Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Saat India kesulitan tangani COVID-19, Rumah Sakit Katolik jadi andalan

Saat India kesulitan tangani COVID-19, Rumah Sakit Katolik jadi andalan

Bhagaa Ram, seorang pedagang keliling berusia 67 tahun dari kota Mumbai, India, harus mengantri selama lebih dari tiga hari di rumah sakit pemerintah untuk menjalani tes virus corona.

Ram menderita sesak napas parah dan tidak mampu menelan makanan. Setelah dites, akhirnya ia diberi tahu bahwa ia terjangkit virus yang telah menginfeksi lebih dari 366.000 orang di India dan membanjiri banyak rumah sakit di negara itu.

Bukannya dirawat, Ram malah disuruh pulang.

“Tidak ada ruangan yang tersedia di rumah sakit. Dokter hanya memberikan obat dan memberi tahu kami agar ayah saya dikarantina di rumah,” kata putra sulung Ram, Keval Krishan, kepada LiCAS.news.




Tetapi situasi Ram memburuk dan seorang kerabat menyarankan dia dibawa ke Rumah Sakit St. Maria di kota.

“Situasi di sana jauh lebih baik daripada di tempat lain. Tes sekali lagi dilakukan, dan ayah dipindahkan ke bangsal yang terpisah. Alhamdulillah, dia sekarang sudah mulai pulih,” kata Keval.

Tidak semua beruntung seperti Ram. 

Seorang wanita mengamati para petugas kesehatan dengan peralatan pelindung diri memeriksa suhu penghuni perkampungan kumuh untuk mengetahui penyakit virus corona di Mumbai, India, 17 Juni. (Foto oleh Francis Mascarenhas / Reuters)
- Newsletter -

Seperti rumah sakit yang dikelola pemerintah di Mumbai, banyak rumah sakit umum di daerah-daerah yang dilanda virus itu sedang berjuang. Menurut BBC, sekitar tiga perempat dari kematian akibat virus corona di India telah dilaporkan dari tiga negara bagian – Maharashtra, Gujarat dan Delhi.

Dilip Banergee, seorang profesional teknologi informatika yang berbasis di ibukota India, New Delhi, mengatakan pamannya meninggal karena COVID-19 minggu lalu setelah sebuah rumah sakit umum pemerintah tidak menerimanya.

“Paman saya punya masalah pernapasan dan demam tinggi. Kami memohon kepada otoritas rumah sakit, tetapi mereka menolaknya karena tidak ada tempat. Dia meninggal di pinggir jalan beberapa jam kemudian, ”kata Dilip.

Pamannya menjadi satu dari 12.000 orang India yang telah meninggal karena virus yang berasal dari Tiongkok tahun lalu.

Imtiyaz Aksar, seorang sarjana penelitian dalam bidang kesehatan, mengatakan kepada LiCAS.news bahwa kecepatan penyebaran virus di negara itu – meskipun dikunci secara nasional – dikhawatirkan akan menjangkit 60 persen negara dengan populasi 1,3 miliar itu.




“Jika rumah sakit pemerintah tidak dilengkapi dengan baik, ada kebutuhan untuk memanfaatkan layanan dari organisasi nirlaba, lembaga perawatan kesehatan swasta untuk membantu mengatasi krisis saat ini, atau situasi akan menjadi sangat mengerikan,” kata Aksar.

Pastor Mathew Abraham, direktur jenderal Asosiasi Kesehatan Katolik India (CHAI), mengatakan bahwa mengingat kompleksitas negara dan situasi COVID-19 yang muncul, tidaklah mudah untuk memperkirakan masalah sambil menangani virus pada saat yang sama.

“Sekitar 20 rumah sakit CHAI kami bekerja sama dengan pemerintah dalam perang melawan virus corona,” kata Pastor Mathew. “Sebagian besar rumah sakit ini telah menandatangani MoU dengan otoritas pemerintah daerah dan didukung oleh mereka sampai batas tertentu,” katanya.

“Di salah satu rumah sakit kami di Mumbai, kami merawat rata-rata sekitar 125 pasien setiap hari, 25 di antaranya menggunakan ventilator. Ada banyak permintaan dan situasinya sangat menantang di beberapa bagian negara ini, ”kata Pastor Mathew.

“Beberapa staf kami, termasuk biarawati telah terinfeksi saat merawat pasien COVID-19,” katanya.

Pastor Mathew mengatakan bahwa CHAI memiliki lebih dari 500 rumah sakit dan 50.000 tempat tidur di seluruh negeri.

“Saat ini upaya kami lebih difokuskan pada negara-negara bagian yang mengalami lonjakan serius dalam jumlah pasien COVID-19,” katanya.

Perawatan diberikan secara gratis di rumah sakit Katolik. Seorang pasien hanya membayar biaya masuk sebesar Rs 100 (US $ 1,50).

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest