Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Puji Tuhan, imam dan katekis yang diculik milisi Myanmar dibebaskan

Puji Tuhan, imam dan katekis yang diculik milisi Myanmar dibebaskan

Imam dan katekis yang diculik dibebaskan berkat negosiasi alot antara para pemimpin gereja setempat dengan milisi Myanmar yang menahan keduanya

Imam Katolik dan seorang katekis yang diculik bulan lalu oleh sekelompok milisi bersenjata di negara bagian Chin Myanmar dibebaskan pada 4 Agustus.

Hal itu disampaikan oleh seorang imam yang meminta agar namanya dirahasiakan demi alasan keamanan. Imam itu mengatakan kepada LiCAS.news bahwa imam dan katekis yang diculik itu dibebaskan melalui perantaraan para pemimpin gereja setempat.

“Mereka dibebaskan setelah negosiasi dan pembicaraan alot,” kata imam itu. “Mereka sekarang aman dan sedang beristirahat di suatu tempat,” tambahnya.




Dalam pernyataan pada 1 Agustus, Uskup Keuskupan Hakha Mgr Hre Kung meminta agar imam dan katekis yang dibawa oleh anggota Chinland Defense Force (Pasukan Pertahanan Chinland) atau CDF pada 26 Juli segera dibebaskan.

“Saya menyerukan kepada para pemimpin CDF yang bersangkutan untuk segera membebaskan kedua orang itu,” kata uskup itu dalam pernyataannya.

Ia mengatakan Pastor Noel Hrang Tin Thang dan katekis yang tidak disebutkan namanya itu sedang dalam perjalanan dari kota Surkhua ke Hakha ketika mereka ditangkap oleh aktivis CDF yang menuduh imam itu bersekongkol dengan militer.

Namun, Pastor Paul Thla Kio, seorang imam di Hakha, mengatakan kepada kantor berita Katolik Fides, bahwa Pastor Tin Thang hanya berbicara dengan seorang jenderal Katolik yang sering mengunjungi kediaman para imam.

Imam yang diculik itu bahkan dilaporkan memohon kepada jenderal militer itu agar menghentikan pertempuran di kota itu sehingga  warga sipil tidak terjebak dalam konflik bersenjata.

- Newsletter -

Dalam sebuah pernyataan, CDF menuduh imam itu memberikan informasi kepada militer, mendapatkan dukungan medis dari junta, dan mendesak orang untuk menerima dukungan junta.

Kelompok milisi itu juga mengatakan telah memperingatkan imam itu untuk tidak menghubungi pasukan keamanan militer tetapi imam itu tidak mematuhinya.

“Kami akan membebaskan mereka hanya setelah tuntutan kami untuk memindahkan imam dari Surkhua ke Hakha dan surat rekomendasi dari dua pemimpin gereja dipenuhi,” kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan sebelum pembebasan.

Kelompok perlawanan itu sejatinya dibentuk “untuk melindungi warga sipil” dari militer setelah kudeta 1 Februari yang menggulingkan pemerintah.

Warga desa beristirahat di tenda-tenda darurat setelah melarikan diri dari pertempuran di kotapraja Thantlang, negara bagian Chin, pada 11 Juni 2021. (Foto milik Radio Free Asia)

Ditemukan banyak mayat

Sementara itu, sekitar 40 mayat dilaporkan ditemukan di hutan di bagian tengah negara itu dalam beberapa pekan terakhir, kata seorang anggota kelompok itu.

Mayat-mayat itu ditemukan di beberapa lokasi berbeda di sekitar Kani, sebuah kota di daerah Sagaing, yang telah mengalami  pertempuran sengit dalam beberapa bulan terakhir antara tentara dan kelompok-kelompok milisi.

Dalam sebuah surat kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, utusan Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun, yang mewakili pemerintah sipil terpilih, mengatakan total ada 40 mayat ditemukan.

Kyaw Moe Tun menggambarkan insiden itu “jelas merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan,” dan menyerukan Dewan Keamanan PBB dan komunitas internasional untuk memberlakukan embargo senjata global terhadap militer Myanmar.

“Tidak ada tanda-tanda meredanya kekejaman, pembunuhan, penangkapan yang dilakukan oleh militer,” tulisnya. “Kami mendesak intervensi kemanusiaan dari komunitas internasional sebelum terlambat,” lanjutnya.

Pertempuran di daerah Sagaing secara umum sudah berhenti, namun belum diketahui dengan jelas apakah masih banyak mayat yang akan ditemukan, ungkat seorang anggota milisi Kani, yang meminta namanya dirahasiakan.

“Sebagian besar penduduk desa di daerah terpencil telah melarikan diri ke kota terdekat,” katanya. Ia menuduh militer dan milisi pro-junta  melakukan pembunuhan dan penjarahan.

Anggota milisi itu juga menyebutkan jumlah total mayat yang ditemukan sejauh ini baru sekitar 40, dan ditemukan di berbagai lokasi.

Sebuah buletin informasi militer tanggal 30 Juli mengatakan pasukan keamanan telah diserang oleh sekitar 100 “teroris” dengan senjata ringan di dekat desa Zeepindwin di Kani. Tentara membalas seragan itu dan sembilan mayat telah ditemukan bersama dengan senapan berburu, ranjau buatan sendiri dan sebuah granat.

Sejak kudeta pada Februari, pasukan keamanan telah menewaskan sedikitnya 946 orang, menurut Asosiasi Bantuan Tahanan Politik yang berbasis di Thailand. Militer membantah penghitungan itu dan juga mengatakan banyak anggota pasukan keamanan telah tewas. – Ditambah dengan laporan dari Reuters

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest