Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Devosi St. Antonius Padua satukan umat beragama di Bangladesh

Devosi St. Antonius Padua satukan umat beragama di Bangladesh

Pada suatu sore di akhir musim dingin, Tapos Roy menunggu dalam antrian panjang umat untuk menyentuh dan berdoa di depan patung kecil St. Antonius dari Padua di Panjora, sebuah desa di distrik Gazipur, Bangladesh.

Roy, 34 adalah seorang Hindu dan ini adalah kunjungan keduanya ke tempat ziarah Katolik paling populer di Bangladesh yang didedikasikan untuk orang kudus asal Portugal itu.

Hari raya santo ini sebenarnya jatuh pada 13 Juni, tetapi sudah menjadi tradisi bagi Keuskupan Agung Dhaka untuk mengizinkan Gereja Katolik St. Nicholas Tolentino di Nagari mengadakan ziarah tahunan di bulan Februari, karena cuaca yang baik sehingga menarik lebih banyak umat.

Tahun ini, pesta diadakan pada 7 Februari. Pada 2012, Roy datang ke tempat itu bersama beberapa teman karena penasaran, tetapi kali ini ia menghadiri pesta tahunan itu bersama istrinya untuk tujuan khusus.

Mereka datang dengan “manti” (keinginan) khusus untuk disampaikan di depan patung yang dianugerahkan keajaiban yang diabadikan di sebuah kapel kecil di Panjora.

Pasangan itu telah menikah selama delapan tahun tetapi masih belum dikaruniai anak.

Bagian dari prosesi Misa suci saat hari ziarah di kapel St Anthonius dari Padua di Panjora. (Foto oleh Carey Ashirbad)

“Saya pernah mendengar bahwa St. Antonius telah mengabulkan keinginan banyak orang. Saya benar-benar berharap orang suci itu akan memenuhi keinginan kami, ”kata Roy kepada LiCAS.news dan disampingnya ada istrinya yang memandang dengan linangan air mata.

- Newsletter -

Antrian para peziarah menuju ke kapel St. Antonius terus bertambah. Banyak peziarah memilih untuk menyentuh dan memberi penghormatan kepada patung replika orang suci yang ditempatkan di tiga lokasi di tempat ziarah itu.

Ratusan peziarah juga memberikan “manot” suci (tanda terima kasih) kepada santo itu seperti uang, barang berharga, lilin, biskuit, dan bahkan burung merpati, kambing, domba, dan kelinci.

“Para peziarah non-Kristen juga datang dengan hadiah dan kami kewalahan dengan meningkatnya partisipasi mereka dalam ziarah tahunan ini,” Livingstone Rozario, seorang anggota dewan paroki Gereja Katolik Nagari mengatakan.

Acara tahunan ini adalah pertemuan Kristen terbesar di Bangladesh yang mayoritas penduduknya Muslim, di mana umat Kristen berjumlah kurang dari setengah persen dari populasi lebih dari 160 juta orang.



Memperbarui iman kepada Tuhan

Sekitar 70.000 orang, sebagian besar dari mereka Katolik, menghadiri dua Misa yang dipimpin oleh Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka, menurut sumber-sumber gereja setempat.

“St. Antonius memanggil kita untuk menjadi kudus, untuk memperbarui iman kita kepada Tuhan dan untuk menguatkan katekese kita dan meneruskannya kepada anak-anak kita. St Antonius menginspirasi kita setiap hari untuk menjadi manusia yang lebih setia dan lebih baik, ”kata Kardinal D’Rozario selama homilinya.

Nuncio Apostolik ke Bangladesh, Uskup Agung George Kocherry, Uskup Christian Rodembourg dari Keuskupan St. Hyasanite di Quebec, Kanada, pensiunan Uskup Auksiliar Theotonius Gomes dari Dhaka dan sekitar 100 imam, juga menghadiri Misa itu.

Uskup Rodembourg mengatakan bahwa dia “sangat tersentuh” oleh devosi umat kepada St Antonius.

“Ini adalah kesaksian iman yang luar biasa. Kita hidup di benua lain, tetapi kita dipersatukan oleh iman. Kasih kita kepada Allah dan pengabdian kepada para santo besar seperti St. Antonius mendorong dan menginspirasi satu sama lain, ”kata uskup itu.

Para biarawati dan umat awam berdoa saat Misa di kapel St. Antonius Padua di Panjora. (Foto oleh Carey Ashirbad)

Legenda St. Antonius di Panjora

Kapel St. Antonius Padua di Panjora dikaitkan dengan legenda yang sudah berabad-abad, kata pejabat gereja setempat.

Pada abad ke-18, para imam Katolik Portugis melayani misi Gereja di Nagari, yang mencakup lebih dari selusin desa termasuk Panjora.

Suatu hari seorang petani setempat menemukan patung kecil St. Antonius di semak-semak di mana kapel yang didedikasikan untuk orang suci itu berdiri saat ini.

Patung itu diserahkan kepada pastor paroki yang kemudian menempatkannya di Gereja St. Nicholas Tolentino, beberapa kilometer jauhnya. Tetapi hari berikutnya patung itu menghilang dan muncul kembali di tempat di mana patung itu ditemukan. Ini terjadi beberapa kali.

Sebuah gua kecil kemudian dibangun untuk menyimpan patung itu sebelum sebuah kapel untuk menampung patung itu dibangun di atas tanah yang disumbangkan oleh seorang wanita Katolik setempat.



Ketika berita tentang patung itu menyebar, orang-orang mulai berkumpul dan berdoa. Banyak yang mengklaim bahwa orang suci itu memiliki kekuatan mujizat dan menjawab permintaan para pendevosi, misalnya ada ibu-ibu yang tidak memiliki anak akhirnya hamil, benda yang hilang ditemukan dan banyak masalah pribadi diselesaikan berkat St. Anthonius.

Legenda St. Antonius telah menyebar ke seluruh negeri itu dan jumlah umat terus membengkak.

Saat ini, orang-orang dari keempat penjuru Bangladesh melakukan kunjungan rutin ke kapel itu. Dua tahun lalu, Gereja Katolik menunjuk seorang rektor untuk melayani para peziarah sepanjang tahun.

Selama bertahun-tahun, otoritas gereja harus memperluas situs ziarah tersebut untuk mengakomodasi semakin banyak nya orang yang datang untuk menghadiri hari raya tahunan itu.

Uskup Shorot F. Gomes, uskup auksilier Dhaka (depan), Uskup Agung Nuncio Apostolik George Kocherry (tengah) dan Kardinal Patrick D’Rozario dari Dhaka saat Misa di tempat suci St. Anthonius Padua di Panjora. (Foto oleh Carey Ashirbad)

Santo bagi semua orang

Alicia Panioty, seorang Katolik dari Keuskupan Agung Chittagong, telah mengikut ziarah itu selama dua dekade terakhir.

Dia melahirkan anak perempuan satu-satunya pada tahun 2008 dan percaya bahwa kelahiran yang “tidak rumit” adalah berkat doanya kepada St. Antonius.

“Ketika saya hamil, saya berdoa kepada St Antonius bahwa jika semuanya berjalan dengan baik, saya akan menghadiri pesta setiap tahun. Jadi, saya terus datang ke sini, ” kata Panioty, seorang manajer perdagangan di sebuah pabrik garmen, kepada LiCAS.news.

Panioty mengatakan dia bangga sebagai seorang Katolik bahwa seorang santo Katolik  telah menjadi populer di kalangan non-Kristen.

“Terlepas dari perspektif agama, kita dapat melihat ini sebagai tindakan kemanusiaan, bahwa ini adalah perayaan kerukunan yang melampaui agama. Sangat menyenangkan bahwa orang-orang dari semua agama mengakui dan menerima bahwa St. Antonius telah melakukan hal-hal yang luar biasa, ”katanya.

Dilahirkan di Lisbon, Portugal pada tahun 1195, St. Antonius adalah seorang imam dan biarawan Fransiskan. Dia dijunjung tinggi karena cintanya yang abadi pada orang-orang miskin dan sakit, dan juga karena pengetahuannya yang luar biasa tentang Kitab Suci. Dia juga diakui karena melakukan mukjizat.

Ia wafat pada tahun 1231 di Padua, Italia, pada usia 35 tahun. Vatikan menyatakannya sebagai orang kudus setahun setelah kematiannya dan dinyatakan sebagai Doktor Gereja pada tahun 1946.

Seorang ibu membantu anaknya mennyentuh patung Santo Antonius Padua saat Misa di tempat ziarah di Panjora. (Foto oleh Carey Ashirbad)

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest