Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Hari Bumi, aktivis tekankan perlunya lingkungan sehat dalam melawan pandemi

Hari Bumi, aktivis tekankan perlunya lingkungan sehat dalam melawan pandemi

Pakar lingkungan di Manila memperingatkan bahwa “masalah lingkungan serius yang belum terselesaikan” akan berkontribusi pada munculnya kembali penyakit menular, termasuk COVID-19.

Menjelang perayaan Hari Bumi pada 22 April, para aktivis mendesak perlunya penghijauan daerah aliran sungai dan pemandangan kota untuk membangun “ketahanan kolektif” terhadap penyebaran virus corona.

“Mengembalikan hutan daerah aliran sungai dan memperbaiki tata kota adalah solusi langsung dan jangka panjang,” kata Leon Dulce dari Jaringan Masyarakat untuk Lingkungan Kalikasan.

“Kami akan bisa memenangkan setengah pertempuran melawan penyakit menular yang muncul jika kita hidup di lingkungan yang berkelanjutan dan mengatasi ketidakseimbangan ekologis,” tambahnya.



Dalam webinar menjelang peringatan 50 tahun Hari Bumi, Marilen Parungao-Balolong, seorang dokter kesehatan masyarakat, memperingatkan bahwa “perubahan lingkungan memiliki dampak besar pada kemunculan dan kemunculan kembali penyakit menular tertentu.”

“Integritas ekosistem sangat penting,” katanya, dan menambahkan bahwa lingkungan dapat mengatur penyakit dengan mendukung keanekaragaman spesies “sehingga satu patogen bisa sulit untuk berkembang, menguatk dan mendominasi.

“Dia memperingatkan bahwa Filipina memiliki risiko tinggi bagi kemunculan dan hidup kembalinya penyakit menular, mengingat bahwa “ini terjadi terutama di negara-negara dengan keanekaragaman hayati yang tinggi dan masalah lingkungan, sosial, dan ekonomi yang belum terselesaikan dengan serius.”

- Newsletter -

Kelompok aksi sosial dari Konferensi Waligereja Katolik Filipina juga menyerukan “konversi ekologis” untuk memerangi penyebaran penyakit menular pada Hari Bumi.

Pastor Edwin Gariguez, sekretaris eksekutif Caritas Filipina, mengatakan pandemi virus corona itu mendesak “konversi sosial dan struktural yang mendalam” dan “konversi ekologis yang sangat intim.”

Imam itu mengatakan bahwa perang melawan pandemi dan krisis kesehatan di masa depan akan tergantung pada “cara kita menjaga Rumah Kita Bersama.”

“Kehidupan manusia tergantung pada kesejahteraan planet ini dan semua penghuninya. Semakin kita mengganggu keanekaragaman hayati, semakin kita membahayakan hidup dan kesehatan kita, ”katanya.

Pastor Gariguez meminta umat beriman untuk “memperluas” narasi pandemi virus corona di luar masalah kesehatan dan ekonomi dan memandang perusakan lingkungan sebagai “penyebab utama.”

“Manusia mengambil satwa liar dari habitat alaminya dan mengeksploitasi sumber daya yang terbatas,” kata imam itu, menambahkan bahwa aktivitas manusia menghancurkan keanekaragaman hayati “seolah-olah kita bukan bagian dari itu.”

Imam itu mengatakan bahwa semua manusia adalah bagian dari alam dan “kita perlu menghormati dan melindungi rumah kita – seluruh ekosistem, habitat dan keanekaragaman hayati planet ini.”

Kelompok Gereja dan massa pro-lingkungan hidup mendesak perlindungan lingkungan saat karafan “Hak-hak Bumi” pada tahun 2018. (Foto oleh Maria Tan)

Peringatan secara online

Sementara itu, sebuah keuskupan Katolik di Filipina tengah, meminta umat beriman untuk bergabung dalam aktivitas online untuk menandai perayaan 50 tahun Hari Bumi.

Hari Bumi adalah acara tahunan global, yang peringati setiap tanggal 22 April untuk merayakan gerakan lingkungan hidup dan meningkatkan kesadaran tentang polusi dan cara-cara untuk menjaga lingkungan  bersih.

Uskup San Carlos Uskup Gerardo Alminaza mendesak umat beriman untuk menunjukkan solidaritas dan kepedulian mereka terhadap Ibu Bumi saat berada di rumah melalui kegiatan digital.

“Dengan pembatasan jarak sosial di berbagai tempat di seluruh dunia untuk memerangi penyebaran virus corona, Hari Bumi akan dirayakan secara online,” kata uskup itu.

Dia mendorong orang-orang di keuskupannya untuk berpartisipasi dalam kegiatan online untuk membela Ibu Bumi “sebagai bentuk rantai manusia tetapi melalui platform yang berbeda.”

Salah satu kegiatan yang disarankan oleh Uskup Alminaza adalah “tantangan menari” menggunakan aplikasi seluler yang “nantinya akan kita bentuk menjadi rantai manusia virtual.”



Kaum muda keuskupan itu juga membuat bingkai foto Hari Bumi, yang dapat digunakan pengguna online untuk dijadikan foto profil mereka.

Prelatus itu juga mendorong netizen untuk mengunggah interpretasi mereka sendiri atas  lagu “Together We Can Change the World.”

“Kami mendorong paroki-paroki kami untuk membuat inisiatif untuk berbagi, seperti membuat vlog tentang cara merawat rumah kita bersama,” katanya.

Uskup Alminaza mengatakan, perayaan Hari Bumi harus memberi perhatian pada sejumlah besar masalah yang membutuhkan “keterlibatan dan partisipasi aktif kita bersama.”

Dia mengatakan orang dapat membuat “perbedaan besar” melalui kontribusi kecil dengan berdiri bersama sebagai satu untuk melindungi “Rumah Kita Bersama dan semua ciptaan.”

WordPress, sebuah platform blog, telah mengumumkan streaming langsung selama tiga hari dan mobilisasi komunitas secara besar-besaran mulai 22 hingga 24 April untuk menunjukkan dukungan bagi planet bumi.

Acara yang dijuluki “Earth Day Live” ini akan memungkinkan jutaan orang di seluruh dunia untuk mendengarkan secara online bersama para aktivis, selebriti, musisi, dan banyak lagi.

Acara besar-besaran yang disiarkan langsung ini diselenggarakan oleh kelompok iklim, lingkungan, dan masyarakat adat di United States Climate Strike Coalition dan Stop The Money Pipeline Coalition.

Mark Saludes turut melaporkan.

Leave a Reply

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest