Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Features (Bahasa) Pekerja Kamboja terpuruk setelah pabrik tidak beroperasi akibat COVID-19

Pekerja Kamboja terpuruk setelah pabrik tidak beroperasi akibat COVID-19

Ekonomi Kamboja mulai merasakan dampak pandemi COVID-19, terutama pada industri garmen, alas kaki dan biro perjalanan.

Pabrik-pabrik, terutama garmen dan sepatu, pertama-tama mengalami kesulitan kekurangan bahan baku yang sebagian besar diimpor dari Cina. Kesulitan kedua muncul ketika merek-merek Eropa dan Amerika membatalkan pesanan setelah toko-toko ritel mereka ditutup karena pandemi.

Pabrik-pabrik ini bersama dan industri pariwisata adalah tulang punggung ekonomi Kamboja.



Negara di Asia Tenggara itu memiliki sekitar 1.000 pabrik yang mempekerjakan sekitar 850.000 pekerja, kata Organisasi Buruh Internasional.

Selama konferensi pers baru-baru ini, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengumumkan bahwa lebih dari 100 pabrik telah menangguhkan operasi mereka selama bulan Maret dan April.

Penangguhan tersebut menempatkan pemerintah Kamboja pada posisi yang sulit. Pada bulan Februari, Hun Sen berjanji kepada para pekerja bahwa mereka akan menerima 60 persen dari upah minimum – US$190 per bulan – jika pabrik mereka mengajukan penangguhan.

Tetapi minggu lalu dia mengumumkan pekerja yang ditangguhkan hanya akan menerima US$ 70 per bulan, atau 37 persen dari upah minimum yang dibayarkan oleh pemerintah dan pengusaha. Pemerintah akan membayar US $ 40 sementara majikan akan membayar US $ 30, kata Hun Sen, menambahkan bahwa penurunan jumlah yang diumumkan pada bulan Februari karena pengusaha tidak mampu membayar lebih.

Foto ini diambil saat para pekerja pabrik di Phnom Penh  sedang istirahat makan siang di pada bulan April. (Foto oleh Yon Sineat)
- Newsletter -

Rom Phary telah bekerja di Pabrik Garmen Gladpeer selama lebih dari 10 tahun. Pabrik menghentikan operasinya dari 1 April hingga 1 Mei.

Wanita berusia 36 tahun itu mengatakan bahwa dia tidak tahu berapa jumlah uang yang akan dia terima, karena pabriknya ditutup sebelum adanya pengumuman perdana menteri.

“Kami akan tahu pada 25 April, saat kami menerima bayaran,” katanya. Pabrik tempat Phary bekerja memiliki 3.000 pekerja.

Tetapi masa depan untuk industri setelah April juga tampak suram.

Beberapa merek pakaian luar negeri telah membatalkan pesanan mereka pada pabrik-pabrik di Kamboja atau menunda pesanan baru. Sejumlah merek terkenal, seperti H&M, Adidas, M&S dan VF, mengatakan bahwa mereka berkomitmen untuk membayar apa yang telah mereka pesan, tetapi tidak pasti berapa banyak pesanan baru yang akan dilakukan oleh merek-merek ini.

Yang lain bertindak bahkan lebih drastis.

Dalam sebuah surat, tertanggal 23 Maret, yang didapat oleh wartawan LiCAS.news di Phnom Penh, pengecer mode Belanda-Belgia-Jerman C&A mengatakan bahwa “semua pesanan – terlepas dari status / perkembangan saat ini – dengan tanggal pengiriman terakhir pada bulan Maret, April , Mei atau Juni 2020 dengan ini dibatalkan, dengan segera.”

Surat itu juga menyatakan bahwa tidak ada pesanan “yang boleh dilanjutkan produksinya, efektif segera.”

C&A adalah pembeli utama di Kamboja.

Kamboja tidak sendirian dalam hal ini. Pabrik-pabrik di seluruh dunia membatalkan pesanan mereka, terutama di negara tetangganya Bangladesh.



Dalam sebuah surat terbuka, Asosiasi Produsen Garmen Kamboja (GMAC) telah mendesak merek-mereka itu untuk “menghormati persyaratan” kontrak pembelian.

GMAC mengatakan bahwa produsen beroperasi dengan margin yang sangat tipis dan tidak mampu untuk memikul kewajiban seperti itu dibandingkan dengan merek internasional.

“Beban yang dihadapi oleh pekerja kami yang sangat memerlukan makanan di atas meja sangat besar dan ekstrim,” bunyi surat itu.

Ath Thorn, presiden Konfederasi Buruh Kamboja, juga prihatin. Dia percaya beberapa majikan memanfaatkan pandemi sebagai alasan untuk menyingkirkan pekerja mereka.

“Ada pabrik yang memiliki kemampuan untuk membayar pekerja, tetapi mereka menggunakan kesempatan ini [sebagai alasan untuk tidak melakukannya],” katanya.

Thorn mengatakan bahwa serikatnya, bersama-sama dengan mitra-serikat pekerja, baru-baru ini mengajukan petisi kepada pemerintah untuk menepati janji pada bulan Februari untuk membayar pekerja.

“Biasanya pekerja membutuhkan antara US $ 200 dan US $ 250 per bulan untuk menutupi semua pengeluaran mereka, seperti bayar kontrakan, makanan, dan cicilan pinjaman,” kata Thorn. “Jika mereka hanya mendapatkan US $ 70, mereka akan menghadapi kekurangan keuangan yang besar.”

Karyawan pabrik di Phnom Penh beristirahat dari pekerjaan mereka pada bulan April ini. (Foto oleh Yon Sineat)

Meskipun mungkin kondisi yang lebih buruk belum datang, banyak pekerja sudah berjuang, termasuk pekerja garmen seperti Phary yang tinggal di Phnom Penh.

Phary dan suaminya mengambil pinjaman US $ 10.000 untuk membeli sebidang tanah kecil, di mana pasangan itu berharap bisa membangun rumah kecil di masa depan. Sisa pinjaman digunakan untuk membeli sepeda motor baru dan untuk membayar kebutuhan pendidikan dua anak mereka.

“Setiap bulan saya harus membayar cicilan $ 300 ke bank. Saya juga perlu membayar sewa US$ 150 per bulan, dan kemudian ada kenaikan harga untuk makanan dan barang-barang lainnya,” kata Phary.

“Saya berharap bahwa saya bisa mengatasi semua itu dengan gaji saya di pabrik, dan dengan penghasilan suami saya di lokasi konstruksi, tetapi saat ini semuanya tidak bekerja sesuai rencana. Pabrik saya telah menangguhkan semua pekerjaan, dan suami saya juga tidak banyak proyek.”

Phary sekarang kebingungan bagaimana mereka akan mengelola pengeluaran jika dia hanya menerima US $ 70 per bulan.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest