Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Inti pesan 'Urbi Et Orbi' Paus Fransiskus

Inti pesan ‘Urbi Et Orbi’ Paus Fransiskus

Saudara dan saudari terkasih, Salam Damai dan Bahagia Paskah! Hari ini, di seluruh dunia, pewartaan Gereja menggema: “Yesus, yang disalibkan, sudah bangkit seperti yang dikatakanNya. Haleluya! ”

Pesan Paskah tidak memberi kita ilusi atau mengungkapkan formula ajaib. Pesan Paskah tidak menunjuk pada pelarian dari situasi sulit yang kita alami. Pandemi masih terus menyebar, sementara krisis sosial dan ekonomi tetap buruk, terutama bagi masyarakat miskin. Meskipun demikian, dan ini memalukan, bahwa konflik bersenjata belum berakhir dan persenjataan militer diperkuat. Itulah skandal saat ini.

Di tengah realitas yang kompleks ini, pesan Paskah secara ringkas berbicara tentang peristiwa yang memberi kita harapan yang tidak mengecewakan: “Yesus yang disalibkan telah bangkit”. Paskah berbicara kepada kita bukan tentang malaikat atau hantu, tetapi tentang seorang pria, seorang pria dari darah dan daging, dengan wajah dan nama: Yesus. Injil bersaksi bahwa Yesus ini, yang disalibkan di bawah pimpinan Pontius Pilatus karena mengklaim dirinya adalah Kristus, Anak Allah, bangkit pada hari ketiga sesuai dengan Kitab Suci, seperti yang telah dinubuatkan kepada murid-muridNya.



The crucified Jesus, none other, has risen from the dead. God the Father raised Jesus, his Son, because he fully accomplished his saving will. Jesus took upon himself our weakness, our infirmities, even our death. He endured our sufferings and bore the weight of our sins. Because of this, God the Father exalted him and now Jesus Christ lives forever; he is the Lord.

The witnesses report an important detail: the risen Jesus bears the marks of the wounds in his hands, feet and side. These wounds are the everlasting seal of his love for us. All those who experience a painful trial in body or spirit can find refuge in these wounds and, through them, receive the grace of the hope that does not disappoint.

The risen Christ is hope for all who continue to suffer from the pandemic, both the sick and those who have lost a loved one. May the Lord give them comfort and sustain the valiant efforts of doctors and nurses. Everyone, especially the most vulnerable among us, requires assistance and has the right to have access to necessary care. This is even more evident in these times when all of us are called to combat the pandemic. Vaccines are an essential tool in this fight. I urge the entire international community, in a spirit of global responsibility, to commit to overcoming delays in the distribution of vaccines and to facilitate their distribution, especially in the poorest countries.

The crucified and risen Lord is comfort for those who have lost their jobs or experience serious economic difficulties and lack adequate social protection. May he inspire public authorities to act so that everyone, especially families in greatest need, will be offered the assistance needed for a decent standard of living. Sadly, the pandemic has dramatically increased the number of the poor and the despair of thousands of people.

Paus Fransiskus memimpin Misa Minggu Paskah di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 4 April. (Foto oleh Vatican Media/Reuters)
- Newsletter -

Yesus yang disalibkan telah bangkit dari kematian. Allah Bapa membangkitkan Yesus, Putra-Nya, karena Dia sepenuhnya memenuhi kehendak penyelamatannya. Yesus mengambil alih kelemahan kita, ketidakberdayaan kita, bahkan kematian kita. Dia menanggung penderitaan kita dan beban dosa kita. Karena itu, Allah Bapa meninggikanNya dan sekarang Yesus Kristus hidup selamanya. Dia adalah Tuhan.

Para saksi melaporkan hal-hal penting, bahwa Yesus yang bangkit menanggung bekas luka di tangan, kaki dan samping. Luka-luka ini adalah meterai kasih-Nya yang kekal bagi kita. Semua orang yang mengalami pencobaan yang menyakitkan dalam tubuh atau roh dapat menemukan perlindungan dalam luka-luka ini dan, melalui luka-luka itu, kita menerima rahmat pengharapan yang tidak akan mengecewakan.

Kristus yang bangkit adalah harapan bagi semua orang yang terus menderita karena pandemi, baik yang sakit maupun yang telah kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Semoga Tuhan memberi mereka penghiburan dan mendukung upaya-upaya luar biasa dari para dokter dan perawat. Setiap orang, terutama yang paling rentan di antara kita, membutuhkan bantuan dan memiliki akses ke perawatan yang diperlukan.

Bahkan menjadi lebih nyata di saat-saat ini ketika kita semua dipanggil untuk memerangi pandemi. Vaksin adalah alat penting dalam pertarungan ini. Saya mendesak seluruh komunitas internasional, dengan semangat tanggung jawab global, untuk berkomitmen mengatasi keterlambatan distribusi vaksin dan memfasilitasi distribusinya, terutama di negara-negara miskin.

Tuhan yang disalibkan dan bangkit adalah penghiburan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan atau mengalami kesulitan ekonomi yang serius dan tidak memiliki perlindungan sosial yang memadai. Semoga Tuhan yang bangkit menginspirasi otoritas publik untuk bertindak sehingga setiap orang, terutama keluarga yang sangat membutuhkan, diberikan bantuan yang dibutuhkan untuk standar hidup yang layak. Sayangnya, pandemi telah secara dramatis meningkatkan jumlah orang miskin dan keputusasaan ribuan orang.

“Orang-orang miskin harus mulai sekali lagi untuk berharap.” St Yohanes Paulus II mengucapkan kata-kata ini selama kunjungannya ke Haiti.

Justru kepada orang-orang Haiti yang tercinta inilah pikiran saya berubah hari ini. Saya mendorong mereka untuk tidak diliputi kesulitan, tetapi untuk melihat ke masa depan dengan penuh keyakinan dan harapan. Dan pikiran saya tertuju pada Anda, saudara-saudari warga Haiti yang terkasih. Saya dekat dengan Anda dan saya ingin penyelesaian yang pasti atas masalah Anda. Saudara dan saudari Haiti yang terkasih, saya berdoa untuk ini.

Yesus yang Bangkit juga merupakan harapan bagi semua orang muda yang terpaksa untuk waktu yang lama tidak bisa bersekolah atau kuliah, atau berkumpul bersama teman-teman mereka. Mengalami hubungan manusia nyata, bukan hanya hubungan virtual, adalah sesuatu yang dibutuhkan semua orang, terutama di zaman ketika karakter dan kepribadian seseorang sedang dibentuk.

Kita menyadarinya dengan jelas Jumat lalu, saat Jalan Salib yang ditulis oleh anak-anak. Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan kaum muda di seluruh dunia dan, saat ini, terutama kepada kaum muda Myanmar yang berkomitmen untuk mendukung demokrasi dan membuat suara mereka didengar dengan damai, karena mengetahui bahwa kebencian hanya dapat dihilangkan dengan cinta.

Semoga cahaya Yesus yang bangkit menjadi sumber kelahiran kembali bagi para migran yang melarikan diri dari perang dan kemiskinan ekstrem. Marilah kita melihat di wajah mereka wajah Tuhan yang babak belur dan menderita saat Dia berjalan di jalan menuju Kalvari. Semoga mereka tidak pernah kekurangan tanda-tanda solidaritas dan persaudaraan manusia yang konkret, sebuah janji kemenangan hidup atas kematian yang kita rayakan pada hari ini.

Saya berterima kasih kepada negara-negara yang dengan murah hati menerima orang-orang yang menderita dan mencari perlindungan. Khususnya Lebanon dan Yordania yang menerima banyak pengungsi yang melarikan diri dari konflik di Suriah.
Bagi rakyat Lebanon, yang sedang mengalami masa-masa sulit dan tidak pasti, semoga mereka mengalami penghiburan dari Tuhan yang Bangkit dan mendapatkan dukungan dari komunitas internasional dalam panggilan mereka untuk menjadi tanah perjumpaan, hidup berdampingan dan pluralisme.

Semoga Kristus, sumber perdamaian kita, mengakhiri konflik senjata di Suriah yang tercinta yang dilanda perang, di mana jutaan orang saat ini hidup dalam kondisi yang tidak manusiawi. Semoga kebisuan di Yaman dan pertikaian selama satu dekade di Libya segera berakhir. Semoga semua pihak yang terlibat berkomitmen secara efektif untuk mengakhiri konflik dan membiarkan orang-orang yang lelah karena perang dapat hidup dalam damai dan memulai rekonstruksi negara masing-masing.

Kebangkitan membawa kita ke Yerusalem. Di Yerusalem kita meminta Tuhan untuk memberikan perdamaian dan keamanan (Mz 122), sehingga kota itu dapat menerima panggilannya untuk menjadi tempat pertemuan di mana semua orang dapat melihat satu sama lain sebagai saudara dan saudari, dan di mana orang Israel dan Palestina akan menemukan kembali kekuatan dialog untuk mencapai solusi yang akan memungkinkan kedua negara itu hidup berdampingan dalam perdamaian dan kemakmuran.

Pada hari Paskah ini, pikiran saya juga kembali ke Irak, yang saya kunjungi bulan lalu. Saya berdoa semoga negara ini terus berjalan di jalan perdamaian dan dengan demikian memenuhi impian Tuhan bagi keluarga manusia yang ramah dan menyambut semua anaknya.

Semoga kuasa Tuhan yang bangkit menopang orang-orang Afrika yang melihat masa depan mereka dikompromikan oleh kekerasan internal dan terorisme internasional, terutama di Sahel dan Nigeria, serta di wilayah Tigray dan Cabo Delgado. Semoga upaya penyelesaian konflik secara damai terus berlanjut di sana, untuk menghormati hak asasi manusia dan kesucian hidup, melalui dialog persaudaraan dan konstruktif dalam semangat rekonsiliasi dan solidaritas sejati.

Perang dan kekerasan terus berlangsung di dunia! Semoga Tuhan, sumber kedamaian, membantu kita mengatasi pola pikir perang. Semoga Tuhan membebaskan tawanan konflik, terutama di timur Ukraina dan Nagorno-Karabakh, agar dapat kembali dengan selamat ke keluarga mereka, dan semoga Dia menginspirasi para pemimpin dunia untuk mengekang perlombaan untuk persenjataan baru.

Paus Fransiskus memimpin Misa Minggu Paskah di Basilika Santo Petrus di Vatikan, 4 April. (Foto: Vatican Media/ Reuters)

Hari ini, 4 April, adalah Hari Kesadaran Internasional melawan ranjau darat, yaitu perangkat berbahaya dan mengerikan yang membunuh atau melukai banyak orang yang tidak bersalah setiap tahun dan mencegah umat manusia untuk “berjalan bersama di jalan kehidupan tanpa takut akan ancaman kehancuran dan kematian! ” Dunia kita akan jauh lebih baik tanpa instrumen kematian ini!
Saudara-saudari terkasih, sekali lagi tahun ini, di berbagai tempat banyak orang Kristen merayakan Paskah di bawah pembatasan yang ketat dan kadang-kadang, sama sekali tidak bisa menghadiri perayaan liturgi. Kita berdoa agar pembatasan tersebut, serta semua pembatasan kebebasan beribadah dan beragama di seluruh dunia, dapat dicabut dan setiap orang diizinkan untuk berdoa dan memuji Tuhan dengan bebas.

Di tengahberbagai kesulitan yang kita hadapi, janganlah kita lupa bahwa kita telah disembuhkan oleh luka-luka Kristus (1 Pet 2:24). Dalam cahaya Yesus Yang Bangkit, penderitaan kita sekarang berubah wujud. Di mana ada kematian, sekarang di situ ada kehidupan. Di mana ada duka, di situ ada penghiburan. Dalam merangkul salib, Yesus memberikan makna pada penderitaan kita dan sekarang kita berdoa agar kesembuhan itu menyebar ke seluruh dunia. Selamat Paskah kepada kalian semua!

Ini adalah pesan ‘Urbi Et Orbi (untuk kota dan dunia) yang disampaikan Paus Fransiskus di Basilika Santo Petrus pada Minggu Paskah, 4 April.

Di bawah ini Anda dapat menyaksikan Misa Minggu Paskah yang dipimpin Paus Fransiskus di Altar Kursi Basilika Santo Petrus di di mana ia menyampaikan Urbi et Orbi.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest