Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Gereja Katolik di Myanmar dihujani peluru saat pesta Tubuh dan Darah Kristus

Gereja Katolik di Myanmar dihujani peluru saat pesta Tubuh dan Darah Kristus

Saksi mata mengungkapkan bahwa militer menargetkan gereja Maria Ratu Damai di Daw Ngan Kha, kota Demoso di negara bagian Kayah

Sebuah Gereja Katolik secara terus menerus dihujani peluru artileri pada Hari Minggu Tubuh dan Darah Kristus, 6 Juni, saat militer Myanmar melanjutkan serangannya di negara bagian Kayah di timur negara itu.

Saksi mata mengatakan militer menargetkan gereja Maria Ratu Damai di Daw Ngan Kha di kota Demoso, negara bagian Kayah.

Tidak ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan tetapi gereja mengalami kerusakan parah dan beberapa rumah di sekitarnya juga rusak.




Serangan ini merupakan yang keenam kalinya dalam dua minggu di mana militer menyerang gereja-gereja Katolik di wilayah itu, kata seorang imam setempat yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan kepada LiCAS.news.

Pada hari Sabtu, 5 Juni, pasukan keamanan Myanmar bentrok dengan penduduk desa yang mempersenjatai diri dengan ketapel dan busur panah saat mencari senjata di wilayah delta sungai Ayeyarwady. Sedikitnya 20 orang dilaporkan tewas.

Menurut televisi pemerintah, tiga “teroris” tewas dan dua ditangkap di desa Hlayswe ketika pasukan keamanan memburu seorang pria yang dituduh berkomplot melawan negara.

Seorang juru bicara junta tidak menjawab panggilan dari Reuters untuk meminta komentar tentang kekerasan di Kyonpyaw di Wilayah Ayeyarwady.

Reuters tidak dapat mengkonfirmasi jumlah korban secara independen.

- Newsletter -

Tentara Myanmar berupaya untuk mengambil alih kendali sejak menggulingkan pemimpin terpilih Aug San Suu Kyi setelah satu dekade reformasi demokratis yang telah membuka negara itu dari keterisolasiannya.

Pertemuan antara pemimpin junta Min Aung Hlaing dan utusan dari Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara pada hari Jumat memicu kemarahan di beberapa bagian Myanmar pada hari Sabtu, dan membakar bendera ASEAN di kota terbesar kedua Mandalay.

Peluru artileri menghantam gereja Maria Ratu Damai di Daw Ngan Kha, kota Demoso, di ngara bagian Kayah, pada 6 Juni 2021. (Foto disediakan)

Bentrokan kembali terjadi pada hari Sabtu di Hlayswe, sekitar 150 km barat laut kota utama Yangon, ketika tentara mengatakan mereka datang untuk mencari senjata,  demikian laporan empat media lokal dan menurut seorang penduduk.

“Masyarakat di desa hanya memiliki panah sebagai senjata dan banyak korban di pihak masyarakat,” kata warga yang meminta tidak disebutkan namanya karena takut akan serangan balasan.

Khit Thit Media dan Delta News Agency mengatakan 20 warga sipil tewas dan lebih banyak lagi yang terluka. Mereka mengatakan penduduk desa telah mencoba melawan dengan ketapel setelah tentara menyerang penduduk saat.

Menurut televisi pemerintah MRTV pasukan keamanan diserang dengan senapan angin dan anak panah. Setelah baku tembak, mayat tiga penyerang telah ditemukan.

Jika terbukti benar, jumlah korban yang diberikan oleh media lokal akan menjadi yang tertinggi dalam satu hari dalam kurun waktu hampir dua bulan. Sekitar 845 orang telah dibunuh oleh tentara dan polisi sejak kudeta 1 Februari, menurut sebuah kelompok aktivis. Junta membantah angka itu.

Bentrokan itu disebut sebagai salah satu kekerasan terburuk sejak kudeta di wilayah Ayeyarwady, daerah lumbung padi yang memiliki populasi besar dari dua kelompok etnis mayoritas Bamar, tempat asal sebagian besar tentara, dan minoritas Karen.

Sejak kudeta dimulai bulan Februari lalu konflik terus terjadi di daerah perbatasan di mana sekitar dua lusin tentara etnis telah melakukan pemberontakan selama beberapa dekade. Junta juga menghadapi aksi protes setiap hari dan aksi mogok yang melumpuhkan negara.

Pasukan Pertahanan Rakyat Shwegu yang anti-junta mengatakan telah menyerang sebuah kantor polisi di Shwegu utara pada Jumat malam bersama dengan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA).

Reuters tidak dapat menghubungi KIA untuk mendapatkan tanggapan.

Bagian dalam gereja Maria Ratu Damai di Daw Ngan Kha, kota Demoso, di Negara Bagian Kayah, setelah pengeboman artileri pada 6 Juni 2021. (Foto disediakan)

Di Myanmar timur, Pasukan Pertahanan Rakyat Mobye (MBPDF) mengatakan terlibat bentrok dengan tentara pada hari Jumat yang menewaskan empat ttentara teroris.’

Meskipun gejolak berkepanjangan, tentara Myanmar enggan untuk mengindahkan seruan dari lawan-lawannya agar melepaskan cengkeramannya. Minggu ini, junta menerima pejabat asing pertama –kepala Komite Palang Merah Internasional dan dua utusan ASEAN.

Pemerintah oposisi bawah tanah yang dibentuk oleh kelompok anti-junta militer mengatakan setelah kunjungan para utusan itu pada hari Jumat, mereka kehilangan kepercayaan pada upaya ASEAN untuk mengakhiri krisis, yang merupakan upaya internasional utama untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Para pengunjuk rasa di Mandalay membakar bendera ASEAN pada hari Sabtu dan menuduh kelompok itu memberikan legitimasi kepada junta. Salah satu plakat bertuliskan, “Mengharapkan cara ASEAN artinya sia-sia.”

Protes menentang militer di beberapa bagian Myanmar berubah menjadi pemberontakan bersenjata, sementara konflik etnis yang telah berlangsung selama satu dekade berkobar lagi.

Para penentang junta menyampaikan kekecewaan mereka atas minimnya tindakan tegas dari ASEAN dan mengatakan pertemuan dua perwakilan kelompok itu dengan pemimpin junta Min Aung Hlaing pada hari Jumat memberinya legitimasi yang lebih besar, dan tidak membawa manfaat. – Laporan tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest