Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Church & Society (Bahasa) Uskup Asia didesak untuk membaca, merenungkan ensiklik Fratelli Tutti

Uskup Asia didesak untuk membaca, merenungkan ensiklik Fratelli Tutti

Surat dari Presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia untuk para Uskup dan Gereja Asia.

Para Uskup se-Asia, Saudari dan Saudara terkasih dari seluruh Gereja di Asia.

Dengan hormat, sukacita dan cinta, saya mengucapkan salam damai bagi Anda. Melalui surat ini saya ingin mendorong Anda untuk membaca, merefleksi dan mendoakan Ensiklik Paus Fransiskus terbaru, ‘Fratelli Tutti’ tentang persaudaraan dan persahabatan sosial.

Pada saat-saat pertama masa kepausannya, Paus Fransiskus menundukkan kepala di depan orang-orang yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus dan mengundang mereka: “Mari kita selalu berdoa untuk satu sama lain. Mari kita berdoa untuk seluruh dunia, semoga ada persaudaraan yang besar.”

Gereja yang hidup selalu membuat kejutan

Tahun 2020 ini adalah tahun kekacauan, ketakutan dan kehilangan bagi sebagian besar dari Anda dan umat Anda. Ini berat bagi Anda, sangat sesak jika dipaksa untuk tinggal di rumah dan menutup gereja Anda. Kalender kosong. Donasi mengering. Kelaparan meningkat di antara orang miskin kita. Tentu kita takut akan masa depan.

Namun Paus Fransiskus mendesak kita untuk tidak membuat tanggapan yang dangkal terhadap masa krisis ini. Kita tidak pernah berhenti menjalankan misi. Sekaranglah waktunya untuk membangun rasa hormat satu sama lain, untuk hidup seperti yang kita inginkan di dunia ini di masa depan. “Jika Gereja masih hidup, itu pasti selalu mengejutkan.”

- Newsletter -

Jangan biarkan kegembiraan Injil di hati Anda menipis. Jangan menyerah pada budaya ketidakpedulian. Meskipun dikelilingi rasa sakit di sekitar kita, ketahuilah, dia mendesak kita dalam ensiklik ini, tentang hadiah yang luar biasa, besar, mengejutkan dan tak terkira dalam “persaudaraan”.

Persaudaraan, yang berarti kepedulian dan penghormatan terhadap saudara dan saudari kita, adalah landasan dan jalan menuju perdamaian. Persaudaraan adalah solidaritas dan dialog, dan itu adalah agama yang benar. Tanpa persaudaraan, kebebasan dan kesetaraan tidak berarti apa-apa.
Lebih dari satu pandemi

Ada lebih dari satu pandemi di dunia sekarang, kata Fransiskus  kepada kita. COVID-19 hanya mengekspos penyakit sistemik yang sudah lama ada. Rasisme, ketidaksetaraan, perkataan yang mendorong kebencian, acuh tak acuh terhadap orang miskin, orang tua dan bayi dalam kandungan, perdagangan wanita dan anak – semuanya bersama kita dalam proporsi pandemi.

Anda masing-masing sangat menyadari dimana budaya kematian hadir di keuskupan Anda, Gereja lokal Anda, dalam masyarakat Anda. Kita tahu bahwa setidaknya delapan belas negara di Asia masih melegalkan hukuman mati. Kita memiliki perdagangan senjata di Asia dan perang yang berlangsung paling lama di dunia. Jutaan orang tidak punya pilihan selain meninggalkan keluarga mereka dan mengungsi ke luar negeri untuk mencari pekerjaan. Ini adalah hal-hal yang sudah ada dalam agenda kita yang menjadi tantangan bagi pesan Injil dan membutuhkan tanggapan dari kita. Terhadap ini semua kita harus mengembangkan vaksin kasih sayang, solidaritas dan keadilan.

Kardinal Charles Maung Bo dari Yangon, presiden Federasi Konferensi Waligereja Asia. (Foto tersedia)

Orang Samaria yang Baik

Dalam Fratelli Tutti, Paus Fransiskus memimpin kita dalam meditasi St. Ignatius tentang perumpamaan Injil yang terkenal tentang orang Samaria yang digerakkan oleh belas kasih. Ada pemahaman Yahudi kuno bahwa perumpamaan dimaksudkan untuk menghibur yang menderita dan membuat yang nyaman merasa tidak nyaman.  

Kata-kata Kristus kepada ahli hukum ditujukan kepada kita. Paus Fransiskus meminta kita untuk masuk ke dalam cerita ini dan membayangkan diri kita sebagai salah satu pejalan kaki religius yang lewat, sebagai korban, bahkan sebagai salah satu perampok, mungkin sebagai ahli hukum, atau sebagai penjaga penginapan yang kagum pada kemurahan hati penyelamat, dan akhirnya sebagai orang Samaria.

Kemudian kita dihadapkan kembali dengan pertanyaan, ‘siapakah sesamaku?’ Dan pertanyaan yang tak terhindarkan di hati kita: apakah kita tergerak oleh belas kasih? Cinta membangun jembatan. Kita tergerak untuk menegaskan bahwa kita diciptakan untuk cinta.

Terinspirasi oleh meditasi perumpamaan itu, Paus Fransiskus memetakan jalan umum bagi umat manusia melalui komitmen terhadap perdamaian, menolak perang dan hukuman mati, mendorong pengampunan dan rekonsiliasi dalam masyarakat dan merawat rumah kita bersama.

Ketika kita melihat dengan mata dipertajam oleh Injil ini, kita akan mengenali Kristus dalam setiap orang yang tersisihkan. Apapun yang menyisihkan orang yang paling miskin akan kelihatan. Kita terpanggil untuk mengkritik budaya pemborosan dan untuk membela hak asasi manusia yang dibuat rentan oleh masyarakat, seperti perempuan, anak-anak, ras minoritas, pengungsi, yang belum lahir, yang lanjut usia dan banyak lainnya.

Menghormati orang dan kepentingan umum hanya tumbuh dari persaudaraan sejati. Dalam rasa lapar yang dihadapi orang-orang kita setiap hari, kita juga melihat contoh-contoh welas asih yang mengilhami dalam berbagi makanan dan Orang Samaria yang Baik hati yang secara sukarela melayani mereka untuk merawat orang lain.

 Paus Fransiskus menandatangani ensiklik terbarunya, “Fratelli Tutti” (Kita Semua Saudara), di ruang bawah tanah tempat Santo Fransiskus dari Assisi dimakamkan di Assisi, Italia, 3 Oktober (Foto dari Vatican Media / via Reuters)

Hubungan persaudaraan antar agama

Jelas bahwa Fransiskus awalnya berencana untuk memfokuskan ensiklik ini pada hubungan persaudaraan antar agama, yang dicontohkan dalam  semangat persaudaraan yang dengannya ia menandatangani pernyataan di Abu Dhabi dengan Imam Besar Ahmad Al-Tayyeb. Namun saat dia menulis, dunia dilanda pandemi.

Kita sangat bersyukur bahwa dia memutuskan untuk memperluas cakupan ensiklik untuk merefleksikan krisis COVID-19 dan bahaya serta peluang yang ditimbulkannya. Di Asia, kedua realitas ini menyentuh kehidupan dan komunitas kita secara intim dan mendesak: hubungan antar agama dan respons segera terhadap krisis COVID-19.

Bapa Suci mendorong kita untuk dengan berani dan kreatif mencari kesempatan untuk membangun -di sini dan sekarang- dunia yang diinginkan Tuhan. Dia mendorong kita untuk menghadapi kesalahan masa lalu, untuk menyembuhkan luka dan untuk mencari dan menawarkan pengampunan, mengakui bahwa kebenaran adalah “rekan tak terpisahkan dari keadilan dan belas kasihan.” Masyarakat yang bangkit kembali dari COVID-19 adalah masyarakat yang menghargai persaudaraan.

Evangelii Gaudium, Laudato sì, Fratelli Tutti  tak terpisahkan

Tiga ensiklik besar Paus Fransiskus saling melengkapi. Evangelii Gaudium ada doa untuk rekonsiliasi dengan Tuhan. Laudato sì adalah seruan dari hati yang menyerukan rekonsiliasi dengan ciptaan. Fratelli Tutti memohon rekonsiliasi, dialog dan solidaritas di antara seluruh umat manusia sebagai saudara dan saudari.

Paus Fransiskus ingin kita menyadari bahwa kehadiran Tuhan meresap ke dunia, menginspirasi orang-orang dari semua budaya dan agama untuk mempromosikan rekonsiliasi dan perdamaian. Sebagai pelayan misi Kristus hari ini kita diundang untuk membantunya saat dia mengatur hubungan kita dengan Tuhan, dengan ciptaan, dan dengan manusia lain.

Dunia yang terbuka, hati yang terbuka

Ketika kekurangan rasa persaudaraan menciptakan keegoisan, permusuhan dan dunia yang tertutup, Injil menyerukan dunia yang terbuka dan hati yang terbuka. Tidak ada ‘orang lain’, tidak ada ‘mereka’, yang ada hanya ‘kita’. Kita menginginkan – dengan Tuhan dan di dalam Tuhan- sebuah dunia yang terbuka, dunia tanpa tembok, tanpa batas, tanpa orang yang ditolak, tanpa orang asing.

Untuk mencapai dunia yang terbuka, kita harus memiliki hati yang terbuka. Untuk mencapai persaudaraan universal, etika sosial kita adalah menjadi panggilan untuk solidaritas, perjumpaan, dan keserasian.

Hanya jenis politik yang lebih baik yang akan menciptakan dunia terbuka dengan hati terbuka, yaitu politik untuk kebaikan umum dan universal; politik untuk dan dengan rakyat; politik yang mencari martabat manusia; politik perempuan dan laki-laki yang menjalankan politik kasih; politik yang mengintegrasikan ekonomi dan tatanan sosial dan budaya ke dalam proyek manusia yang menghidupkan dan konsisten.

Realitas Asia digaungkan dalam Fratelli Tutti

Realitas kita di Asia bergema dalam pesan mendesak dari Fratelli Tutti. Asia berada di persimpangan jalan. Jalan yang kita ambil akan menentukan warisan yang kita tinggalkan untuk generasi berikutnya. Apakah itu akan disia-siakan atau disimpan? Akankah Asia memilih keserakahan individu atau berkomitmen untuk kebaikan bersama?

Banyak hal bergantung pada bagaimana kita membangun kembali masyarakat setelah virus corona. Banyak pemerintah di Asia berusaha untuk kembali ke model ekonomi dan sosial yang telah dicoba dan gagal, jadi urgensi sangatlah tepat.

Sebagai umat Katolik kita mungkin minoritas di semua negara kecuali Filipina dan Timor Leste, tetapi nada kejujuran Fransiskus mendorong kita untuk berbicara dengan keras kepada semua orang sebagai saudara dan saudari.

Hukuman mati masih diterapkan di delapan belas negara Federasi Konferensi Waligereja Asia. Penderitaan orang Rohingya adalah luka di jiwa negara saya sendiri, Myanmar. Kita sangat merasakan ketegangan di antara masyarakat dan kita mencari kesempatan untuk menanggapi konflik yang sedang berlangsung di beberapa bagian Asia. Hati kita hancur melihat jutaan orang yang harus bermigrasi hanya untuk kelangsungan hidup mereka. Kita menangis atas kehancuran hutan hujan kita yang indah yang meregenerasi planet kita yang sakit dan memberikan kehidupan kepada masyarakat adat kita.

Gambar Santo Fransiskus dari Assisi di sebuah kaca gereja. (Foto oleh Zvonimir Atletic /shutterstock.com)

Semangat St Fransiskus dari Assisi

Semangat Santo Fransiskus dari Assisi hidup dalam Fratelli Tutti. Orang suci itu kontemplatif, radikal dalam kemiskinannya dan hubungannya dengan orang-orang yang miskin. Dia mengecam keserakahan dan kekerasan masyarakatnya sendiri, dan dia memiliki pengaruh yang luar biasa dibandingkan dengan kedudukan sosialnya. Santo Fransiskus dari Assisi dihidupkan untuk zaman kita dan untuk konteks kita oleh ensiklik ini.

Saudara-saudaraku para uskup, dan saudari serta saudara dari Gereja-Gereja Asia, terima kasih atas kesaksian hidup Anda semua. Semoga panggilan Bapa Suci untuk solidaritas, perjumpaan, dan keserasian menemukan gaung dalam hidup dan komunitas Anda. Semoga Anda menerima ajakan mendesak dari Paus Fransiskus untuk berdialog, menghormati dan bermurah hati kepada setiap manusia. Tuhan adalah cinta universal. Bunda Maria akan membimbing kita di jalan Tuhan, jalan persaudaraan universal.

Dengan penuh doa dan kasih dalam Kristus,

Kardinal Charles Maung Bo, SDB
Presiden Federasi Konferensi Waligerja Asia
Uskup Agung Yangon

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest