Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Ahli Kitab Suci marah atas rangkaian pembunuhan di Filipina

Ahli Kitab Suci marah atas rangkaian pembunuhan di Filipina

Para ahli Kitab Suci di Filipina mengungkapkan kemarahan mereka atas budaya kekerasan dan impunitas, dengan jumlah insiden pembunuhan yang terus meningkat di negara itu.

“Bagaimana kita bisa merayakan Natal, kelahiran Tuhan kita Yesus, di tengah kematian dan sama sekali mengabaikan kehidupan manusia?” demikian pernyataan dari Asosiasi Kitab Suci Filipina (CBAP).

“Jika kita tidak marah dengan pembunuhan tersebut, jika kita merasa tidak terganggu dengan pembunuhan brutal pengacara, dokter, pembela hak asasi manusia, dan orang miskin baru-baru ini, maka kita tidak sungguh-sungguh mencintai Yesus dalam perkataan dan perbuatan,” kata pernyataan itu.

Mereka secara khusus mengutip pembunuhan seorang ibu dan anaknya di provinsi Tarlac beberapa hari sebelum Natal oleh seorang anggota polisi.

“Kita menyembah Tuhan dengan bibir kita, tetapi hati kami jauh dari-Nya. Kita munafik!” kata anggota organisasi ahli Kitab Suci itu.

“Sungguh, kita munafik ketika kita merayakan Natal, kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, namun mengabaikan dan tidak menghargai perintah-Nya,” tambah mereka.

“Mereka yang tidak mengutuk pembunuhan itu sama seperti mereka yang ingin membunuh Yesus saat masih bayi dan sebagai orang dewasa,” kata mereka.

- Newsletter -

Mereka mengatakan bahwa Natal adalah tentang kelahiran Yesus “yang memberikan hidupnya agar orang lain dapat hidup.”

“Membunuh bertentangan dengan kehendak Tuhan kita Yesus yang menjanjikan kehidupan, bukan kematian. ‘Pencuri datang hanya untuk mencuri, membunuh dan menghancurkan. [Namun] Saya datang agar mereka memiliki kehidupan, dan memilikinya dalam segala kepenuhannya,” kata kelompok itu.

Kelompok itu mengatakan “budaya kekerasan dan impunitas” telah “mematahkan jiwa nasional kita dan merusak rasa moral kita tentang benar dan salah.”

“Kami mengecam dosa ini. Kami menuntut keadilan bagi para korban pembunuhan ini. Kami memohon untuk menghormati kehidupan, menghormati martabat dan hak manusia, menghormati tiap-tiap orang. Kami berkomitmen untuk pemulihan aktif dan otentik kerajaan Allah di dunia kita,” kata para ahli Kitab Suci itu.

Mereka mengatakan bahwa “Jika kita mencintai Yesus, kita akan menuruti perintah Allah, termasuk tidak membunuh.”

“Sayangnya, banyak yang mengaku memiliki hubungan dengan Yesus, tetapi tidak mematuhi perintahNya,” bunyi pernyataan itu.

“Mengasihi Yesus berarti mementingkan hal-hal dan orang-orang yang penting bagi-Nya,” kata mereka. “Kita tahu bahwa sesuatu dan seseorang itu penting bagi kita ketika kita frustrasi atau marah saat itu diabaikan.”

“Umat Kristiani, yang mengaku mencintai Yesus, harus menjadi yang pertama berseru, ‘Hentikan Pembunuhan!’ karena ini bertentangan dengan kehendak Guru mereka,” kata mereka.

Sebuah laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang “perang narkoba” di Filipina pada bulan Juni mencatat bahwa pembunuhan di luar hukum di negara tersebut “mendekati impunitas.”

PBB juga menambahkan bahwa ada retorika risiko oleh para pejabat tertinggi di negara yang telah membuat polisi berani untuk berperilaku seolah-olah mereka memiliki “izin untuk membunuh”.

Kepolisian Nasional Filipina telah mencatat 7.884 kematian selama operasi polisi dari 1 Juli 2016 hingga 31 Agustus 2020.

Namun, kelompok hak asasi manusia memberikan perkiraan yang jauh lebih besar. Menurut mereka jumlah total kematian dalam “perang narkoba” mencapai sekitar 27.000 orang termasuk korban pembunuhan main hakim sendiri.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest