Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Tentara Myanmar membakar gereja dan rumah

Tentara Myanmar membakar gereja dan rumah

Kelompok hak asasi manusia setempat menyebutkan bahwa pembakaran gereja Baptis dan rumah-rumah termasuk “kejahatan perang”

Pasukan junta Myanmar telah membakar seluruh desa, termasuk sebuah gereja Baptis dan selusin bangunan lainnya, di negara bagian Chin, kata penduduk pada Kamis (14/10). Hal itu memicu kecaman dari kelompok hak asasi manusia setempat yang menyebut tindakan itu sebagai “kejahatan perang” di bawah hukum internasional.

Pembakaran dilakukan pada Rabu sore (13/10), setelah konvoi militer yang terdiri dari sekitar 40 kendaraan dan dua tank berangkat dari Falam ke ibukota negara bagian Chin, Hakha, diserang sekitar tiga mil di luar Falam oleh milisi Angkatan Pertahanan anti-junta Chin, sebuah kelompok bersenjata yang dibentuk untuk memerangi militer Myanmar di negara bagian itu, kata sejumlah sumber kepada RFA Layanan Myanmar.

Setelah bentrokan terjadi, militer mendirikan kamp di desa Rialti—sekitar lima mil dari lokasi di mana konvoi diserang—dan mulai membakar bangunan, kata penduduk.



Seorang pemimpin agama dari Gereja Baptis Desa Rialti, yang meminta RFA tidak menyebutkan namanya karena takut adanya serangan balasan, mengatakan bahwa militer awalnya membakar delapan rumah sekitar pukul 15:00 pada hari Rabu, sebelum melanjutkan pembakaran gedung pada Kamis pagi.

“Subuh tadi gereja dan gudang kami yang dibakar dan sekitar pukul 9.00, tiga rumah yang tersisa,” katanya.

“Semuanya hilang dalam waktu singkat. Seluruh desa, termasuk gereja, dibakar. Delapan rumah dibakar kemarin. Secara keseluruhan, 13 bangunan, termasuk gereja, hancur,” katanya.

Warga mengatakan bahwa pasukan baru meninggalkan desa pada hari Kamis setelah bangunan itu ludes terbakar. Mereka mengatakan kepada RFA bahwa mereka melarikan diri ke bukit-bukit berhutan di dekatnya ketika militer tiba pada hari Rabu dan menyaksikan dari jauh bangunan-bangunan itu terbakar.

- Newsletter -

Juru bicara Junta Mayor Jenderal Zaw Min Tun pada hari Kamis menepis laporan bahwa pasukan pemerintah bertanggung jawab atas pembakaran gereja dan rumah di desa Rialti. Ia  mengatakan militer “tidak melepaskan tembakan ke bangunan keagamaan atau desa mana pun.”

“Tidak benar menyalahkan militer setiap kali terjadi sesuatu selama pertempuran, yang terjadi terjadi adalah baku tembak antara kedua belah pihak,” katanya.

“Yang kami tahu adalah tidak ada pertempuran di wilayah itu. Selain itu, kami membangun kembali bangunan keagamaan yang dihancurkan oleh api atau alasan lain.”

Tetapi Salai Za Op Lin, wakil direktur eksekutif Organisasi Hak Asasi Manusia Chin yang berbasis di India, mengonfirmasi kepada RFA bahwa militer telah membakar gereja Baptis dan bangunan lain di desa Rialti dan menyebut tindakan itu sebagai “kejahatan perang.”

“Kami melihat ini sebagai kejahatan perang karena ke mana pun mereka pergi, mereka fokus pada tempat yang ada banyak orang. Itu adalah pelanggaran yang disengaja terhadap kebebasan beragama,” katanya.

Ia mengatkan bahwa komunitas Kristen lainnya di negara bagian Chin telah menjadi sasaran sejak militer merebut kekuasaan dalam kudeta bulan Februari.

“Sekarang militer melakukan operasi nyata di negara bagian Chin, kita akan melihat banyak pelanggaran dan tindakan seperti itu, dan kami mendesak masyarakat internasional untuk terus mengawasi ini.”

Bulan lalu, Pendeta Cung Biak Hum, 31, ditembak dan dibunuh ketika dia dan beberapa orang lainnya berusaha memadamkan api yang disebabkan oleh tentara pemerintah selama serangan di kota Thantlang, negara bagian Chin, tempat pertempuran baru-baru ini dengan milisi sipil yang menentang pengambilalihan pemerintahan oleh junta.

Serangan terhadap gereja

Militer Myanmar menggulingkan pemerintah Liga Nasional untuk Demokrasi yang dipilih secara demokratis pada 1 Februari, setelah mengklaim partai tersebut berlaku curang dalam pemilu pada November 2020.

Belum ada bukti yang ditunjukkan terkait klaim itu dan junta terus dengan keras menekan protes anti-kudeta, yang menewaskan sedikitnya 1.171 orang dan menangkap 7.308 lainnya, menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik yang berbasis di Bangkok.

Militer telah meningkatkan serangan di bagian-bagian terpencil Myanmar, memicu pertempuran sengit dengan milisi Pasukan Pertahanan Rakyat setempat dan tentara etnis yang mengendalikan sebagian besar wilayah di sepanjang pinggiran Myanmar.

Menurut Salai Za Op Lin, tindakan militer pada hari Rabu (13/10) merupakan tindakan penghancuran gereja Kristen di negara bagian Chian yang kedelapan kali oleh pasukan junta dalam kurun lebih dari delapan bulan sejak mengambil alih pemerintah.

Ia mengatakan bahwa sementara militer telah menyerang gereja dengan senjata berat dan menghancurkan benda-benda keagamaan di masa lalu, insiden di desa Rialti adalah pembakaran gereja yang pertama kali dilakukan.

Dr. Hkalam Samson dari Kachin Baptist Association menyebut segala bentuk serangan terhadap gereja “tidak dapat diterima.”

“Kami selalu keberatan dengan perusakan bangunan keagamaan yang dilakukan dengan sengaja di tengah konflik,” katanya.
“Kami bisa memahami dan menerima hal semacam ini jika itu kecelakaan. Tetapi ada banyak perusakan yang disengaja dan kami tidak dapat menerima tindakan seperti itu.”

Jumlah umat Kristen mencapai sekitar enam persen dari populasi Myanmar yang mayoritas beragama Buddha.

Copyright © 1998-2020, RFA. Used with the permission of Radio Free Asia, 2025 M St. NW, Suite 300, Washington DC 20036. 

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Make a difference!

We work tirelessly each day to support the mission of the Church by giving voice to the voiceless.
Your donation will add volume to our effort.
Monthly pledge

Latest