Home LiCAS.news Bahasa Indonesia Social Justice (Bahasa) Gara-gara membuka dapur umum, gadis Filipina ini dituding anti pemerintah

Gara-gara membuka dapur umum, gadis Filipina ini dituding anti pemerintah

Saat ibukota Filipina kembali menerapkan penguncian untuk mengekang lonjakan kasus baru, warga merasa sangat terbantu dengan kehadiran dapur komunitas yang dimulai oleh seorang wanit.

Publik memuji upayanya yang mengubah trotoar jalan menjadi tempat bertemu antara orang yang membutuhkan dan yang bersedia membantu.

Gadis itu bernama Ana Patricia Non, 26 tahun. Pada tanggal 14 April, ia meletakkan gerobak yang terbuat dari bambu berisi makanan di trotoar di sepanjang Jalan Maginhawa di Kota Quezon, salah satu bagian dari Metro Manila, Filipina.


Beberapa jam setelah mengunggah foto di akun media sosialnya, orang-orang mulai mengirimkan sumbangan dan penduduk dari komunitas miskin di sekitar lokasi itu berdatangan untuk mengambil barang-barang yang mereka butuhkan.

Tindakan Patricia itu akhirnya ditiru di banyak tempat. Orang-orang pun mulai bertanya mengapa ada begitu banyak orang yang menderita kelaparan.

Inisiatif Patricia kemudian menarik perhatian satuan tugas anti-pemberontakan pemerintah dan mulai menghubungkannya dengan gerakan komunis bawah tanah.

Dapur komunitas yang bermunculan di mana-mana mulai dicurigai sebagai bagian dari konspirasi pimpinan komunis yang lebih besar untuk memikat publik agar bangkit melawan pemerintah.

- Newsletter -

“Mengapa ‘dapur komunitas’ ini tumbuh secara tiba-tiba? Mengapa mereka memiliki satu tema?” kata Letjen Antonio Parlade Jr., juru bicara Satuan Tugas Nasional untuk Mengakhiri Konflik Bersenjata Komunis Lokal.

“Kau tahu, itu hanya satu orang, Ana Patricia, bukan? Setan memberikan sebuah apel kepada Hawa, begitulah awalnya,” kata pejabat militer itu.

Patricia, atau dipanggil Patreng oleh teman-temannya, berusaha mengabaikan tuduhan tersebut. Namun ia mengaku khawatir akan keselamatannya dan nyawa relawan lainnya.

“Kita semua tahu apa yang terjadi pada orang lain yang telah menjadi sasaran ‘red-tagging.’ Banyak dari mereka yang ditindak dan beberapa bahkan dibunuh,” katanya.

Ia mengatakan dia tidak mengerti mengapa para pejabat militer berpikir bahwa membantu orang yang kelaparan adalah tindakan komunis.

People line up for supplies at a ‘community pantry’ set up by Ana Patricia Non on Maginhawa Street in Quezon City in the Philippines. (Photo by Mark Saludes)

“Konsep dapur komunitas sangat mendasar. Orang-orang di masa lalu sudah melakukannya. Dari orang-orang yang memiliki sesuai kemampuannya, diberikan kepada orang lain sesuai kebutuhannya,” kata Patricia.

Gadis itu mengatakan prinsip ini sama ketika Yesus memberi makan kepada ribuan orang dengan tujuh roti dan dua ikan.

“Tidak ada yang meragukan tentang dapur umum,” kata lulusan Seni Rupa dari Universitas Filipina ini.

“Itu hanya ide sederhana untuk mengajak semua orang menerima dan saling membantu di masyarakat,” ujarnya.

Hampir dua minggu setelah Patricia memulai “dapur umum”, lebih dari 500 lainnya telah tumbuh di seluruh negara itu.

Inisiatif ini bahkan menginspirasi orang-orang di Timor Leste untuk mendirikan “dapur umum” mereka sendiri.

Caritas Philippines, sayap aksi sosial Gereja Katolik di negara itu, telah meminta keuskupan untuk mengaktifkan kembali atau mendirikan pos bantuan mereka sendiri untuk mendukung dapur komunitas.

People line up for supplies at a ‘community pantry’ set up by Ana Patricia Non on Maginhawa Street in Quezon City in the Philippines. (Photo by Mark Saludes)

Patricia mengatakan dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Dia berterima kasih kepada masyarakat dan komunitas yang turut membantu kampanye melawan kelaparan ini menjadi kenyataan.

“Narasi yang harus kita ceritakan adalah narasi tentang orang-orang yang memilih untuk memberi dan berbagi apa pun yang dimilikinya, dan kisah tentang orang-orang miskin yang berjuang untuk tetap hidup di tengah pandemi,” katanya.

“Ini bukan tentang saya,” kata pembuat furnitur itu. Ia mengatakan dia mendirikan “pos saling membantu” itu setelah toko furnitur kecil miliknya ditutup sementara karena pandemi.

Para pekerjanya datang kepadanya untuk meminta bantuan seminggu setelah penguncian di ibukota Filipina. Dia terpaksa menjual sepedanya dan uangnya dia berikan kepada mereka.

“Saya bisa bertahan selama beberapa bulan. Saya hanya butuh makanan, tetap sehat, dan terhindar dari penyakit virus corona. Tapi saya cemas dengan para pekerja saya,” kata Patricia.

Namun, “dapur umum” miliknya menyelamatkan Ronaldo Abcede, seorang pekerja berusia 48 tahun yang kehilangan pekerjaan setelah perusahaannya ditutup pada bulan Desember.

Ronaldo ikut mengantri di dapur umum itu untuk mengambil beberapa buah dan sayuran, dan satu kilogram beras, yang menurutnya cukup untuk memberi makan keempat anaknya yang masih kecil selama dua hari.

Namun sebelum pulang, Ronaldo meninggalkan dua kaleng sarden yang ia dapat dari program penyaluran bantuan pemerintah. Ia berpikir barangkali ada yang membutuhkan sarden itu.

Tons of vegetables and fruits from the provinces keep on arriving in ‘community pantries’ in the Philippine capital two weeks after Ana Patricia Non set up her small ‘pantry’ on Maginhawa Street in Quezon City. (Photo by Mark Saludes)

“Buah dan sayur lebih sehat untuk anak saya,” ujarnya. “Kami makan sarden dan mi instan hampir setiap hari sejak saya kehilangan pekerjaan,” kata Ronaldo.

Kondisi pria itu dan banyak orang lain yang mengalami hal serupa menjadi salah satu alasan kuat mengapa Patricia memutuskan untuk melanjutkan inisiatif yang telah dia mulai.

“Ide saya ini bukan yang paling cemerlang, tetapi saya selalu memastikan bahwa saya belajar dari massa dan menempatkan mereka di pusat dari segala hal yang saya lakukan,” katanya.

Uskup Jose Colin Bagaforo, direktur nasional Caritas Filipina, mengatakan inisiatif Patricia “memunculkan kemurahan hati, kebaikan, dan kasih sayang yang ada pada diri setiap orang.”

Dari gerobak bambu kecil di Jalan Maginhawa, Patricia berhasil mendirikan sembilan dapur komunitas lain yang melayani ratusan keluarga miskin setiap hari.

Prelatus itu mengakui bahwa dapur umum bukanlah solusi permanen atas kemiskinan atau untuk mengakhiri kelaparan, “tetapi mengajari kita agar peduli terhadap warga kita sendiri.”

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest