Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Imam Filipina yang dikenal sebagai 'penyembuh' meninggal

Imam Filipina yang dikenal sebagai ‘penyembuh’ meninggal

Seorang imam Filipina yang terkenal karena memiliki karisma menyembuhkan dan dinyatakan tidak bersalah atas tuduhan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur bulan lalu, meninggal karena serangan jantung di Manila pada 4 Februari.

Pastor Fernando Suarez dari tarekat Sahabat Salib (Companions of the Cross) yang berbasis di Kanada, pingsan saat bermain tenis. Dia akan berusia genap 53 tahun pada 7 Februari.

Pastor Melvin Castro, seorang sahabat Pastor Suarez, mengatakan bahwa imam itu dibawa ke rumah sakit di Manila tetapi kemudian dinyatakan meninggal.

“Dia meninggal karena serangan jantung,” kata Pastor Castro. “Saya sangat terkejut. Pada awalnya saya tidak percaya,” tambahnya.

Pada Januari lalu, Vatikan menyatakan Pastor Suarez “tidak bersalah” atas tuduhan “pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur” yang diajukan ke otoritas gereja pada Mei 2019.

Sebuah pemberitahuan yang dikeluarkan oleh Gereja mengatakan bahwa imam itu “telah dituduh secara salah” atas kejahatan tersebut.

“Terakhir kali kami berbicara adalah ketika keputusan dikeluarkan bahwa ia tidak bersalah,” kenang Pastor Castro. “Seolah-olah Tuhan hanya menunggu keputusan itu keluar,” katanya.

- Newsletter -

Pastor Suarez juga menjadi berita tahun lalu ketika beberapa uskup melarangnya masuk ke keuskupan mereka masing-masing karena tidak memperlihatkan izin yang diperlukan untuk mengadakan sesi “penyembuhan”.

Uskup Agung Ramon Arguelles, pensiunan uskup Lipa, mengatakan Pastor Suarez akan dirindukan karena pekerjaannya bagi orang miskin.

Uskup itu mengatakan, imam itu sering mendukung keuskupannya.

“Saya berdoa agar dia diberi ganjaran atas rencana besar dan pencapaiannya bagi Gereja dan untuk yang paling kecil di antara umat beriman,” kata Uskup Agung Arguelles.

Uskup Honesto Ongtioco dari Cubao mengatakan, kematian Pastor Suarez adalah pengingat bagi semua orang bahwa “hidup kita selalu di tangan Tuhan.”

“Kita datang dan pergi di dunia ini. Yang penting kita siap pulang kapan saja, ”katanya.

Pada Oktober tahun lalu, Uskup Ongtioco melarang imam itu merayakan Misa dan menyelenggarakan sakramen di keuskupannya sampai tuduhan yang dilontarkan kepadanya dihapus.

Orang-orang beriman Filipina yang bertemu dengan Pastor Suarez mengingatnya karena menyentuh kehidupan mereka.

Ging Cueto, seorang dokter gigi dari provinsi Romblon, mengatakan bahwa imam itu telah memberikan orang-orang di provinsi itu “banyak hal positif” di tengah semua kesulitan mereka.

Pastor Suarez selalu menekankan kesehatan yang baik untuk semua orang.

“Ketika seseorang sakit, ia akan mengalami proses penyembuhan dengan mendengarkan kisah-kisah sukses penyembuhan orang-orang atau ketika ia melihat seseorang telah disembuhkan karena imannya,” kata imam itu.

Dilahirkan pada tahun 1967, di desa Butong di kota Taal, provinsi Batangas, Pastor Suarez berangkat ke Manila dan lulus dengan gelar teknik kimia dari Universitas Adamson.

Setelah lulus, ia masuk Fransiskan tetapi meninggalkan ordo itu setahun kemudian. Kemudian dia bergabung dengan Serikat Sabda Allah, tetapi diminta keluar setelah enam bulan.

Dia bergabung dengan Companions of the Cross (Sahabat Salib) sebuah kongregasi Kanada yang didirikan pada 1980-an dan tinggal bersama mereka. Dia ditahbiskan pada tahun 2002.

Karunia penyembuhan yang dilakukan Pastor Suarez terlebih dahulu dikenal dikenal di luar negeri, baru kemudian di Filipina ketika ia mendirikan Pelayanan Penyembuhan Maria Bunda Orang Miskin, sebuah yayasan untuk membantu orang miskin.

Yayasan itu mengumumkan bahwa sebagai pengganti bunga, keluarga imam lebih suka sumbangan yang dibuat atas nama organisasi.

“Ini untuk mendukung pelayanan yang telah dia mulai dengan kongregasi misionarisnya,” demikian bunyi sebuah pengumuman dari yayasan.

Jun Aguirre  turut melaporkan dari Aklan.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest