Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kecam 'sikap predator' atas bumi, Paus Fransiskus serukan pendekatan ekologis baru

Kecam ‘sikap predator’ atas bumi, Paus Fransiskus serukan pendekatan ekologis baru

Paus Fransiskus menyerukan agar manusia segera mengakhiri sikapnya yang menganggap diri sebagai penguasa atas planet ini dan sumber dayanya

Paus Fransiskus mendesak agar ‘pendekatan ekologis baru” diambil terhadap lingkungan, dan mengecam “sikap predator” yang dimiliki manusia terhadap bumi ini.

Dalam pesan video pada hari Selasa, 25 Mei, Paus menyerukan diakhirinya pemikiran yang “membuat kita merasa bahwa kita adalah penguasa planet ini dan sumber dayanya.”

Paus mengatakan sikap seperti itu “memberi kita wewenang untuk menggunakan barang yang telah Tuhan berikan kepada kita secara tidak bertanggung jawab”.

Vatikan meluncurkan Platform Aksi Laudato si yang baru pada 25 Mei untuk menandai berakhirnya perayaan Tahun Laudato si’




Paus mengingatkan umat beriman akan panggilan “untuk menjaga bumi, yang merupakan rumah kita bersama,” dalam ensikliknya tentang lingkungan, Laudato si ‘ yang diterbitkan tahun 2015.

Dalam pesannya, Paus Fransiskus menekankan bahwa “rumah yang menampung kita” telah lama menderita akibat “luka yang ditimbulkan oleh sikap predator kita.”

Ia mengatakan pandemi saat ini telah mengungkapkan dengan terang benderang “jeritan alam dan tangisan orang miskin yang sangat menderita terkena dampaknya.”

Bapa Suci menekankan kembali bahwa “semuanya saling berhubungan dan saling bergantung, dan bahwa kesehatan kita tidak lepas dari kesehatan lingkungan tempat kita tinggal.”

- Newsletter -

Paus Fransiskus mengatakan pendekatan ekologis baru diperlukan untuk “mengubah cara kita tinggal di dunia, gaya hidup kita, hubungan kita dengan sumber daya bumi, dan secara umum, cara kita memandang manusia dan cara menjalani kehidupan.”

“Dunia seperti apa yang ingin kita wariskan untuk anak-anak kita dan generasi muda? Keegoisan kita, ketidakpedulian, dan cara kita yang tidak bertanggung jawab mengancam masa depan anak-anak kita,” kata paus.

Paus memperbarui seruannya untuk “merawat ibu bumi” dan untuk “mengatasi godaan keegoisan yang menjadikan kita pemangsa sumber daya di dalamnya.”

“Mari kita menumbuhkan rasa hormat terhadap anugerah Bumi dan ciptaan. Mari kita ciptakan gaya hidup dan masyarakat yang akhirnya ramah lingkungan,” kata paus.

Foto ini menampilkan pabrik yang sedang memuntahkan limbah industri. Paus Fransiskus mengatakan kita perlu mengistirahatkan lingkungan untuk meremajakannya kembali. (Foto oleh 24Novembers/Foto shutterstock.com)

“Kita masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan hari esok yang lebih baik untuk semua,” tambahnya.

Dalam pesan video tersebut, Paus Fransiskus mengatakan bahwa Platfom Aksi Laudato si akan menjadi “perjalanan selama tujuh tahun” yang akan membuat komunitas kita berkomitmen dalam berbagai cara, agar menjadi benar-benar berkelanjutan, dalam semangat ekologi integral.

Bapa Suci mengundang semua institusi Katolik, dari keluarga hingga universitas dan bisnis, untuk menjalankan kehidupan ekologis yang berkelanjutan dalam tujuh tahun ke depan.

Inisiatif ini akan memiliki kelompok fokus termasuk keluarga, paroki dan keuskupan, sekolah dan universitas, rumah sakit dan fasilitas perawatan kesehatan lainnya, bisnis, organisasi Katolik awam, dan tarekat imam dan biarawati.

Sejak Laudato si ‘(Puji Bagi-Mu) diterbitkan pada tahun 2015, berbagai kelompok baik Vatikan dan maupun kelompok Katolik -dalam Gereja yang beranggotakan 1,3 miliar umat di seluruh dunia- telah mengambil banyak inisiatif untuk mengurangi jejak karbon.

Vatikan, negara terkecil di dunia, hampir sama sekali tidak menggunakan plastik sekali pakai, mendaur ulang sebagian besar sampahnya, dan membuat kompos sendiri untuk kebunnya.

Paus Fransiskus sangat mendukung target kesepakatan Paris 2015 untuk mengurangi pemanasan global.

“Luka-luka (yang dialami planet bumi) menampakkan diri secara dramatis dalam krisis ekologi tanpa preseden, yang mempengaruhi tanah, udara, air dan, secara umum, ekosistem tempat manusia hidup,” kata paus dalam pesannya.

Kardinal Peter Turkson, kepala Dikasteri Vatikan untuk Pembangunan Manusia Seutuhnya mengatakan paus kemungkinan akan menghadiri Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP26) pada bulan November nanti di Glasgow, Skotlandia.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest