Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Features (Bahasa) Krisis corona mengubah restoran di Manila jadi tempat tinggal tunawisma

Krisis corona mengubah restoran di Manila jadi tempat tinggal tunawisma

Sebuah restoran di Manila telah diubah menjadi tempat tinggal bagi para tunawisma ketika otoritas Filipina memperketat pergerakan orang untuk mencegah penyebaran virus corona.

Bukannya menutup pintunya, Popburri – sebuah restoran yang menjual  es loli – tetap dibuka, tetapi untuk tujuan yang berbeda, yakni untuk menjadi tempat tinggal bagi para tunawisma di ibukota negara itu.

Tempat ini telah menjadi tempat perlindungan bagi mereka yang tidak memiliki tempat lain selama “karantina komunitas yang diperluas” di ibukota negara itu.

“Orang-orang mengatakan sangat penting untuk bersih, terutama pada masa-masa seperti ini. Bagi Anda dan saya itu mudah. Bagaimana dengan orang yang tidak memiliki air minum? ” kata Camille Dowling Ibanes.



“Jadi, kami pikir kami untuk mengubah tempat ini menjadi tempat yang bersih dan nyaman bagi para tunawisma,” kata pemilik toko berusia 38 tahun itu.

Rencana awal adalah mengubah Popburri menjadi tempat tidur bagi para penghuni jalanan. Tetapi dengan dukungan yang luar biasa dari lingkungan itu juga telah berubah menjadi “pusat pemberian makanan.”

Sekarang, para tunawisma dapat makan, mandi, mencuci pakaian, serta tidur di Popburri.

- Newsletter -

Ibanes mengatakan inisiatif ini adalah upaya dari komunitas pelanggan yang bertindak secara kolektif dan mengirim sumbangan.

Para tunawisma diberi makanan selama mereka tinggal di restoran yang telah diubah menjadi tempat perlindungan selama masa karantina masyarakat di Manila. (Foto oleh Jire Carreon)

“Ketika kita melindungi kaum tunawisma, kita melindungi diri kita. Jika mereka tidak terlindungi, mereka menginfeksi seluruh komunitas, ”katanya.

Pejabat setempat menjamin keamanan dan menawarkan untuk membeli tikar karena jumlah tunawisma yang tinggal di toko terus meningkat.

Dengan laporan bahwa beberapa tempat perlindungan telah diperintahkan ditutup karena ketentuan karantina, Ibanes mengakui tidak tahu apakah itu akan berlaku juga di tempat.

“Maksudku, kita tidak yakin, kita berharap rasa takut itu hilang,” katanya.

“Pada akhirnya, jika kita memberi vitamin C kepada tunawisma, kita berusaha menjaga kekebalan mereka … Secara praktis lebih baik daripada mereka berada di jalanan,” kata Ibanes.

Ketimbang memberlakukan protokol jarak sosial satu meter, tempat itu mengimplementasikan “jarak keluarga.” Mereka juga menyediakan tempat-tempat metanol untuk membersihkan mereka yang datang ke tempat itu.

“Kami memiliki etanol, pencuci kaki, masker, alat pelindung diri. Kami mendisinfeksi dan menyediakan piring terpisah untuk semua orang,” katanya.

Orang-orang mulai datang jam 6 malam dan kemudian berangkat pukul 6 pagi setelah sarapan.

Orang-orang yang mencari perlindungan di Popburri mempersiapkan tikar untuk istirahat malam. (Foto oleh Jire Carreon)

“Ketakutan mereka adalah bahwa kita akan mengunci mereka di sini dan menghentikan mereka dari bekerja di luar,” kata Ibanes.

Sejak 19 Maret, ketika Popburri membuka pintu bagi para tunawisma, sumbangan terus berdatangan.

“Kami memberi apa yang kami terima, dan bagusnya bahwa apa yang kami miliki selalu cukup untuk semua orang,” katanya.

“Kita mungkin kecil, tetapi kami melayani Tuhan yang besar. Mari kita menjadi instrumen untuk Dia bersama!” demikian unggahan media sosial Popburri.

Ibanes mengatakan inisiatif ini adalah “pijaran kecil yang mencerminkan cinta orang Filipina kepada satu sama lain,” dan menambahkan bahwa dia bangga dengan cara orang Filipina berkumpul dan menyirami proyek itu “dengan cinta dan perhatian.”

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest