Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Gadis Kristen Rohingya 'dipaksa pindah agama, menikah' setelah keluarga diculik

Gadis Kristen Rohingya ‘dipaksa pindah agama, menikah’ setelah keluarga diculik

Seorang gadis Kristen Rohingya dilaporkan dipaksa masuk Islam dan menikah setelah keluarganya diculik di sebuah kamp pengungsi di Bangladesh.

Penculikan itu terjadi sehari setelah sekelompok orang “bersenjatakan parang” mengepung komunitas minoritas Kristen di kamp pengungsi Kutupalong pada 27 Januari, seorang saksi yang selamat dari serangan itu mengatakan kepada AsiaNews.

“[Keluarga] diculik karena iman [mereka]. Kami dianiaya karena kami adalah orang Kristen, ”kata Saiful Islam Peter, seorang pengungsi Kristen Rohingya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit untuk menyembuhkan cedera yang dideritanya selama serangan itu.

Saiful mengatakan anggota keluarga yang diculik termasuk Taher, ayah yang berusia 55 tahun, istrinya, Kurshida, 32, dan putrinya Mizan, 14, dan Mariam, 8.

Saiful mengatakan bahwa pada 2 Februari, seorang tetangga Muslim memberi tahu dia bahwa Mizan telah “dipaksa menikahi seorang ekstremis Islam yang tinggal di dekat kamp Nowkar, sementara tidak ada berita tentang anggota keluarga lainnya.”

Pada 28 Januari, lembaga bantuan Kristen, Barnabas Fund melaporkan, melaporkan bahwa 12 orang telah “terluka parah” setelah  “gerombolan ekstremis” yang beranggotakan seratusan orang menyerang komunitas Kristen “yang rentan” di kamp pengungsi, yang terletak di distrik Cox’s Bazar, Bangladesh.

Satu orang, menurut laporan itu, ”hilang dalam serangan dan diduga sudah meninggal.”

- Newsletter -

Serangan pisau dan air keras, serta pembakaran juga dilaporkan, dengan satu orang dilaporkan mengalami cedera kepala ketika massa melemparkan batu ke sebuah gereja. Gereja itu dilaporkan digeledah, bersama dengan rumah-rumah para korban.

Kartu identitas, komputer, dan barang-barang lainnya juga dicuri.




Saiful mengklaim setidaknya ada 200 hingga 400 penyerang dari Tentara Pembebasan Rohingya Arakan (ARSA), kelompok pemberontak Rohingya, “membawa senjata, pisau, pedang, dan batang besi.”

Dia mengatakan dia dianiaya ketika merekam serangan pembakaran terhadap rumah-rumah Kristen, dan kemudian didakwa oleh polisi karena mendokumentasikan kejahatan itu.

Saiful mengatakan bahwa penyerangan seksual terus dilakukan terhadap gadis dan wanita, sementara mereka juga “dipukuli secara membabibuta.”

Saiful menambahkan bahwa mereka memiliki bukti dokumenter yang membuktikan keberadaan militan ARSA di kamp.

“Kami memiliki foto-foto yang memperlihatkan para pemimpin militan membawa senjata dan pisau. Banyak Muslim Rohingya membenci mereka dan saya yakin mereka akan siap untuk bersaksi bahwa anggota ARSA ada di sana, ”katanya.

ARSA telah membantah bahwa itu adalah Islamisasi, tetapi sebaliknya mengklaim bahwa itu dilakukan untuk membela hak-hak Muslim Rohingya yang tertindas di Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Serangan 27 Januari itu terjadi beberapa hari setelah Pelapor Khusus PBB Yanghee Lee mengingatkan bahwa orang-orang Kristen Rohingya berada dalam “posisi sangat sulit” karena mereka dianiaya karena agama mereka oleh pemerintah Myanmar di Rakhine, dan sekarang “menghadapi permusuhan dan kekerasan dari sejumlah kecil penghuni kamp lainnya.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest