Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Uskup agung di luar Asia deklarasikan hari doa bagi Myanmar

Uskup agung di luar Asia deklarasikan hari doa bagi Myanmar

Lima keuskupan agung di luar negeri secara khusus mendideikasikan hari Kamis Putih menjadi hari doa untuk demokrasi dan perdamaian di Myanmar, di mana ratusan orang telah terbunuh sejak kudeta militer 1 Februari.

“Situasi di Myanmar terus memburuk. Umat Kristen di sana, seperti semua agama lainnya, terpengaruh oleh kudeta junta militer,” kata pernyataan dari Keuskupan Agung Cologne, Jerman.

Keuskupan Agung Cologne, bersama dengan Keuskupan Agung New York, Tokyo dan kota Regensburg di Jerman, mengumumkan hari doa untuk Kamis Putih, 1 April setelah adanya permintaan oleh Kardinal Charles Maung Bo Myanmar, Uskup Agung Yangon.




Kardinal Bo meminta kepada Gereja universal agar berdoa dan menyatakan solidaritas dengan rakyat Myanmar, kata pernyataan itu.

Permohonan akan hari doa mengikuti surat dukungan yang dikirim pada 15 Maret oleh Uskup Agung Rainer Maria Kardinal Woelki dari Cologne kepada Kardinal Bo.

“Semoga Tuhan membantu Myanmar untuk menemukan jalan kembali ke demokrasi dan kebebasan dan kembali menjadi ‘tanah emas’ yang sangat dibanggakan oleh orang Burma. Saya juga akan meminta paroki-paroki kami untuk memasukkan Myanmar dalam doa mereka,” tulis Kardinal Woelki dalam suratnya.

Uskup Agung Regensberg Mgr. Rudolf Voderholzer juga meminta umat Katolik di keuskupannya untuk berdoa bagi orang-orang yang menderita di Myanmar pada Kamis Putih dan setelahnya.

“Begitu banyak orang di Myanmar saat ini kehilangan segala yang mereka miliki, kebebasan, perlindungan hukum dan mata pencaharian mereka,” kata Uskup Voderholzer.

- Newsletter -

“Doa dan simpati kita bagi mereka bagaikan sumber harapan dan keberanian untuk hidup di gurun kekerasan, ketidakadilan dan kecemasan untuk bertahan hidup pada hari berikutnya,” ujarnya.

Surat dari lima keuskupan agung itu muncul saat lebih dari 500 warga sipil dilaporkan telah dibunuh oleh pasukan keamanan Myanmar.

Uskup Agung Tarcisio Isao Kikuchi dari Tokyo sebelumnya menjanjikan dukungan doanya dalam sebuah surat pribadi kepada para uskup di Myanmar.

“Saya ingin memastikan doa dan solidaritas kami dengan Gereja Myanmar, atas perannya dalam melayani yang lemah dan perjuangannya untuk perdamaian,” kata Uskup Agung Kikuchi.

Pernyataan serupa telah dibuat oleh para uskup Amerika yang mengimbau Myanmar untuk “kembali ke demokrasi.”

“Saya bergabung dengan Bapa Suci, Paus Fransiskus, sesama saudara saya para uskup di sini di Amerika Serikat dan di seluruh dunia, dan semua orang yang berkehendak baik, dalam berdoa untuk akhir yang damai dari krisis saat ini di Myanmar,” kata Kardinal Timothy M. Dolan, Uskup Agung New York.

People protest against the military coup in Launglon township, Myanmar March 30. (Dawei Watch via Reuters)

Paus Fransiskus yang mengunjungi Myanmar pada 2017  telah berulang kali membuat pernyataan yang menyerukan diakhirinya pertumpahan darah di negara itu.

Para pemimpin gereja Katolik dari negara lain, termasuk Thailand dan Korea Selatan, juga menyuarakan keprihatinan atas situasi di Myanmar. Awal bulan ini, 12 kardinal Katolik dari seluruh Asia juga bersama-sama mengimbau “perdamaian dan rekonsiliasi.”

Kekhawatiran para pemimpin Gereja sejalan dengan kekhawatiran dunia internasional atas situasi yang terus memburuk di negara berpenduduk 54 juta orang itu, di mana sekitar 800.000 di antaranya adalah umat Katolik.

Pasukan keamanan Myanmar telah menewaskan sedikitnya 510 warga sipil dalam kurun waktu hampir dua bulan untuk menghentikan aksi protes terhadap kudeta tersebut, kata Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik awal pekan ini.

Gedung Putih mengutuk pembunuhan warga sipil sebagai “penggunaan kekuatan yang mematikan”  dan kembali menyerukan akan pemulihan demokrasi. Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mendesak para jenderal Myanmar untuk menghentikan pembunuhan dan penindasan terhadap demonstran.

Meskipun ada kekerasan, kerumunan terus bermuncul di kota-kota di seluruh Myanmar,  menurut media dan unggahan media sosial. Konflik antara militer dan kelompok etnis di negara itu juga meningkat.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest