Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Tiongkok perketat aturan ibadah haji bagi Muslim

Tiongkok perketat aturan ibadah haji bagi Muslim

Pihak berwenang di Beijing memberlakukan aturan yang lebih ketat yang melarang ziarah haji secara pribadi oleh umat Muslim asal Tiongkok ke Mekah.

Kantor Administrasi Negara untuk Urusan Agama Tiongkok memerintahkan bahwa hanya perjalanan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Islam Tiongkok -yang disetujui negara- yang akan diizinkan.

Pemerintah mengatakan asosiasi Islam “harus mendidik peserta haji tentang perilaku patriotik dan aman … dan mencegah infiltrasi pemikiran dan perilaku ekstremis agama,” lapor South China Morning Post (SCMP).



Naik haji adalah ziarah tahunan umat Islam ke Mekah, kota paling suci bagi umat Muslim. Ini adalah praktik wajib bagi umat Islam yang harus dilakukan setidaknya sekali seumur hidup.

Akan tetapi Tiongkok menganggap ziarah pribadi sebagai ilegal dan Muslim yang akan melanggar aturan baru dapat menghadapi dampak serius.

Beijing telah menerapkan larangan ziarah pribadi dan hanya mengizinkan perjalanan resmi ke Mekah sejak 2005, tetapi aturan baru telah menentukan bahwa peserta haji harus dipilih. Muslim China yang “patriotik”, “taat hukum”, memiliki “perilaku baik”, dan memiliki kemampuan untuk mendanai perjalanan mereka akan diizinkan untuk pergi.

“Langkah-langkah tersebut mewajibkan ujian politik bagi Muslim yang ingin pergi haji,” kata Nury Turkel dari Komisi AS untuk Kebebasan Beragama Internasional.

- Newsletter -

“Sangat mungkin bahwa pemerintah mendiskriminasi kelompok Muslim tertentu karena ujian politik ini,” kata Turkel kepada SCMP.

Kebijakan Beijing tentang kebebasan beragama telah menuai kritik dari komunitas internasional, terutama di wilayah yang memiliki komunitas Muslim yang besar.

Shih Chien-yu, dosen hubungan Asia Tengah di Universitas Nasional Tsing Hua Taiwan, mengatakan kepada SCMP bahwa aturan baru itu adalah bagian dari upaya Beijing untuk mengontrol aktivitas keagamaan dan untuk mencegah terungkapnya dugaan kekejaman terhadap komunitas Muslim.

Ka’bah di dalam Masjid Al-Haram di Mekkah, Arab Saudi. (Foto oleh Sufi / Shutterstock.com)

“Selama naik haji, [Muslim asal Tiongkok] bertemu Muslim [lainnya] dari seluruh dunia, bertukar pengalaman dan saling mempengaruhi,” kata Shih.

“Beberapa Muslim yang kembali setelah melakukan haji membawa pulang pengalaman mereka dan mengkritik ulama Tiongkok setempat, yang menyebabkan masalah,” tambahnya.

Dia mengklaim bahwa Beijing takut dengan hasil perjalanan Muslim Tiongkok, menambahkan bahwa mereka yang menyelesaikan haji mendapatkan lebih banyak rasa hormat ketika mereka kembali ke Tiongkok.

Dia mengatakan Partai Komunis khawatir umat Islam bisa mengadopsi ajaran Islam yang akan mempertanyakan kebijakan negara tentang kebebasan beragama.

Organisasi hak asasi manusia dan laporan media mengindikasikan bahwa setidaknya satu juta Muslim Uyghur dan etnis dan agama minoritas lainnya di wilayah Xinjiang ditahan di “kamp pendidikan ulang” dan menjadi sasaran kerja paksa.



Sejak 1985, Beijing telah mengarahkan penyelenggaraan haji ke Mekah yang tersentralisasi, yang difokuskan pada daerah-daerah di mana terdapat populasi Muslim yang besar.

Turkel mengklaim bahwa Muslim Tiongkok yang menyelesaikan haji tanpa meminta persetujuan dari pemerintah telah “dilecehkan dan bahkan disiksa.”

Dia juga mengatakan Uyghur, yang merupakan kelompok Muslim terbesar kedua di Tiongkok, hanya diberi beberapa jatah untuk haji yang diselenggarakan negara.

Dari sekitar 12.000 Muslim Tiongkok yang menyelesaikan haji yang diselenggarakan negara pada tahun 2017, hanya 1.400 orang Uighur yang diizinkan untuk bergabung, menurut Persatuan Masyarakat Terancam di Jerman.

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest