Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Gereja Filipina tetapkan Hari Doa khusus untuk perdamaian di Myanmar

Gereja Filipina tetapkan Hari Doa khusus untuk perdamaian di Myanmar

Para uskup meminta warga Filipina agar pada tanggal 30 Mei berdoa bagi orang-orang yang menderita di Myanmar, khususnya bagi Gereja di Myanmar

Konferensi Waligereja Filipina meminta semua keuskupan di negara itu untuk mempersembahkan Misa khusus bagi perdamaian di Myanmar pada akhir pekan ini.

Uskup Agung Davao Mgr Romulo Valles, presiden konferensi para uskup, telah menetapkan 30 Mei sebagai Hari Doa untuk warga Myanmar yang menderita dan khususnya bagi Gereja di Myanmar.

Hari itu bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus dan juga ditetapkan sebagai Hari Minggu Komunitas Basis oleh para uskup Filipina.




“Mari kita memohon kepada Tuhan agar kekerasan ini diakhiri dan agar semua orang yang berkepentingan dituntun untuk menciptakan perdamaian,” kata Uskup Agung Valles dalam surat edaran yang dirilis pada 26 Mei.

Imbauan uskup agung itu muncul setelah empat orang yang mencari perlindungan di sebuah gereja Katolik meninggal sementara banyak lainnya mengalami luka-luka ketika pasukan pemerintah menyerang sebuah desa di timur Myanmar.

Gereja Hati Kudus di Kayanthayar dekat Loikaw mengalami kerusakan parah akibat serangan pada tanggal 23 Mei, Minggu Pentakosta.

Sebelumnya para uskup Filipina menjanjikan kepada Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon doa dan solidaritas dengan warga Myanmar selama masa-masa sulit ini.

Awal pekan ini, Kardinal Bo kembali mengimbau agar agar kekerasan diakhiri menyusul peningkatan konflik antara militer Myanmar dan pasukan yang menentang kekuasaan militer dalam beberapa hari terakhir.

- Newsletter -

Pada hari Rabu, sekitar 50.000 orang dilaporkan telah meninggalkan rumah mereka di Myanmar timur dekat perbatasan negara bagian Shan dan Kayah dan mencari perlindungan di gereja-gereja.

“Orang tua dan anak-anak berada dalam gereja. Semua gereja telah memasang bendera putih untuk menghentikan penembakan,” kata seorang pria berusia 20 tahun yang meminta untuk tidak disebutkan namanya.

Pria itu mengatakan situasi tetap panas di daerah itu dan menuduh militer terus menggunakan senjata berat terhadap milisi setempat yang menggunakan senjata ringan.

Konflik antara tentara dan pasukan penentang kekuasaan militer telah meningkat dalam beberapa hari terakhir di Myanmar timur yang menyebabkan puluhan pasukan keamanan dan pejuang lokal tewas, menurut laporan media.

Ribuan warga sipil juga telah meninggalkan rumah mereka akibat pertempuran tersebut dan juga menderita korban jiwa.

Myanmar didominasi agama Buddha tetapi beberapa daerah termasuk negara bagian Kayah memiliki komunitas Kristen yang besar.

“Aksi kekerasan, termasuk penembakan terus menerus menggunakan senjata berat pada kelompok yang sebagian besar wanita dan anak-anak yang ketakutan telah menimbulkan banyak korban,” kata Kardinal Bo.

“Ini harus dihentikan. Kami memohon kepada Anda semua… agar tidak meningkatkan perang,” kata kardinal.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest