Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Paus Fransiskus: Jangan buang plastik ke laut

Paus Fransiskus: Jangan buang plastik ke laut

Menurut perkiraan, sekitar delapan juta ton plastik dibuang ke laut setiap tahun, membunuh kehidupan laut dan meracuni rantai makanan manusia

Paus Fransiskus mendesak umat beriman dan umat manusia agar mengakhiri pencemaran laut untuk menandai hari “Minggu Laut.”

Hari Minggu Laut adalah hari ketika orang-orang Kristen seharusnya berkumpul untuk berdoa bagi pelaut dan nelayan dan berterima kasih kepada mereka atas peran penting yang mereka mainkan dalam komunitas global.

Paus Fransiskus mengatakan hari itu juga merupakan hari untuk menyoroti pentingnya merawat laut dan ekosistemnya. “Jaga kesehatan laut, jangan ada plastik di laut,” kata Paus saat Angelus pada 11 Juli.



Menurut perkiraan Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar delapan juta ton plastik memasuki lautan setiap tahun, membunuh kehidupan laut dan menjadi bagian dari rantai makanan manusia.

Dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya, Paus Fransiskus selalu mendesak perlunya merawat lautan dan samudera.

Dalam ensiklik “Laudato si, Menjaga Rumah Kita Bersama” paus mengatakan lautan “tidak hanya mengandung sebagian besar pasokan air planet kita, tetapi juga sebagian besar keanekaragaman makhluk hidup.”

Ia mengatakan bahwa banyak makhluk laut terancam karena berbagai alasan. “Banyak terumbu karang dunia yang sudah tandus atau terus mengalami penurunan,” tulisnya.

Dalam sepucuk surat kepada para pemimpin bisnis pada konferensi Vatikan pada Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan keempat tahun 2018, Paus Fransiskus mengatakan “kita tidak boleh membiarkan laut dan samudera kita dikotori oleh ladang plastik yang mengambang dan tidak ada habisnya.”

- Newsletter -

“Kita perlu berdoa seolah-olah semuanya bergantung pada penyelenggaraan Tuhan, dan bekerja seolah-olah semuanya bergantung pada kita,” katanya.

Replika ikan paus di pantai Naic, Cavite, tahun 2017. Melalui instalasi seni yang menggambarkan paus mati yang tercekik plastik, Greenpeace Filipina berupaya menggarisbawahi masalah besar pencemaran plastik di lautan dan mendesak negara-negara ASEAN untuk mengatasi masalah ini. (Foto oleh Greenpeace)

Sebuah laporan yang dirilis bulan lalu oleh perusahaan pengemasan mengungkapkan bahwa sampah plastik masih menjadi salah satu masalah lingkungan terbesar abad ke-21.

India merupakan negara pembuang sampah plastik terparah  pada tahun 2020, dengan sekitar 126,5 juta kilogram plastik dibuang ke laut setiap tahun.

Berat sampah plastik yang dibuang oleh India setara dengan berat lebih dari 250.000 lumba-lumba hidung botol, salah satu spesies lumba-lumba yang paling umum ditemukan di lautan, kata laporan itu.

Meskipun jumlah plastik yang dihasilkan oleh Amerika Serikat dua kali lipat dari jumlah sampah plastik India (sekitar 42 miliar kg), hanya 2,4 juta kilogram yang berakhir di lautan.

Pada tahun 2018 Koalisi Polusi Plastik melaporkan bahwa Amerika Serikat telah mengekspor 157.000 kontainer yang berisi sampah plastik.

Plastik itu dikirim ke beberapa negara pengelola sampah berkualitas baik seperti Kanada, Korea Selatan, dan Taiwan.

Jumlah sampah yang lebih besar juga dikirim ke negara-negara dengan sistem pengelolaan sampah yang buruk, seperti Malaysia, Thailand, dan India.

Berikut adalah daftar negara pembuang sampah plastik teratas di seluruh dunia, menurut laporan oleh Euronews:

India – 126,5 juta kgTiongkok– 70,7 juta kg
Indonesia – 56,3 juta kg
Brasil – 38 juta kg
Thailand – 22,8 juta kg
Meksiko – 3,5 juta kg
Mesir – 2,5 juta kg
Amerika Serikat – 2,4 juta kg
Jepang – 1,8 juta kg
Inggris Raya – 703.000 kg

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest