Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Pemimpin Katolik di Jepang, Amerika serukan pelucutan senjata nuklir

Pemimpin Katolik di Jepang, Amerika serukan pelucutan senjata nuklir

Para pemimpin gereja Katolik di Jepang dan Amerika Serikat kembali menyerukan pelucutan senjata nuklir minggu ini saat dunia memperingati 75 tahun serangan bom atom pada akhir Perang Dunia II.

Para pemimpin gereja mengatakan akan sangat ideal jika Amerika Serikat dan Jepang “benar-benar berdamai satu sama lain dan bekerja sama untuk penghapusan senjata nuklir.”

“Selama masih ada pemikiran bahwa senjata diperlukan untuk menciptakan perdamaian, akan sulit untuk mengurangi jumlah senjata nuklir, apalagi untuk menghapuskan senjata nuklir,” kata Uskup Agung Nagasaki, Mitsuaki Takami dari Nagasaki seperti dilaporkan CNS.




Berbicara dalam webinar pada 3 Agustus, Uskup David J. Malloy dari Rockford, Illinois, dan Uskup Agung Takami menegaskan kembali seruan konferensi para uskup dari kedua negara untuk menghapus senjata nuklir.

Uskup Malloy mengatakan bahwa dunia harus “menemukan sarana untuk pelucutan senjata penuh dan saling menguntungkan berdasarkan komitmen dan kepercayaan bersama yang perlu dipupuk dan diperdalam.

Bom atom menghancurkan kota Hiroshima pada 6 Agustus 1945 dan tiga hari kemudian menghancurkan kota Nagasaki. Pemboman nuklir itu menewaskan antara 110.000 – 210.000 orang.

Uskup Agung Takami, ketua konferensi para uskup Jepang, mengutip kata-kata St Paus Yohanes Paulus II, yang mengunjungi kedua kota itu pada tahun 1981, mendesak semua orang agar berkomitmen bagi masa depan tanpa senjata nuklir.

Gumpalan asap setinggi lebih dari 60.000 kaki menjulang di atas Nagasaki, Jepang, yang berasal dari bom atom yang kedua yang digunakan dalam peperangan, yang dijatuhkan dari pesawat pembom B-29 Superfortress pada 9 Agustus 1945. (Foto dari Angkatan Udara AS via Reuters )
- Newsletter -

Seruan mendiang Paus itu mendorong konferensi para uskup Jepang untuk menetapkan 6-15 Agustus setiap tahun sebagai “10 Hari Doa untuk Perdamaian” mulai tahun 1982.

“Paus Fransiskus melangkah lebih jauh dan menyatakan bahwa memiliki dan menggunakan nuklir adalah tidak bermoral,” kata Uskup Agung Takami.

“Paus menekankan perlunya persatuan dan bekerja bersama menuju dunia yang bebas dari senjata nuklir dan gereja berkomitmen untuk mencapai tujuan itu,” katanya.

Pada 7 Juli, Uskup Hiroshima Alexis Mitsuru Shirahama meluncurkan Yayasan Dunia Bebas Nuklir dengan tiga organisasi perdamaian untuk mendukung orang-orang yang bekerja untuk meratifikasi Perjanjian tentang Pelarangan Senjata Nuklir, yang disetujui pada tahun 2017 oleh mayoritas negara anggota PBB.

Takhta Suci menjadi salah satu entitas pertama yang meratifikasi perjanjian itu.

Ruang Promosi Industri Prefektur Hiroshima, saat ini disebut Kubah Bom Atom atau Kubah Bom-A, terlihat dari Jembatan Aioi di Hiroshima sebelum (atas) dan setelah (bawah) pemboman Hiroshima, Jepang pada 6 Agustus 1945. (Foto dari Museum Peringatan Perdamaian Hiroshima via Reuters)

Sementara itu, Uskup Malloy mengatakan, para uskup Amerika tetap berdedikasi pada visi perlucutan senjata yang dinyatakan dalam surat pastoral mereka tahun 1983 yang berjudul “Tantangan bagi Perdamaian: Janji Tuhan dan Tanggapan Kita.”

Dokumen itu membawa para uskup pada “pembentukan iklim opini yang akan memungkinkan negara kita untuk menyatakan kesedihan mendalam atas bom atom tahun 1945.”

“Tanpa kesedihan itu, tidak mungkin menemukan cara untuk menolak penggunaan senjata nuklir di masa depan,” tambahnya.

Dalam kunjungan apostolik ke Jepang tahun lalu, Paus Fransiskus mendesak “keterlibatan semua pihak” untuk menentang ancaman senjata pemusnah massal.

“Dunia yang damai, bebas dari senjata nuklir, adalah cita-cita jutaan pria dan wanita di seluruh dunia,” kata paus dalam pidato yang disampaikan pada 24 November 2019 di lokasi serangan nuklir tahun 1945 di Nagasaki.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest