Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Social Justice (Bahasa) Dipenjara, tokoh media Hong Kong ini desak wartawan selalu 'mencari keadilan'

Dipenjara, tokoh media Hong Kong ini desak wartawan selalu ‘mencari keadilan’

Dikenal karena kritis terhadap kekuatan Beijing, Jimmy Lai seorang tokoh Katolik dan pemilik surat kabar Hong Kong, meminta para wartawan untuk selalu mencari keadilan.

Ia dinyatakan bersalah pekan lalu atas tuduhan berpartisipasi dalam protes pro-demokrasi tahun 2019.

“Ini adalah tanggung jawab kita sebagai jurnalis untuk mencari keadilan,” kata Lai dalam surat yang ditulis tangan yang dikirimkan kepada stafnya di surat kabar pro-demokrasi, Apple Daily.




“Selama kita tidak dibutakan oleh godaan yang tidak adil, selama kita tidak membiarkan kejahatan masuk melalui kita, kita memenuhi tanggung jawab kita,” tulisnya.

Pekan lalu, Lai dan dua aktivis pro-demokrasi dinyatakan bersalah atas tuduhan berpartisipasi dalam pawai tidak berijin selama aksi massa pro-demokrasi pada 2019. Keputusan itu muncul seminggu setelah dia dan enam aktivis lainnya dinyatakan bersalah dalam kasus pengadilan terpisah atas perkumpulan tidak resmi.

Hukuman dalam kedua kasus tersebut belum dijatuhkan.

Kasus lain yang dihadapi Lai, yang telah dipenjara selama berbulan-bulan menyusul jaminannya ditolak dalam kasus lain, termasuk tuduhan berkolusi dengan kekuatan asing di bawah undang-undang keamanan yang baru.

- Newsletter -

Protes pro-demokrasi tahun 2019 didorong oleh adanya tekanan dari Beijing pada kebebasan lebih luas yang dijanjikan kepada Hong Kong setelah dikembalikan ke pemerintahan Tiongkok pada tahun 1997 dan menyebabkan kota semi-otonom itu terjerumus ke dalam krisis terbesarnya sejak penyerahan itu.

Pria beragama Katolik berusia 73 tahun itu sangat vokal dalam mendukung demokrasi di Hong Kong, sehingga mendorong Beijing untuk mencapnya sebagai “pengkhianat”.

Penangkapannya secara berulang kali menuai kecaman dari pemerintah Barat dan kelompok hak asasi internasional.

Dalam suratnya, Lai mengatakan bahwa bagian dari rutinitasnya sehari-hari di penjara adalah membaca buku, mempelajari Alkitab, berdoa dan berolahraga.

Ia mengatakan bahwa meskipun dia kadang-kadang merasa agak sedih karena kehilangan keluarganya, ia merasa nyaman. Dia mengimbau rekan-rekannya di koran yang ia dirikan agar tidak mengkhawatirkannya.

Lai mengatakan bahwa membela kebebasan berbicara adalah pekerjaan yang berbahaya dan mendesak rekan kerjanya untuk berhati-hati dan tidak mengambil risiko besar. “Keamanan Anda penting,” katanya.

Maestro media itu mengatakan situasi di Hong Kong “berantakan dan oleh karena itu sudah waktunya bagi kita untuk berdiri tegak.”

Lai lahir dari keluarga kaya di Tiongkok daratan pada tahun 1947. Keluarganya mengalami kesulitan besar setelah komunis mengambil alih kekuasaan pada tahun 1949, yang menyebabkan  ibunya dikirim ke kamp kerja paksa. Pada usia 12 tahun dia diselundupkan ke Hong Kong.

Kardinal Joseph Zen, uskup emeritus Hong Kong, membaptisnya pada tahun 1997, tahun yang sama ketika bekas koloni Inggris itu dikembalikan ke pemerintahan Tiongkok.

Tambahan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest