Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Dekrit Paus Fransiskus berikan lebih banyak peran bagi wanita dalam Gereja

Dekrit Paus Fransiskus berikan lebih banyak peran bagi wanita dalam Gereja

Paus Fransiskus dalam upaya kesetaraan gender dalam Gereja mengeluarkan dekrit yang memungkinkan wanita untuk melayani sebagai lektor saat liturgi, sebagai akolit, dan pemberi komuni.

Melalui keputusan itu paus meresmikan apa yang sudah dijalankan di berbagai negara selama bertahun-tahun. Tetapi dengan perubahan dalam Kitab Hukum Kanonik, para uskup yang konservatif tidak bisa menghalangi perempuan di keuskupan mereka untuk menjalankan peran-peran tersebut.

Akan tetapi Vatikan menekankan bahwa peran tersebut “pada dasarnya berbeda dari pelayanan mereka yang ditahbiskan” dan bukan pula menjadi pembuka jalan bagi wanita bahwa suatu hari akan diizinkan untuk ditahbiskan menjadi imam.

Dalam dekrit “Spiritus Domini” (Roh Tuhan), Paus Fransiskus mengatakan keputusannya itu telah melalui refleksi teologis.

Dalam surat yang menyertainya, paus mengatakan dia ingin membawa “stabilitas, pengakuan publik” kepada wanita yang sudah menjalankan perannya.

Dekrit paus itu mengubah paragraf pertama Kanon 230 dari Kitab Hukum Kanonik dan menetapkan bahwa wanita dapat memiliki akses ke pelayanan dan bahwa ini diakui melalui tindakan liturgis yang secara resmi melembagakannya.

“Perkembangan doktrinal telah dicapai dalam beberapa tahun terakhir yang telah menjelaskan bagaimana pelayanan tertentu yang dilembagakan oleh Gereja memiliki syarat umum dasar sudah dibaptis dan imamat kerajaan diterima dalam Sakramen Pembaptisan,” kata paus.

- Newsletter -

Rumusan baru kanon berbunyi: “Orang awam yang memiliki usia dan kualifikasi yang ditetapkan melalui keputusan konferensi para uskup dapat diterima secara tetap melalui ritus liturgi yang ditentukan untuk pelayanan lektor dan pelayan altar.”

Oleh karena itu spesifikasi “orang awam” yang memenuhi syarat awam dan ada dalam Kanon sampai perubahan hari ini dihapus.

Seorang lektor wanita membacakan bacaan dalam Misa di Gereja San Felipe Neri di Kota Mandaluyong, Filipina, 8 April 2020. (Foto oleh Jire Carreon)

Dalam surat kepada Prefek Kongregasi Doktrin Iman, Paus Fransiskus menjelaskan motivasi teologis di balik keputusannya.

“Dalam spektrum pembaruan yang dengungkan oleh Konsili Vatikan II, urgensinya semakin terasa hari ini untuk menemukan kembali tanggung jawab bersama dari semua orang yang dibaptis dalam Gereja, dan misi kaum awam dengan cara tertentu.”

Mengutip Dokumen Akhir Sinode Wilayah Pan-Amazon, paus mengatakan bahwa “sehubungan dengan seluruh Gereja, dalam berbagai situasi, sangat mendesak agar pelayanan bagi pria dan wanita dipromosikan dan dianugerahkan.”

Paus mengatakan bahwa Gereja yang “terdiri dari pria dan wanita yang dibaptislah yang harus kita konsolidasi, mempromosikan bentuk-bentuk pelayanan dan, di atas segalanya, kesadaran akan martabat pembaptisan.”

Dalam suratnya, paus mengulangi kata-kata Santo Yohanes Paulus II bahwa “terkait pelayan yang ditahbiskan, Gereja tidak memiliki kekuasaan dalam cara apa pun untuk memberikan penahbisan imamat kepada wanita.”

Paus Fransiskus menambahkan bahwa “berkenaan dengan pelayanan yang tidak ditahbiskan, adalah mungkin, dan saat ini tampaknya tepat, untuk mengatasi keterbatasan itu.”

Ia menjelaskan bahwa “menganugerahkan kepada awam pria dan wanita kemungkinan untuk jabatan Akolit  dan Lektor, berdasarkan partisipasi mereka dalam imamat yang dibaptis, kesadaran akan tumbuh melalui tindakan liturgi, juga  kontribusi berharga yang telah ditawarkan oleh banyak orang awam, termasuk wanita, sejak lama bagi kehidupan dan misi Gereja.”

“Keputusan untuk menganugerahkan jabatan ini kepada wanita, yang sifatnya stabil, pengakuan publik dan mandat dari uskup akan membuat partisipasi semua orang lebih efektif dalam karya evangelisasi,” kata Paus.

A lay woman reads at Mass in the Casa Santa Marta on February 4, 2020. (Photo courtesy of Vatican Media)

Realitas pastoral
“Pergeseran ini membawa Gereja institusional sejalan dengan realitas pastoral di seluruh dunia,” kata Kate McElwee, direktur eksekutif Konferensi Tahbisan Wanita, yang mendorong penahbisan wanita.
Dalam perubahan besar Agustus lalu, paus menunjuk enam wanita, termasuk mantan bendahara Pangeran Charles di Inggris, untuk jabatan senior di dewan yang mengawasi keuangan Vatikan.

Paus Fransiskus telah menunjuk wanita sebagai wakil menteri luar negeri, direktur Museum Vatikan, dan wakil kepala Kantor Pers Vatikan, serta empat wanita lainnya sebagai anggota dewan Sinode Para Uskup, yang mempersiapkan pertemuan-pertemuan besar.

Ia juga telah membentuk komisi untuk mempelajari sejarah diakon wanita pada abad-abad awal Gereja Katolik, sebagai tanggapan terhadap seruan para wanita agar mereka diizinkan untuk mengambil peran saat ini.

Para pendukung diakonat perempuan berharap hal itu bisa mengarah pada imam perempuan.

Diakon, seperti halnya imam, ditahbiskan sebagai pelayan, dan  imamat saat ini dalam Gereja haruslah pria.

Mereka mungkin tidak merayakan Misa, tetapi mereka dapat memberikan khotbah, mengajar atas nama Gereja, membaptis dan mengadakan pernikahan, kebaktian pemakaman dan bahkan menjalankan paroki dengan izin dari seorang uskup.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest