Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Paus Fransiskus ingatkan kerawanan pangan global, serukan dukungan bagi petani

Paus Fransiskus ingatkan kerawanan pangan global, serukan dukungan bagi petani

Paus Fransiskus meyakinkan Organisasi Pangan dan Pertanian dunia bahwa Gereja mendukung upaya-upaya memerangi kelaparan dan faktor-faktor penyebabnya

Dalam pesannya kepada Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 14 Juni, Paus Fransiskus meminta masyarakat dunia untuk mendukung para petani kecil.

Paus mengatakan krisis kesehatan global harus memacu upaya-upaya untuk menciptakan sistem pangan global yang mampu menahan guncangan di masa depan.

“Akan sangat membantu jika memanfaatkan potensi inovasi untuk mendukung produsen-produsen kecil dan membantu mereka meningkatkan kapasitas dan ketahanan mereka,” kata Paus Fransiskus.

FAO mengadakan Sesi ke-42 di Roma dari 14 hingga 18 Juni. Organisasi ini didirikan pada tahun 1945 dan memiliki anggota lebih dari 194 negara.

Paus Fransiskus, dalam pesannya, mencatat bahwa pada tahun 2020 jumlah orang yang berisiko mengalami kerawanan pangan akut dan membutuhkan dukungan segera mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun.

“Situasi ini bisa menjadi lebih buruk di masa depan,” kata paus.

“Konflik, cuaca ekstrem, krisis ekonomi, ditambah dengan krisis kesehatan saat ini, adalah sumber kelaparan bagi jutaan orang,” kata paus.

“Karena itu, untuk mengatasi kerentanan yang berkembang ini, penting untuk mengadopsi kebijakan yang mampu mengatasi penyebab struktural yang menyebabkan masalah ini muncul.”

- Newsletter -

“Untuk memberikan solusi terhadap kebutuhan ini, sangat penting untuk memastikan sistem pangan yang tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan mampu menyediakan pola makan yang sehat dan terjangkau untuk semua,” katanya.

Paus Fransiskus menekankan perlunya mengembangkan “ekonomi sirkular, yang menjamin sumber daya bagi semua, termasuk generasi mendatang, dan mendorong penggunaan energi terbarukan, sangat bermanfaat.”

“Faktor mendasar untuk pulih dari krisis yang melanda kita adalah ekonomi yang disesuaikan dengan manusia, tidak hanya tunduk pada keuntungan, tetapi berdasarkan pada kebaikan bersama, ramah terhadap etika dan menghormati lingkungan,” kata paus.

Para pengungsi Rohingya menunggu bantuan makanan di kamp pengungsi Kutupalong dekat Cox’s Bazar di Bangladesh, 25 September 2017. (Foto shutterstock.com)

Laporan FAO 2020 tentang Keadaan Ketahanan Pangan dan Gizi di Dunia memperkirakan bahwa pandemi akan menyebabkan lebih dari 130 juta orang di seluruh dunia menderita kelaparan kronis pada akhir tahun lalu.

“Rekonstruksi perekonomian pascapandemi memberi kita kesempatan untuk membalikkan keadaan yang telah diikuti sejauh ini dan berinvestasi dalam sistem pangan global yang mampu menahan krisis di masa akan datang,” kata Paus Fransiskus.

“Ini termasuk mendorong pertanian berkelanjutan dan diversifikasi yang memperhitungkan peran penting pertanian keluarga dan masyarakat pedesaan,” tambah paus.

“Sungguh suatu paradoks bahwa justru mereka yang memproduksi makanan yang menderita kekurangan atau kelangkaan makanan,” kata paus dan menambahkan bahwa sebagian besar orang miskin dunia tinggal di daerah pedesaan dan bergantung terutama pada pertanian sebagai mata pencaharian mereka.

“Karena kekurangan akses ke pasar, kepemilikan tanah, sumber daya keuangan, infrastruktur dan teknologi, saudara-saudari kita ini menjadi yang paling rentan terhadap kerawanan pangan,” kata Paus Fransiskus.

Bapa Suci mengatakan menguraikan program saja tidak cukup, dan bahwa gerakan nyata diperlukan, yang menjadikan keluarga manusia dan membina persaudaraan sebagai titik acuan.

Ia meyakinkan lembaga PBB itu bahwa Gereja Katolik sangat mendukung serta memuji pekerjaan FAO yang “sangat penting pada masa krisis saat ini.”

“Saya menghargai dan mendorong upaya masyarakat internasional untuk memungkinkan setiap negara menerapkan mekanisme yang diperlukan untuk mencapai otonomi pangan,” kata paus.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest