Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Paus Fransiskus tunjuk kardinal Yesuit untuk posisi kunci sinode tentang sinodalitas

Paus Fransiskus tunjuk kardinal Yesuit untuk posisi kunci sinode tentang sinodalitas

Kardinal Hollerich akan membantu mengawasi pertemuan para uskup sedunia di Roma

Paus Fransiskus telah menunjuk Kardinal Jean-Claude Hollerich, SJ sebagai relator jenderal sinode tentang sinodalitas yang akan diadakan tahun 2023.

Kardinal Hollerich, presiden Komisi Konferensi Waligereja Uni Eropa (COMECE), akan membantu mengawasi pertemuan para uskup sedunia di Roma.

Kardinal berusia 62 tahun itu saat ini menjabat sebagai uskup agung Luksemburg sejak 2011. Keuskupannya mencakup seluruh wilayah Grand Duchy of Luxemburg, salah satu negara terkecil di Eropa yang berbatasan dengan Belgia, Prancis, dan Jerman.




Ia berterima kasih kepada Paus Fransiskus atas penunjukannya pada 8 Juli melalui akun Twitter-nya.

Sebagai relator jenderal, Kardinal Hollerich akan mengambil bagian dalam pertemuan Dewan Biasa Persiapan untuk sinode mendatang, yang secara resmi dikenal sebagai Sidang Umum Biasa XVI Sinode Para Uskup.

Ia diharapkan menyampaikan laporan pada awal pertemuan pada Oktober 2023, memperkenalkan tema sinodalitas. Kardinal Hollerich juga akan menjabarkan dokumen kerja sinode dan pokok-pokok yang akan didiskusikan oleh para peserta.

Kardinal Hollerich juga akan memimpin persiapan dokumen akhir sinode, yang diserahkan kepada para peserta untuk disetujui.

Peraturan tentang sinode mengatakan bahwa relator jenderal menyajikan ringkasan topik yang muncul selama diskusi sinode, serta mengklarifikasi poin-poin tertentu dan memberikan informasi tentang penjabaran dokumen akhir.

- Newsletter -

Perannya berakhir saat pertemuan dibubarkan.

Pencalonan sebagai relator jenderal dipandang sebagai tanda penghargaan kepausan. Relator jenderal pada sinode Amazon 2019 adalah Kardinal Cláudio Hummes dari Brasil.

Sedangkan pada sinode pemuda 2018, jabatan relator jenderal dipegang oleh Kardinal Sérgio da Rocha asal Brazil. Relator jenderal sinode keluarga 2014-2015 adalah Kardinal Péter Erdő dari Hongaria.

Vatikan mengumumkan pada bulan Mei bahwa sinode tentang sinodalitas ditunda hingga 2023, dengan fase persiapan konsultasi selama dua tahun yang melibatkan keuskupan-keuskupan Katolik di seluruh dunia.

Kardinal Hollerich lahir pada 9 Agustus 1958 di Differdange, Luksemburg.

Ia memulai pendidikan untuk menjadi imam di Universitas Kepausan Gregorian di Roma. Ia masuk Serikat Yesus pada tahun 1981 di Provinsi Yesuit Belgia Selatan dan Luksemburg.

Pada tahun 1985, ia dikirim ke Jepang dan belajar teologi di Universitas Sophia di Tokyo, serta bahasa dan budaya Jepang.

Setelah menjalani studi teologi lanjutan di Frankfurt, Jerman, ia ditahbiskan menjadi imam pada 21 April 1990, di Brussels, Belgia.

Kemudian ia menghabiskan empat tahun belajar bahasa dan sastra Jerman di Universitas Ludwig Maximilian Munich di Jerman selatan.

Kaul kekal diucapkannya pada tahun 2002 di Gereja St. Ignatius di Tokyo, di bawah Provinsi Yesuit Jepang.

Ia diangkat sebagai uskup agung Luksemburg oleh Benediktus XVI. Kardinal Hollerich menjabat sebagai presiden Konferensi Komisi Keadilan dan Perdamaian Eropa dari tahun 2014 hingga 2018.

Ia kemudian diangkat menjadi kardinal oleh Paus Fransiskus, dan menerima topi merah pada 5 Oktober 2019.

Kardinal Hollerich terpilih sebagai presiden COMECE pada 2018, menggantikan Kardinal Jerman Reinhard Marx. Sejak itu, ia telah banyak berbicara tentang kebebasan beragamapengungsi di Eropa, dan sekularisasi.

Pada September 2020, Kardinal Hollerich menyatakan sangat menghormati “Jalan Sinodal” Gereja Jerman yang kontroversial, dengan mengatakan bahwa para peserta berani “mengajukan pertanyaan yang sangat besar.”

Kardinal Hollerich mengatakan bahwa masalah terpenting yang dihadapi umat Katolik Jerman adalah peran perempuan.

“Saya tidak mengatakan mereka harus menjadi imam. Saya tidak tahu itu. Tapi saya terbuka untuk itu,” katanya kepada kantor berita Katolik Jerman KNA. “Namun yang jelas, situasi saat ini tidak cukup. Anda harus melihat dan memperhatikan bahwa wanita memiliki hak untuk bersuara di Gereja.”

Kardinal Hollerich dinyatakan positif COVID-19 pada bulan Januari, namun sudah sembuh.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest