Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Gereja desak pemerintah Pakistan ambil tindakan untuk mengakhiri intoleransi

Gereja desak pemerintah Pakistan ambil tindakan untuk mengakhiri intoleransi

Para pemimpin Gereja dan setidaknya dua organisasi Kristen meminta pemerintah Pakistan untuk melindungi warganya dan mengambil “langkah-langkah tegas” untuk mengakhiri intoleransi agama.

Seruan itu muncul setelah kematian seorang Kristen Pakistan yang dibunuh oleh tetangganya seorang Muslim di TV Colony di Peshawar.

Korban, yang diidentifikasi sebagai Nadeem Joseph meninggal setelah ia dan ibu mertuanya, Elizabeth Masih, ditembak beberapa kali pada 4 Juni, beberapa hari setelah keluarganya pindah ke TV Colony.




Para tersangka penyerang – Salman Khan dan putra-putranya – yang tinggal di seberang rumah Joseph dilaporkan “tidak bahagia” ketika mereka mengetahui bahwa keluarga Kristen telah pindah ke lingkungan itu.

Para tetangga dilaporkan menuntut agar Joseph dan keluarganya mengosongkan tempat itu karena orang Kristen seharusnya tidak diizinkan untuk tinggal di lingkungan Muslim.

“Keluarga Nadeem dalam kesulitan dan dalam bahaya setelah serangan ini,” kata Uskup Agung Joseph Arshad ketua Komisi Nasional untuk Keadilan dan Perdamaian (NCJP) Konferensi Waligereja Pakistan dalam pernyataan bersama yang dikirim ke Agenzia Fides.

“Pemerintah harus memastikan keamanan dan perlindungan bagi mereka dan bagi semua minoritas agama,” kata pernyataan yang ditandatangani oleh ketua NCJP Pastor Emmanuel Yousaf dan direktur eksekutif Cecil S. Chaudhry.

- Newsletter -

“Masyarakat Pakistan menjadi semakin tidak toleran dan hidup sebagai minoritas agama menjadi semakin sulit.”

“Ada banyak insiden serupa yang tidak dilaporkan. Kelompok minoritas agama terus mengalami diskriminasi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, ”tambah pernyataan itu.

Agenzia Fides melaporkan bahwa polisi telah menangkap beberapa orang atas pembunuhan tersebut.

Umat Katolik setelah menghadiri Misa di Gereja Maria Santa Imakulata di Lahore pada 7 Juni. (Foto oleh Arif Ali/AFP)

Michelle Chaudhry, presiden Yayasan Cecil & Iris Chaudhry, juga mengutuk “tindakan kekerasan yang mengerikan ini.”

Chaudry menyerukan kepada pihak berwenang untuk “memastikan keselamatan dan perlindungan semua warga Pakistan tanpa memandang keyakinan, kasta atau jenis kelamin.”

Dia mengatakan “pola pikir fanatik, yang dipelihara selama beberapa dekade berakar sangat dalam” di masyarakat Pakistan.

Christian Solidarity Worldwide (CWS), sebuah organisasi hak asasi manusia internasional yang fokus pada kebebasan beragama, menyerukan kepada pemerintah Pakistan untuk mengambil langkah-langkah abadi untuk mengubah kebencian dan intoleransi yang sudah endemik ini.

Kepala eksekutif CWS Mervyn Thomas mengatakan insiden itu menggambarkan kerentanan agama minoritas di Pakistan.

Dia mencatat bahwa tingkat kebencian dan intoleransi terhadap minoritas agama di negara itu “dibiarkan untuk bercokol dan berakar.”




CSW mencatat bahwa minoritas Kristen Pakistan menghadapi diskriminasi endemik dalam semua aspek kehidupan, termasuk di sektor pekerjaan dan pendidikan.

Kelompok itu mengklaim bahwa minoritas agama di negara itu terus menerus menjadi sasaran pidato kebencian sektarian.

“Serangan terhadap masyarakat terus terjadi dalam iklim impunitas dan intervensi pemerintah yang tidak memadai,” tambah CWS.

Penduduk Muslim membentuk 96 persen dari total populasi Pakistan yang berjumlah 212 juta, sementara orang Kristen hanya 1,6 persen.

Menurut daftar Daftar Pantau Open Doors USA 2020, Pakistan berada di urutan kelima negara terburuk di dunia dalam hal penganiayaan terhadap umat Kristen.

Laporan Departemen Negara AS tentang Praktik Hak Asasi Manusia Pakistan tahun 2019  mengatakan bahwa “kekerasan sosial akibat intoleransi agama tetap menjadi masalah serius” di negara itu.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest