Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Paus meminta kaum muda agar bangkit, berani hadapi risiko

Paus meminta kaum muda agar bangkit, berani hadapi risiko

Paus Fransiskus meminta kaum muda di seluruh dunia untuk “bangkit,” berani mengambil risiko, dan menemukan hubungan yang bermakna.

Hal itu disampaikan paus dalam pesannya kepada orang-orang muda menjelang perayaan Hari Pemuda Sedunia ke-35 di Lisbon pada tahun 2022.

Tahun ini, perayaan tingkat keuskupan akan diadakan pada 5 April, bertepatan dengan Minggu Palma.




Dalam pesan yang dirilis di Vatikan pada tanggal 5 Maret, paus mendesak kaum muda untuk berbagi kehidupan dengan orang lain melalui hubungan yang tidak “dangkal, salah dan munafik.”

“Hari ini, kita sering ‘terhubung’ tetapi tidak berkomunikasi,” kata pemimpin Gereja Katolik itu.

“Penggunaan perangkat elektronik yang tidak terkontrol dapat membuat kita terus terpaku pada layar,” katanya.

“Dengan pesan ini,” kata Paus Fransiskus, “Saya ingin bergabung dengan Anda, kaum muda, dalam menyerukan perubahan budaya, sesuai dengan perintah Yesus untuk bangkit.”

- Newsletter -

“Jika ini adalah pesan kita, banyak anak muda tidak lagi akan terlihat bosan atau lelah dan membiarkan wajah mereka menjadi hidup dan lebih menawan daripada realitas virtual mana pun,” katanya.

“Jika Anda memberi kehidupan, seseorang akan ada di sana untuk menerimanya,” tambah paus.

Pesan paus mengambil tema dari Injil Lukas ketika Yesus berkata kepada seorang pemuda, “Aku berkata kepadamu, bangkitlah!” (Luk 7:14).

Paus mengatakan bahwa Yesus ingin menunjukkan kepada orang muda pentingnya belas kasih dan empati terhadap penderitaan orang lain daripada mementingkan diri sendiri.

Pesan paus tersebut adalah bagian pertama dari tiga rangkaian pesan yang dikhususkan bagi kaum muda, yang disampaikan antara Hari Pemuda Sedunia di Panama pada 2019 dan pertemuan Lisbon.

Siaran pers dari Vatikan mencatat bahwa kata kunci yang menghubungkan tiga tahap dari “rencana perjalanan Gereja bersama dengan orang-orang muda” adalah kata “bangkit.”

Dalam pidatonya, paus mengingatkan kaum muda bahwa kata kerja ini “juga memiliki arti bangkit, bangkit untuk hidup.”

“Kita sangat sadar bahwa, sebagai orang Kristen, kita terus-menerus jatuh dan harus bangun lagi. Orang yang tidak melakukan perjalanan tidak pernah jatuh; dan mereka juga tidak bergerak maju,” katanya.

“Itulah sebabnya kita perlu menerima bantuan yang diberikan Yesus kepada kita dan menaruh iman kita kepada Allah,” kata paus. “Langkah pertama adalah membiarkan diri kita bangun,” tambahnya.

Dia memperingatkan semua orang untuk tidak menyia-nyiakan hidup mereka dalam hura-hura dan momen singkat yang telah menjadi bagian dari apa yang dia gambarkan sebagai “narsisme digital yang berkembang luas.”

Paus mengatakan bahwa banyak orang telah menjadi korban teknologi baru dan telah “jatuh ke dalam materialisme dari orang-orang di sekitar mereka yang hanya peduli dengan menghasilkan uang.”

Dia mengatakan bahwa hal itu “pasti akan mengarah pada ketidakbahagiaan, sikap apatis, dan kebosanan dengan kehidupan, menumbuhkan kekosongan dan frustrasi.”

Paus juga menunjukkan pentingnya berbela rasa, terutama di kalangan kaum muda.

“Anak-anak muda yang terkasih, jangan biarkan dirimu dirampok oleh perasaan ini,” kata paus.

“Semoga kalian selalu memperhatikan permintaan mereka yang menderita, dan tergerak oleh mereka yang menangis dan yang mati di dunia saat ini.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest