Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Dukung aksi damai, Paus Fransiskus minta pemerintah dengarkan suara rakyat

Dukung aksi damai, Paus Fransiskus minta pemerintah dengarkan suara rakyat

Paus Fransiskus mengimbau pemerintah di seluruh dunia untuk mendengarkan suara rakyat yang melakukan aksi protes di berbagai negara dalam beberapa pekan terakhir.

Dalam pidatonya setelah Angelus pada 13 September, paus menyebut adanya “peningkatan kegelisahan masyarakat sipil dalam menghadapi situasi politik dan sosial yang kritis” saat ini.

Dia mengimbau para demonstran “untuk menyampaikan tuntutan mereka secara damai, dan tidak mudah tergoda untuk melakukan agresi dan kekerasan.”



Paus juga mengimbau kepada semua orang yang memiliki tanggung jawab publik dan pemerintah untuk mendengarkan suara rakyat mereka dan untuk memenuhi aspirasi mereka secara adil.

Dia mendesak mereka yang berkuasa untuk memastikan “penghormatan penuh terhadap hak asasi manusia dan kebebasan sipil.”

Paus Fransiskus juga meminta “komunitas gerejawi” di wilayah protes “untuk melakukan dan selalu mendukung dialog, dan mendukung rekonsiliasi,” dan menambahkan bahwa Gereja harus berbicara tentang pengampunan dan rekonsiliasi.

Paus Fransiskus sebelumnya merenungkan bacaan Injil hari itu yang mengingatkan umat beriman bahwa meminta pengampunan Tuhan membutuhkan pengampunan kepada orang lain juga.

- Newsletter -

Bacaan Injil hari Minggu adalah tentang seorang hamba yang meminta majikannya untuk mengampuni hutangnya yang sangat besar, tetapi ternyata bersikap kejam terhadap rekannya yang berhutang kepadanya dengan jumlah yang tidak seberapa.

Paus mengatakan perumpamaan itu menunjukkan dua sikap yang berbeda: Tuhan yang selalu mengampuni dan sikap pribadi manusia.

“Sikap Allah adalah keadilan yang dipenuhi dengan belas kasihan, sedangkan sikap manusia terbatas pada keadilan,” kata paus.

“Yesus menasihati kita untuk membuka diri dengan keberanian pada kekuatan pengampunan, karena dalam hidup tidak semuanya bisa diselesaikan dengan keadilan,” katanya.

Paus menekankan perlunya “cinta yang penuh belas kasihan” yang menurutnya adalah dasar dari jawaban Kristus kepada Petrus, ketika Petrus bertanya kepada Yesus seberapa sering ia harus mengampuni orang lain.

Paus Fransiskus mengingatkan umat beriman bahwa Yesus mengajar umat manusia untuk mengampuni “bukan tujuh kali, tetapi tujuh puluh tujuh kali.”

“Dalam bahasa simbolis Alkitab ini berarti bahwa kita dipanggil untuk selalu mengampuni,” katanya.

“Banyak penderitaan, banyak luka, dan banyak perang yang bisa dihindari jika pengampunan dan belas kasihan menjadi gaya hidup kita,” kata paus.

Paus juga menyebut banyak keluarga yang terpecah belah karena mereka “tidak tahu bagaimana cara memaafkan satu sama lain.”

“Penting untuk menerapkan cinta dan belas kasih pada semua hubungan manusia: antara pasangan, antara orang tua dan anak-anak, dalam komunitas kita, dalam Gereja dan juga dalam masyarakat dan politik,” kata paus.

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest