Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kardinal Bo tuntut permintaan maaf Cina atas virus corona

Kardinal Bo tuntut permintaan maaf Cina atas virus corona

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, Myanmar, menuntut permintaan maaf dari pemerintah Cina “atas kehancuran yang disebabkannya” dengan penyebaran penyakit virus corona yang  baru.

Dalam pernyataan yang dirilis pada 2 April, uskup itu, yang juga presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia, mengatakan pemerintah Cina, bukan warganya, berutang “permintaan maaf dan kompensasi” kepada dunia.

“Minimal dia harus menghapus hutang negara lain, untuk menutupi biaya COVID-19,” kata Bardinal Bo, menambahkan bahwa negara-negara lain “tidak perlu takut untuk meminta pertanggungjawaban” pemerintah Cina.”

“Tidak ada belahan dunia yang tidak tersentuh oleh pandemi ini, tidak ada kehidupan yang tidak terpengaruh,” katanya. “Pada saat ini  berakhir, angka kematian global diperkirakan mencapai jutaan,” tambah Kardinal Bo.



Dia mengutip laporan Organisasi Kesehatan Dunia yang mengatakan hampir satu juta orang telah terinfeksi oleh penyakit ini dan lebih dari 40.000 telah meninggal sejak pandemi dimulai.

Kardinal Bo mengkritik “sikap lalai Cina” dan karena berusaha menekan informasi ketika virus pertama kali muncul.

“Alih-alih melindungi masyarakat dan mendukung para dokter, [Partai Komunis Tiongkok] membungkam pelapor,” kata kardinal.

- Newsletter -

Dia mengutuk dugaan adanya langkah pemerintah untuk membungkam almarhum Dr. Li Wenliang yang mengeluarkan peringatan kepada sesama profesional kesehatan tentang virus itu sejak Desember lalu.

Dokter mata berusia 34 tahun itu diberitahu bahwa dia akan diselidiki karena “menyebarkan desas-desus” dan “dipaksa oleh polisi untuk menandatangani pengakuan.”

Dokter itu meninggal setelah tertular virus.

Kardinal Bo juga mengecam hilangnya jurnalis warga yang dilaporkan menghilang setelah mencoba melaporkan tentang penyebaran virus itu dan yang diyakini ditangkap oleh pihak berwenang “hanya karena mengatakan yang sebenarnya.”

Prelatus itu mengatakan bahwa Myanmar, yang berbatasan dengan Cina “sangat rentan” terkena penyakit itu.

“Kami adalah negara miskin tanpa sumber daya kesehatan dan perawatan sosial yang dimiliki oleh negara-negara maju,” katanya.

Dia juga mencatat bahwa ribuan orang di Myanmar telah mengungsi akibat konflik, tinggal di kamp-kamp pengungsi tanpa sanitasi, obat-obatan atau perawatan yang memadai.

Kardinal mengatakan “jarak sosial” di kamp-kamp yang penuh sesak ini “tidak mungkin diterapkan.”

“Sistem perawatan kesehatan di negara-negara paling maju di dunia saja kewalahan, jadi bayangkan bahaya di negara miskin dan sarat konflik seperti Myanmar,” kata Kardinal Bo.

“Ketika kita mengamati kerusakan yang terjadi pada kehidupan di seluruh dunia, kita harus bertanya siapa yang bertanggung jawab? Tentu saja, kritik dapat dibuat terhadap pihak berwenang di mana-mana,” katanya.

Kardinal itu menjelaskan bahwa Partai Komunis Cina yang berkuasa, bukan rakyat China, yang bertanggung jawab.

“Tidak seorang pun harus menanggapi krisis ini dengan kebencian rasial terhadap Cina,” kata kardinal itu.

Dia mengatakan orang-orang Cina sendiri “menjadi korban pertama virus ini dan telah lama menjadi korban utama rezim represif mereka.”

“Mereka layak mendapatkan simpati, solidaritas, dan dukungan kita,” kata Kardinal Bo. “Tapi penindasan, kebohongan, dan korupsi dari [Partai Komunis] yang bertanggung jawab,” katanya.

Secara global, lebih dari 44.000 orang telah meninggal, sekitar 900.000 telah didiagnosis dengan penyakit virus corona yang baru, dan sekitar 190.000 telah sembuh, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest