Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Paus Fransiskus desak karismatik Katolik mewujudkan keadilan sosial

Paus Fransiskus desak karismatik Katolik mewujudkan keadilan sosial

Paus Fransiskus meminta komunitas karismatik Katolik untuk bekerja demi mewujudkan keadilan sosial di tengah berbagai tantangan yang ditimbulkan oleh pandemi virus corona.

Dalam sebuah pesan video yang dirilis pada 30 Mei, sehari menjelang Pentakosta, paus mengatakan tugas setiap orang Kristen adalah “untuk membangun realitas baru.”

Kepada Pelayanan Pembaruan Karismatik Katolik Internasional (CHARIS), paus mengatakan Gereja perlu bersama orang miskin karena dunia akan menghadapi era pasca-pandemi.




CHARIS adalah organisasi yang bermarkas di Vatikan yang didirikan pada Desember 2018 melalui Dikasteri bagi Awam, Keluarga, Kehidupan untuk melayani Gerakan Pembaruan Karismatik Katolik di seluruh dunia.

“Semua penderitaan akan sia-sia jika kita tidak membangun bersama masyarakat yang lebih adil, yang lebih setara, yang lebih Kristen, bukan atas dasar nama, tetapi kenyataan, yaitu kenyataan yang menuntun kita pada perilaku Kristen,” katanya.

Paus meminta gerakan karismatik Gereja Katolik bekerja “untuk mengakhiri wabah kemiskinan di dunia.”

“Jika kita tidak bekerja untuk mengakhiri pandemi kemiskinan di dunia, pandemi kemiskinan di negara kita masing-masing … semuanya akan sia-sia,” tambahnya.

- Newsletter -

“Kita hidup di dunia yang sangat terluka dan menderita, terutama dalam diri yang termiskin dan yang dibuang. Ketika semua harta manusia kita telah lenyap, dunia membutuhkan kita untuk menghadirkan Yesus,” kata Paus Fransiskus.

“Jika kita tidak hidup sesuai dengan apa yang Yesus katakan kepada kita: ‘Ketika saya lapar, mereka memberi saya makanan, ketika saya dipenjara mereka mengunjungi saya, ketika menjadi orang asing mereka menerima saya,’ maka kita tidak akan menjadi lebih baik,” kata paus.

Dia mengajak gerakan karismatik Katolik untuk berpedoman pada refleksi teologis tentang pembaruan karismatik yang ditulis pada tahun 1970-an oleh Kardinal Leo Joseph Suenens dan Uskup Helder Camara.

Uskup Suenens dari Mechelen-Brussel menjadi suara terkemuka pada Konsili Vatikan II dan menganjurkan ‘aggiornamento’ (perubahan) dalam Gereja.

Dokumen “Pembaruan Karismatik dan Pengabdian Manusia,” yang ia tulis bersama Uskup Camara, seorang pembela Teologi Pembebasan, menyerukan gerakan pembaruan agar setia pada panggilan Roh Kudus dan pada persatuan Kristiani dan keadilan sosial.

“Setialah pada panggilan Roh Kudus ini,” kata Paus Fransiskus dan  menambahkan bahwa, “Hari ini, lebih dari sebelumnya, kita membutuhkan Bapa untuk mengirimi kita Roh Kudus.”

“Kita membutuhkan Roh untuk memberi kita mata baru, membuka pikiran dan hati kita untuk menghadapi saat ini dan masa depan dengan pelajaran yang telah kita pelajari: bahwa kita adalah satu umat manusia. Kita tidak diselamatkan sendirian,” katanya.

Dia mengatakan pandemi telah menggarisbawahi bahwa, meskipun berbeda-beda, orang-orang Kristen adalah satu, disatukan oleh kuasa Roh Kudus.

“Cobaan-cobaan besar terhadap umat manusia, di antaranya  pandemi, akan membuat seseorang keluar menjadi lebih baik atau lebih buruk.”

“Saya ingin bertanya: Anda mau yang mana? Menjadi lebih baik atau lebih buruk? Dan itulah sebabnya hari ini kita membuka diri kepada Roh Kudus sehingga Dia dapat mengubah hati kita dan membantu kita keluar menjadi lebih baik.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest