Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Paus Fransiskus tekankan pentingnya peran pembawa damai

Paus Fransiskus tekankan pentingnya peran pembawa damai

Paus Fransiskus menekankan pentingnya perdamaian sekaligus peran pembawa damai saat audiensi mingguan yang disiarkan langsung secara online dari Vatikan pada 15 April.

Dalam kelanjutan katekese tentang Sabda Bahagia, kali ini paus menjelaskan tentang  Sabda Bahagia ketujuh dalam Injil ‘Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah.’

Paus Fransiskus mendefinisikan pembawa damai sebagai orang-orang yang telah mempelajari seluk beluk perdamaian dan mempraktikkannya dalam hidup.

“Mereka tahu bahwa tidak ada rekonsiliasi tanpa karunia kehidupan, dan bahwa damai harus selalu dicari dalam hal apapun,” katanya.




Paus kemudian melanjutkan bahwa mereka yang sungguh-sungguh bekerja untuk perdamaian adalah “anak-anak Allah yang sejati dan menunjukkan kepada kita jalan kebahagiaan sejati.”

Namun Paus Fransiskus mengatakan bahwa kata damai perlu dijelaskan, karena dapat disalahpahami atau menjadi tidak berarti.

Menurut paus ada dua konsep. Pertama berasal dari istilah “Shalom” dalam Alkitab yang menandakan kehidupan yang berlimpah atau berkembang, sementara yang kedua adalah pengertian modern, yang merupakan ketenangan batin.

- Newsletter -

Konsep yang kedua tentang damai adalah yang bersifat “modern, psikologis dan lebih subyektif” yang “tidak lengkap dan tidak dapat menjadi absolut karena mungkin kecemasan dalam hidup menjadi waktu yang penting untuk tumbuh.”

“Kita harus ingat bahwa damai yang dimaksudkan Tuhan berbeda dari pemahaman manusia,” kata paus, dan menambahkan bahwa “damai yang dibawa Kristus adalah buah dari kematian dan kebangkitan-Nya.”

“Sangat sering Tuhan sendirilah yang menabur kegelisahan di dalam diri kita sehingga kita datang kepada-Nya, untuk menemukan Dia,” katanya.

“Kita paling tidak harus menaruh curiga bahwa dalam konteks global -yang terutama berisikan kepentingan-kepentingan ekonomi- damaian yang diinginkan sejumlah orang, berarti perang bagi orang lain.”

“Ini tentu saja bukan damai Kristus,” kata paus.

Paus mengakhiri pesannya dengan seruan untuk “damai sejati dan keseimbangan batin seutuhnya yang mengalir dari kedamaian Kristus yang datang dari Salib-Nya dan melahirkan manusia baru.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest