Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Ketegangan meningkat, para uskup Katolik Myanmar serukan dialog

Ketegangan meningkat, para uskup Katolik Myanmar serukan dialog

Pemimpin Gereja Katolik di Myanmar menyerukan  agar semua pihak untuk menahan diri dan kembali berdialog untuk mengatasi  ketegangan yang terus meningkat di negara itu pekan ini.

“Dengan doa yang tulus, kami memohon kepada semua pemangku kepentingan, kembali berdialog,” bunyi pernyataan yang dikeluarkan oleh Konferensi Waligereja Myanmar pada 21 Februari.

“Sebagai negara yang terkenal dengan mata air spiritual yang murni, mari kita mendedikasikan energi kita untuk rekonsiliasi,” kata pernyataan itu dan menambahkan bahwa “penyembuhan perlu dimulai dengan membebaskan para pemimpin yang ditahan.”



Para tokoh gereja mengatakan bahwa permohonan itu disampaikan “terutama kepada mereka yang berkuasa … di tengah kesedihan dan rasa sakit yang dalam karena menyaksikan banyak pertumpahan darah di jalanan.”

“Peristiwa yang menyedihkan dan mengejutkan baru-baru ini telah membawa kesedihan yang besar bagi bangsa kita,” tambah para uskup.

Sedikitnya tiga pengunjuk rasa telah terbunuh dalam demonstrasi, dan militer mengatakan satu polisi tewas karena terluka dalam protes yang dimulai setelah kudeta 1 Februari.

Pernyataan itu ditandatangani oleh 16 uskup Katolik yang dipimpin oleh Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, presiden Konferensi Waligereja Myanmar.

- Newsletter -

Kardinal itu mengatakan “pemandangan memilukan di mana orang muda sekarat di jalanan sangat melukai hati nurani bangsa.”

“Bangsa ini memiliki reputasi sebagai negeri emas. Janganlah biarkan tanah sucinya dibasahi darah saudara kita sendiri,” tambahnya.

“Kesedihan orang tua saat mengubur anak-anak mereka harus dihentikan. Air mata ibu tidak pernah menjadi berkat bagi bangsa mana pun,” kata para uskup.

Mereka mengatakan “janji besar” tentang “perdamaian dan demokrasi yang kuat” setelah pemilihan umum nasional November lalu telah hilang.

“Hari ini dunia menangis bersama kita, sekali lagi dihancurkan oleh fragmentasi bangsa ini,” kata para uskup. “Kaum muda kita berhak mendapatkan yang lebih baik,” kata mereka.

“Jalan kekerasan ini harus segera dihentikan,” bunyi pernyataan mereka.

“Perdamaian akan menyembuhkan bangsa ini. Beri perdamaian kesempatan. Perdamaian bisa dicapai, perdamaian adalah satu-satunya cara,” kata mereka.

Dalam homilinya pada Misa pada 21 Februari, Kardinal Bo meminta umat beriman untuk berdoa dan berpuasa bagi negara.

“Ini saatnya untuk berdoa. Ini waktunya berpuasa. Ini adalah waktu pertobatan bagi kita semua di negeri ini,” kata Kardinal Bo.

“Biarkan merpati perdamaian kembali ke bangsa kita. Biarkan bangsa ini bangkit menjadi Myanmar baru yang damai dan sejahtera bagi semua. Biarkan pelangi perdamaian dan rekonsiliasi bangkit kembali,” ujarnya.

Tentara Myanmar merebut kekuasaan setelah menuduh terjadi kecurangan dalam pemilu 8 November yang dimenang secara mutlak oleh Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Suu Kyi. Mereka menahan Suu Kyi beserta sebagian besar pemimpin partai. Komisi pemilihan menolak tuduhan kecurangan itu.

Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik Myanmar mengatakan 640 orang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman sejak kudeta, termasuk mantan anggota pemerintah dan penentang pengambilalihan oleh militer.

Pada 22 Februari, bisnis di seluruh negara itu ditutup demi aksi mogok massal untuk menentang kudeta militer, meskipun ada ancaman dari pihak berwenang bahwa konfrontasi dapat menelan korban jiwa.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest