Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Pandemi memperparah kesenjangan sistem pelayanan kesehatan, kata paus

Pandemi memperparah kesenjangan sistem pelayanan kesehatan, kata paus

Paus Fransiskus mengecam berbagai kekurangan dalam pelayanan terhadap orang sakit yang diperparah oleh virus corona.

“Pandemi saat ini telah memperburuk ketidaksetaraan dalam sistem perawatan kesehatan kita dan memperlihatkan ketidakefisienan dalam perawatan orang sakit,” kata paus dalam pesannya untuk Hari Orang Sakit Sedunia.

Menjelang peringatan yang jatuh pada 11 Februari, Paus Fransiskus mengatakan orang tua, orang lemah dan rentan “tidak selalu diberikan akses ke perawatan, atau dengan cara yang adil.”



“Ini merupakan hasil keputusan politik, pengelolaan sumber daya dan besar atau kecilnya komitmen dari para pemangku tanggung jawab,” katanya.

Dalam pesannya paus mendesak hubungan interpersonal dalam perawatan orang sakit.

“Suatu masyarakat menjadi jauh lebih manusiawi sejauh ia peduli terhadap anggotanya yang paling lemah dan menderita, dalam semangat cinta persaudaraan,” kata paus.

Setiap tahun Gereja Katolik menandai peringatan hari raya Bunda Maria dari Lourdes yang dilembagakan oleh Paus St. Yohanes Paulus II pada 13 Mei 1992.

Tema perayaan tahun ini adalah “Kamu hanya memiliki satu guru dan kamu semua adalah saudara” (Matius 23: 8), yang merupakan bagian dari Injil di mana Yesus mengkritik mereka yang gagal melaksanakan apa yang mereka wartakan.

- Newsletter -

“Kritikan Yesus terhadap mereka yang ‘berkhotbah tetapi tidak melaksanakana’ selalu membantu dan karena tidak seorang pun dari kita yang kebal terhadap kejahatan kemunafikan, yang mencegah kita berkembang sebagai anak-anak dari satu Bapa, yang dipanggil untuk hidup dalam persaudaraan universal,” kata paus.

“Di hadapan kebutuhan saudara-saudari kita, Yesus meminta kita untuk menanggapi dengan cara yang sepenuhnya bertentangan dengan kemunafikan seperti itu,” tambahnya.

“Dia meminta kita untuk berhenti dan mendengarkan, untuk membangun hubungan langsung dan pribadi dengan orang lain, untuk menunjukkan empati dan kasih sayang, dan untuk membiarkan penderitaan mereka menjadi milik kita saat kita berusaha untuk melayani mereka,” kata paus.

Paus juga mendesak investasi yang lebih besar dalam perawatan kesehatan, yang merupakan prioritas yang terkait dengan prinsip fundamental bahwa kesehatan adalah kebaikan bersama yang utama.

Seorang perawat sedang menangani pasien di ICU Rumah Sakit Seibu di Yokohama, Jepang, 18 Juni 2020. (Foto oleh Kim Kyung-Hoon/Reuters)

Ia mengungkapkan bahwa selama pandemi banyak orang menujukkan kepahlawanan oleh pria dan wanita yang secara diam-diam tekun merawat pasien virus corona.

Paus menagpresiasi “dedikasi dan kemurahan hati” dari petugas kesehatan, relawan, staf pendukung, para imam, dan kaum religius.

Ia mengatakan mereka-mereka ini telah membantu, merawat, menghibur dan melayani begitu banyak orang sakit dan keluarga mereka dengan profesional, pemberian diri, tanggung jawab dan cinta akan sesama.

“Banyak pria dan wanita yang tidak banyak bicara, namun memilih untuk tetap fokus dan berbagi penderitaan dengan pasien, yang mereka lihat sebagai tetangga dan anggota satu keluarga manusia,” kata Paus.

“Kedekatan seperti itu adalah obat berharga yang memberikan dukungan dan penghiburan bagi orang sakit dalam penderitaan mereka,” katanya.

“Pengalaman sakit membuat kita menyadari bahwa kita juga rentan dan sangat membutuhkan orang lain. Itu membuat kita merasa semakin jelas bahwa kita adalah makhluk yang bergantung pada Tuhan,” kata paus.
“Ketika kita sakit, ketakutan dan bahkan kebingungan  menyelimuti pikiran dan hati kita; kita mendapati diri kita tidak berdaya, karena kesehatan kita tidak bergantung pada kemampuan kita atau kekhawatiran hidup yang didak berhenti. “

“Penyakit menimbulkan pertanyaan tentang makna hidup kita, yang kita bawa ke hadapan Tuhan dalam iman. Dalam mencari arah baru dan lebih dalam dalam hidup kita, kita mungkin tidak menemukan jawaban langsung. Kerabat dan sahabat kita pun tidak selalu dapat membantu kita dalam mencari jawaban.”

Paus memberikan contoh sosok Ayub dalam Alkitab, yang menghadapi orang-orang yang tidak paham dengan pergumulannya dengan serangkaian bencana.

Paus Fransiskus menekankan bahwa penderitaan Ayub bukanlah “hukuman atau keadaan terpisahkan dari Allah,.” Tuhan akhirnya menjawab tangisan Ayub dan mengizinkannya untuk melihat sekilas cakrawala baru.

Perawat dari Rumah Sakit St. Louis berjalan melewati poster tentang perjalanan Paus Fransiskus tahun 2019 ke Thailand di Bangkok. (Foto oleh Romeo Gacad/AFP)

Paus Fransiskus menggarisbawahi pentingnya “aspek relasional” dari perawatan bagi orang sakit.

“Memberi penekanan pada aspek ini dapat membantu para dokter, perawat, profesional, dan relawan untuk merasa bertanggung jawab dalam mendampingi pasien dalam proses penyembuhan yang didasarkan pada hubungan interpersonal dan saling percaya,” katanya.

“Ini menciptakan kesepakatan antara mereka yang membutuhkan perawatan dan mereka yang menyediakan perawatan itu, yang didasarkan pada rasa saling percaya dan hormat, keterbukaan dan kesiapsiagaan.”

“Ini akan membantu mengatasi sikap defensif, menghormati martabat orang sakit, menjaga profesionalisme petugas kesehatan dan membina hubungan yang baik dengan keluarga pasien.”

Paus Fransiskus mengatakan bahwa hubungan antara perawat dan pasien ini dapat didukung oleh “kasih Kristus,” yang menunjuk pada “kesaksian dari pria dan wanita yang selama ribuan tahun telah tumbuh dalam kekudusan melalui pelayanan kepada yang lemah.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest