Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Rentetan pembunuhan telah mengguncang Gereja, kata uskup Filipina

Rentetan pembunuhan telah mengguncang Gereja, kata uskup Filipina

Seorang uskup Katolik di Filipina tengah mengatakan rentetan pembunuhan yang terjadi di negara itu dalam beberapa tahun terakhir dan meningkatnya kasus pelanggaran hak asasi manusia telah mengguncang Gereja sehingga terus menyuarakan kekhawatiran.

“Seruan untuk keadilan dan solidaritas muncul dari mereka yang tertimpa beban berat,” kata Uskup San Carlos Mgr Gerardo Alminaza dalam forum online minggu lalu.

“Suara-suara itu menggema di desa-desa di mana keluarga meratapi pembunuhan di luar hukum dan berduka atas kehilangan orang yang mereka cintai,” tambah prelatus itu.


Dia mengatakan Gereja telah “melihat air mata warga yang berduka atas pembunuhan yang merajalela.”

Uskup Alminaza mencatat bahwa di keuskupannya di pulau Negros di Filipina tengah, sekitar seratus aktivis politik dan pembela hak asasi manusia, termasuk pekerja gereja, telah dibunuh dalam dua tahun terakhir.

Kelompok hak asasi manusia Karapatan sebelumnya melaporkan bahwa setidaknya 328 kasus pembunuhan politik terjadi di negara itu dari Juli 2016 hingga Agustus 2020.“

Jumlahnya meningkat secara dramatis jika kita memasukkan pembunuhan terkait narkoba, eksekusi cepat, dan kontak senjata,” kata Uskup Alminaza.

- Newsletter -

Kelompok hak asasi manusia mengklaim bahwa lebih dari 30.000 orang yang tewas dalam “perang melawan narkoba” oleh pemerintah sejak 2016.

Uskup Alminaza mengutip pembunuhan Zara Alvarez, seorang pekerja gereja dan aktivis hak asasi manusia, yang ditembak mati oleh orang tak dikenal pada 17 Agustus.

“Kasus Zara menjelaskan pengalaman nyata eksploitasi yang dialami oleh pekerja lapangan yang bekerja keras dan petani yang tidak memiliki tanah kepada orang-orang di seluruh negera itu dan dunia,” katanya.

“Saya masih tidak bisa memahami kejahatan yang harus merenggut nyawa wanita yang rajin dan penuh kasih saat dia memberikan dirinya sendiri tanpa syarat untuk pelayanan penyembuhan bagi mereka yang menderita,” tambahnya.

Prelatus itu menggambarkan kematian orang-orang yang bekerja dan memperjuangkan hak dan kesejahteraan rakyat sebagai “kerugian besar dan kepedihan yang mengguncang dunia”

Uskup San Carlos Mgr. Gerardo Alminaza. (Foto oleh Mark Saludes)

Membuat suara lebih keras dan didengar

Uskup itu memuji upaya komunitas gereja internasional untuk menekan Perserikatan Bangsa-Bangsa agar segera bertindak atas situasi hak asasi manusia yang memburuk di Filipina.

“Saya tidak memikirkan hal yang lebih penting lainnya selain memanggil saudara-saudara dalam Kristus dari negara lain untuk menemani umat kita di tengah krisis hak asasi manusia ini,” katanya.

Pada 17 September, beberapa organisasi dan lembaga gereja internasional telah meminta Dewan Hak Asasi Manusia PBB untuk melakukan penyelidikan atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia di Filipina.

Dalam sebuah pernyataan, kelompok tersebut mengatakan bahwa mereka mendukung rakyat Filipina terkait dengan situasi kebebasan sipil dan hak asasi manusia yang memburuk di negara mereka.

Kelompok-kelompok itu menyuarakan keperihatinan mereka atas “pembunuhan yang mengganggu, pelanggaran hak asasi manusia, dan serangan terhadap kebebasan sipil” di negara tersebut.

Uskup Alminaza mengatakan lembaga Gereja “melakukan apa yang bisa lakukan untuk menjadi tubuh Kristus bagi umat kita.”

“Upaya-upaya Anda di berbagai negara dapat membuat perbedaan besar dalam membawa potensi mekanisme internasional, seperti yang dilakukan Perserikatan Bangsa-Bangsa, ke tindakan konkret,” katanya.

Uskup itu mendesak umat Kristiani untuk menanggapi “suara Gereja yang terus menerus yang memperkuat tangisan para petani, pekerja, masyarakat adat, migran, perempuan, dan pemuda yang berjuang”.

Dia mendorong publik untuk “menarik pelajaran dan menemukan kekuatan” dalam tangisan rakyat Filipina dan “menolak kegelapan yang mengancam negara.”

“Dalam menjalin persahabatan dan solidaritas yang tulus, Tuhan pasti membuat keajaiban dan belas kasih nyata di tengah-tengah kita,” katanya.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support Our Mission

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest