 tentang seorang gadis muda Tionghoa yang melawan norma sosial untuk bergabung dengan tentara kekaisaran.

Para pengunjuk rasa menghadiri aksi menentang peluncuran film Disney ‘Mulan’ di luar kantor perusahaan itu di Gangnam, Seoul pada 1 Juli, sebagai solidaritas dengan protes pro-demokrasi Hong Kong. (Foto oleh Ed Jones/AFP)

Sebelum dirilis, film tersebut menjadi kontroversial karena aktris Liu Yifei menyatakan dukungannya kepada polisi Hong Kong yang melakukan kekerasan selama puncak protes pro-demokrasi.

“Saya mendukung polisi Hong Kong. Anda semua bisa menyerang saya sekarang. Sungguh memalukan bagi Hong Kong,” kata aktris itu dalam unggahan media sosialnya.

Aktivis terkemuka Hong Kong, Joshua Wong, meminta masyarakat “yang percaya pada hak asasi manusia untuk memboikot” film tersebut setelah pernyataan Liu.

Aktivis dan pembela hak asasi dari negara-negara Asia lainnya juga menyuarakan hal serupa untuk memboikot film baru tersebut.

Pekan lalu, Wong mengatakan orang-orang yang menonton Mulan “berpotensi terlibat dalam penahanan massal Muslim Uighur.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest