Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Commentary (Bahasa) Setelah 25 tahun, kunjungan Yohanes Paulus II masih menginspirasi warga Filipina

Setelah 25 tahun, kunjungan Yohanes Paulus II masih menginspirasi warga Filipina

Minggu ini merupakan peringatan 25 tahun kunjungan Paus St. Yohanes Paulus II tahun 1995 ke Filipina, yang merupakan Misa terbesar dalam sejarah kepausannya.

Daripada hanya berfokus pada hal-hal sepele, mungkin cara yang lebih baik untuk mengenang kunjungan kepausan itu adalah dengan menggemakan pesan-pesannya yang masih relevan bagi masyarakat Filipina.

Paus St. Yohanes Paulus II menyebut dirinya dan orang Filipina sebagai “teman lama.”

Setelah kedatangannya di bandara Manila pada tahun 1995, paus asal Polandia itu segera mengatakan: “Orang-orang Filipina tidak pernah jauh dari pikiran dan hati saya, dan saya berusaha merangkul setiap orang dengan rasa hormat dan kasih sayang. Kita memang teman lama, sejak kunjungan saya tahun 1981.”



Di Universitas Santo Tomas, ia menerima penyambutan  yang mirip dengan sambutan kepada bintang rock. Dia begitu bersemangat, dan dia menyalakan kembali rasa kebanggaan nasional dalam diri orang Filipina, terutama kaum muda.

Kami begitu terbiasa dijatuhkan oleh orang-orang yang berpengaruh, termasuk para pegawai negeri sipil, tetapi muncul paus yang mengatakan kepada kerumunan orang muda di universitas itu: “Saya melihat bahwa suatu keistimewaan besar bagi saya untuk berada di sini dan menemukan kembali fenomena ini yang saya temukan sebelumnya. “

“Sampai hari ini saya mengetahuinya lebih baik. Fenomena luar biasa dari dunia dan dari Gereja, untuk dunia dan untuk gereja ini disebut masyarakat Filipina … untuk menemukan kembali Filipina yang merupakan fenomena yang saya kagumi, dan selalu saya kaguni.”

- Newsletter -

Orang muda dunia juga datang dalam jumlah ribuan ke Manila untuk Hari Pemuda Sedunia ke-10.

Tahun 1995 bisa dibilang dalam tahun-tahun awal “globalisasi” kontemporer, ketika negara-negara besar dengan cepat mencapai kesepakatan tentang tarif dan perdagangan, dan kemudian membentuk Organisasi Perdagangan Dunia untuk mempromosikan perusahaan multinasional dan ide-ide yang mempromosikan kapitalisme tak terkendali, individualitas , dan penghancuran solidaritas.

Singkatnya, perubahan besar sedang terjadi di seluruh dunia yang mendukung bisnis besar namun merugikan martabat manusia.

Paus mengatakan kepada orang-orang Filipina di Luneta Park, Manila: “Guru-guru palsu, banyak dari mereka yang termasuk elit intelektual di dunia sains, budaya, dan media, bertentangan dengan Injil.”

“Mereka menyatakan bahwa idealisme sudah mati, dan ini berkontribusi terhadap krisis moral yang mendalam yang mempengaruhi masyarakat, krisis yang telah membuka jalan bagi toleransi dan bahkan meninggikan bentuk-bentuk perilaku yang sebelumnya dipegang oleh hati nurani dan akal sehat moral. ”

“Ketika Anda bertanya kepada mereka, ‘Apa yang harus saya lakukan?’ satu-satunya kepastian mereka adalah bahwa tidak ada kebenaran yang pasti, tidak ada jalan yang pasti. Mereka ingin Anda menjadi seperti mereka: ragu dan sinis. Sadar atau tidak, mereka mendorong pendekatan terhadapan kehidupan yang telah membawa jutaan orang muda ke dalam kesepian yang menyedihkan, di mana mereka kehilangan akal untuk berharap dan bahwa mereka tidak mampu memiliki cinta sejati.”



Paus rupanya mengacu pada mentalitas “saling memangsa” yang dipromosikan oleh globalisasi dan neoliberalisme.

Tidak banyak yang kita ketahui pada saat itu mengenai dampak besar dari “globalisasi” yang dipimpin oleh imperialis dan nilai-nilai neoliberalnya bagi individu dan masyarakat di seluruh dunia.

Paus menegaskan: “Ketaatan yang efektif dan terjamin terhadap martabat dan hak asasi manusia tidak akan mungkin terjadi jika individu dan masyarakat tidak mengatasi kepentingan pribadi, ketakutan, keserakahan, dan kehausan akan kekuasaan.”

Dengan kata lain, nilai-nilai kapitalis dan neoliberal dari “kepentingan diri sendiri, ketakutan, keserakahan, dan kehausan akan kekuasaan” akan menyangkal dan memustahilkan  “ketaatan yang efektif dan terjamin untuk menghormati martabat manusia dan hak asasi manusia.”

Paus juga berbicara kepada para uskup Filipina ketika Konferensi Waligereja Katolik Filipina memperingati 400 tahun keuskupan di Manila dan bagian-bagian lain dari negara itu.

Dia mengingatkan para uskup bahwa “keluarga memerlukan bantuan untuk mengimbangi dampak negatif sosial dan budaya yang menyertai transformasi ekonomi yang cepat dan mendalam yang terjadi di seluruh Asia,” tampaknya mengacu pada arah yang tidak berubah menuju “globalisasi” dengan cara privatisasi, deregulasi, dan liberalisasi.

“Anda tahu betul tantangan besar yang dihadapkan kepada Anda sebagai uskup: hilangnya cita-cita luhur, kebingungan moral nurani tentang kebaikan dan kejahatan, meningkatnya materialisme dan ketidakpedulian agama, ketidakadilan yang melekat dalam kebijakan ekonomi dan politik tertentu, kesenjangan yang semakin meningkat antara orang kaya dan miskin. “

“Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini dan lainnya dengan kekuatan Injil yang membebaskan, misi pastoral Anda masuk ke jantung masyarakat Filipina,” katanya.

Paus menghormati para uskup Filipina dengan mengakui dan memuji komitmen Dewan Pleno Filipina: menjadi Gereja kaum miskin.

“Situasi di mana kekayaan ekonomi dan kekuatan politik terkonsentrasi di tangan segelintir orang, seperti yang telah Anda tulis, adalah ‘penghinaan terhadap martabat dan solidaritas manusia.’ Terlalu banyak keluarga yang tidak memiliki tanah untuk digarap atau rumah untuk tinggal, dan terlalu banyak orang tidak mendapat pekerjaan dan layanan mendasar.”

“Tugas Anda adalah membantu menciptakan sikap baru, suatu keyakinan yang dibentuk oleh prinsip tujuan sosial dari kekuasaan dan kekayaan, yang dapat mengarah pada perubahan yang sesuai dalam tatanan yang berlaku,” katanya.

Memasuki tahun 2020, kita melihat negara-negara terbesar di dunia dan perusahaan terbesar terus menolak perubahan iklim karena mereka tidak nyaman melakukannya.

Hak asasi manusia sedang diserang juga di bawah para pemimpin yang kuat, otokratis, yang dikirim ke tampuk kekuasaan oleh para pemilih yang marah yang kecewa oleh institusi-institusi, bahkan bisa dibilang termasuk Gereja lokal itu sendiri.

Atau oleh para globalis dan penggunaan media secara sistematis oleh para demagog mereka untuk menipu publik. Atau keduanya.

Apakah para uskup Filipina mengindahkan ajaran paus, dan deklarasinya sendiri untuk menjadi Gereja kaum miskin dalam kurun 25 tahun ke depan globalisasi, neoliberalisme, dan penghematan – itu terserah para uskup untuk melihatnya.

Sebelum meninggalkan Manila, Paus St. Yohanes Paulus II berkata, “Saya membawa pulang beribu-ribu potret tentang orang Filipina. Saya tahu keinginan Anda untuk keadilan yang lebih besar dan kehidupan yang lebih baik untuk diri Anda dan anak-anak Anda. Tidak ada yang bisa meremehkan kesulitan yang Anda hadapi dan kerja keras yang ada di depan. Di atas semua itu, tidak seorang pun boleh mundur dari tuntutan besar akan solidaritas yang nyata dan efektif, solidaritas baru di antara individu, dalam keluarga dan di seluruh masyarakat.”

Dalam dunia ‘saling memangsa’ yang kita tinggali saat ini, kata-kata paus memberikan secercah harapan: “Harus ada kemajuan dalam berbagi. Harus ada rasa tanggung jawab yang diperbarui dari setiap orang untuk orang lain. Setiap kita adalah penjaga bagi saudara kita.”

Paus St. Yohanes Paulus II tidak akan pernah bisa kembali ke Manila, tetapi kata-katanya terus menginspirasi dan memprovokasi.

Tonyo Cruz adalah blogger Filipina, kolumnis surat kabar, dan pendiri aliansi media dan seni Mari Berorganisasi untuk Demokrasi dan Integritas. Pandangan dan pendapat dalam artikel ini adalah dari penulis dan tidak mencerminkan posisi resmi editorial LiCAS.news.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest