Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kardinal Pakistan serukan perdamaian pasca serangan terhadap minoritas agama

Kardinal Pakistan serukan perdamaian pasca serangan terhadap minoritas agama

Uskup Agung Karachi Kardinal Joseph Coutts menyerukan perdamaian dan saling pengertian setelah laporan meningkatnya insiden serangan terhadap minoritas agama di negara itu.

Seruan itu bertepatan dengan perayaan 50 tahun sebagai imam pada 9 Januari.

“Kita boleh beda, beda bahasa, beda agama, tapi kita dapat hidup bersama, saling menghormati seperti karangan bunga dengan bunga yang berbeda membawa kenyataan baru,” kata kardinal seperti diberitakan Asia News.



Kepada orang yang hadir pada perayaan emas imamatnya, prelatus itu mengatakan bahwa doa saja tidak cukup, bahwa seseorang harus mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri.

Pernyataan kardinal itu muncul ketika laporan media mencatat bahwa penganiayaan terhadap minoritas agama di Pakistan berlanjut dalam beberapa bulan terakhir.

Sebuah kuil Hindu dirusak bulan lalu oleh massa di Karachi setelah tuduhan penistaan dilontarkan terhadap seorang anak laki-laki dari komunitas Hindu.

Pada bulan Mei, Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan mengutuk pembongkaran rumah milik komunitas Hindu dan Kristen di kota Bahawalpur provinsi Punjab.

Dalam beberapa kesempatan, Pakistan mengklaim melindungi kepentingan komunitas minoritas.

- Newsletter -

Kardinal Coutts mengatakan bahwa menjadi uskup tidak pernah terlintas dalam pikirannya.

“Ketika saya bergabung dengan seminari, saya memiliki gagasan yang sangat sederhana untuk melakukan pekerjaan yang baik,” katanya. Ia menambahkan bahwa pekerjaan para misionaris yang meninggalkan keluarga mereka untuk bekerja di Pakistan menjadi inspirasi baginya.

Prelatus itu juga mengenang bahwa ketika dia diangkat menjadi uskup di Hyderabad pada tahun 1990, dia memilih “Harmoni hidup bersama” sebagai motonya.

Kardinal Coutts mengutip contoh orang-orang yang bekerja untuk perdamaian seperti Sayed Hakkem, Abdul Sitar Edhi, Dr. Ruth Pfau, dan Ruth Louis.

“Mereka adalah orang-orang yang telah memberi kita contoh bagaimana kita harus menghormati martabat manusia,” kata prelatus itu.

“Kita semua harus bersatu untuk menciptakan harmoni seperti karangan bunga… Menurut saya kita bisa melakukan sesuatu, jadi mari kita bekerja untuk itu. Semua agama memiliki pesan fundamental kemanusiaan, ”kata kardinal.

Kardinal Coutts telah menjadi uskup agung Karachi sejak 2012. Ia lahir di Amritsar, British India, pada tanggal 21 Juli 1945. Ia mengikuti pendidikan menjadi imam di seminari Kristus Raja di Karachi dan ditahbiskan sebagai imam di Lahore, Pakistan, pada Jan 9, 1971.

Setelah ditahbiskan, ia melanjutkan studi di Roma dari tahun 1973 hingga 1976 dan kemudian menjadi profesor filsafat dan sosiologi di Seminari Kristus Raja di Karachi, dan rektor Seminari Menengah St. Maria di Lahore.

Ia diangkat sebagai uskup pembantu Hyderabad di Pakistan pada 5 Mei, 1998 oleh Paus St. Yohanes Paulus II dan ditahbiskan sebagai uskup pada 16 September tahun yang sama.

Universitas Katolik Eichstätt-Ingolstadt, Jerman, menganugerahi Uskup Coutts Penghargaan Shalom tahun 2007 atas komitmennya pada dialog antaragama di Pakistan. Selama 25 tahun, penghargaan itu telah diberikan kepada orang-orang serta proyek yang fokus pada hak asasi manusia.

Kardinal Coutts dikenal karena kampanyenya menentang UU Penistaan Agama Pakistan, yang menurutnya terlalu mudah dimanipulasi untuk serangan pribadi atau menargetkan minoritas agama atas pelanggaran yang tidak penting.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest