Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Imam Katolik desak agar serangan terhadap gereja di Myanmar dihentikan

Imam Katolik desak agar serangan terhadap gereja di Myanmar dihentikan

Ia mengatakan ribuan orang terlantar yang tidak bisa bersembunyi di hutan untuk menghindari perang terpaksa berlindung di gereja-gereja

Seorang imam dari Keuskupan Loikaw di Myanmar mendesak pihak yang bertikai agar segera menghentikan serangan terhadap gereja dan tempat ibadah lainnya di negara itu.

Dalam sebuah surat pada 8 Juni, Pastor Celso Ba Shwe, administrator apostolik Loikaw, mengimbau semua kelompok bersenjata untuk tidak mengerahkan pasukan untuk menyerang atau membakar tempat-tempat ibadah.

Ia mengatakan ribuan orang terlantar yang tidak bisa bersembunyi di hutan untuk menghindari pertempuran antara pasukan pemerintah dan pemberontak mencari perlindungan di gereja-gereja.



Pastor Ba Shwe mengatakan biara-biara Buddha dan gereja-gereja diserang oleh militer.

Pada Minggu Corpus Christi (Tubuh dan Darah Kristus) pada 6 Juni, gereja Maria Ratu Damai di Daw Ngan Kha, kota Demoso, di Negara Bagian Kayah, terus menerus terkena peluru artileri.

Tidak ada korban jiwa atau luka-luka yang dilaporkan tetapi gereja mengalami kerusakan parah dan beberapa rumah di sekitarnya juga rusak.

Ini merupakan keenam kalinya dalam dua minggu gereja-gereja Katolik di wilayah itu diserang militer, kata seorang imam yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena alasan keamanan kepada LiCAS.news.

Pada hari Selasa, Paus Fransiskus mengajak pemeluk dari berbagai agama untuk menyisihkan waktu satu menit untuk berdoa bagi perdamaian, terutama untuk Myanmar dan Tanah Suci.

- Newsletter -

“Mari kita berdoa secara khusus untuk Tanah Suci dan Myanmar,” tulis Paus Fransiskus di Twitter, menyusul Aksi Katolik Internasional yang menyerukan doa “satu menit untuk perdamaian” sesuai tradisi agama masing-masing.

Seorang penyelidik hak asasi manusia PBB memperingatkan pada 9 Juni bahwa Negara Bagian Kayah di Myanmar menderita kerugian “besar” yang terlihat sejak militer merebut kekuasaan, di mana lebih dari 100.000 orang meninggalkan rumah mereka untuk menghindari konflik.

Asap hitam tebal terlihat dari Hkamti, Sagaing, Myanmar, pada 22 Mei 2021.(News Anassador via Reuters)

Militer Myanmar berjuang dengan segara cara untuk menegakkan ketertiban sejak kudeta 1 Februari terhadap Aung San Suu Kyi dan pemerintah terpilihnya yang memicu protes nasional.

Negara Bagian Kayah, yang berbatasan dengan Thailand, adalah salah satu dari beberapa wilayah di mana relawan Pasukan Pertahanan Rakyat melakukan perlawanan terhadap tentara Myanmar yang memiliki persenjataan yang memadai, yang  menanggapinya dengan artileri dan serangan udara, sehingga memicu eksodus ke hutan.

“Serangan brutal dan membabi buta oleh junta mengancam kehidupan ribuan pria, wanita dan anak-anak di Negara Bagian Kayah,” kata Thomas Andrews, pelapor khusus PBB untuk hak asasi manusia di Myanmar, dalam sebuah pernyataan.

“Saya menyampaikan bahwa kematian massal karena kelaparan, penyakit, dan paparan, dalam skala  yang belum pernah kita saksikan sejak kudeta 1 Februari, dapat terjadi di Negara Bagian Kayah tanpa tindakan segera,” katanya.

Aktivis di Negara Bagian Kayah mengatakan banyak pengungsi tidak dapat dijangkau termasuk di daerah timur kota Demoso, sekitar 15 km dari ibu kota negara bagian, Loikaw.

Warga melarikan diri dari pertempuran di kota Mindat di di Negara Bagian Chin, Myanmar, pada 17 Mei 2021. (Reuters)

“Beberapa orang di sebelah timur Demoso terpaksa hidup dengan air beras karena kami tidak bisa mengantarkan beras kepada mereka,” kata seorang aktivis yang meminta tidak disebutkan namanya.

Ia mengatakan bahwa otoritas militer telah menangkap tiga orang yang mencoba memberikan bantuan dalam dua minggu terakhir.

Listrik juga telah terputus di banyak daerah dan warga sangat membutuhkan makanan, bahan untuk tempat tinggal dan bensin,  kata aktivis itu yang menyerukan bantuan internasional segera.

Seorang juru bicara junta tidak segera menanggapi telepon untuk meminta komentar.

Thailand, yang khawatir akan lonjakan pengungsi, telah menyatakan keprihatinannya tentang pertempuran di Myanmar dan mendesak junta untuk mengambil langkah-langkah yang disepakati dengan negara-negara Asia Tenggara lainnya yang bertujuan untuk menyelesaikan konflik.

Junta tidak mengindahkan tuntutan dari Asosiasi Negara-negara Asia Tenggara untuk menghormati “konsensus” yang disepakati pada akhir April lalu untuk mengakhiri kekerasan dan mengadakan pembicaraan politik dengan lawan-lawannya.

Sebuah kelompok hak asasi manusia mengatakan pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 857 pengunjuk rasa sejak kudeta. Namun tentara membantah angka tersebut. – Laporan tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest