Paus Fransiskus mengungkapkan kesedihannya dan berdoa bagi para korban gempa bumi dan kecelakaan pesawat terbang di Indonesia yang telah menghadapi beberapa bencana sejak tahun baru.
“Saya mengungkapkan kedekatan saya dengan penduduk Pulau Sulawesi di Indonesia, yang dilanda gempa bumi dahsyat,” kata Paus Fransiskus setelah Angelus pada 17 Januari, dua hari setelah gempa melanda pulau itu dan menewaskan sedikitnya 78 orang.
“Saya berdoa untuk yang meninggal, yang terluka, dan untuk semua yang kehilangan rumah dan pekerjaan. Semoga Tuhan menghibur dan mendukung upaya semua orang yang terlibat dalam memberikan bantuan, ”kata paus.
Badan Penanggulanan Bencana Nasional melaporkan lebih dari 740 orang terluka dan lebih dari 27.800 meninggalkan rumah mereka setelah gempa berkekuatan 6,2 skala Richter di Sulawesi Barat.
Beberapa orang mengungsi ke gunung, sementara yang lainnya ke pusat evakuasi yang padat, kata saksi mata.
Paus Fransiskus telah mengirim telegram ke Indonesia di mana ia memastikan kepada nuntius apostolik dan pemerintah Indonesia akan doa dan dukungannya kepada semua yang terlibat dalam upaya pencarian dan penyelamatan yang berkelanjutan.
“Mari kita berdoa bersama untuk saudara-saudari kita di Sulawesi Sabtu lalu dan untuk para korban kecelakaan pesawat yang juga terjadi di Indonesia,” kata paus mengacu pada kecelakaan Sriwijaya Air yang menewaskan 62 orang pada 9 Januari.

Membentang di Cincin Api Pasifik, Indonesia sering dilanda gempa bumi. Pada 2018, gempa berkekuatan 7,5 skala Richter yang menghancurkan dan tsunami berikutnya melanda kota Palu, di Sulawesi, menewaskan ribuan orang.
Dua minggu menjelang tahun baru, Indonesia -negara dengan populasi terpadat keempat di dunia– berjuang melawan berbagai bencana.
Banjir di Sulawesi Utara dan provinsi Kalimantan Selatan masing-masing telah menewaskan sedikitnya lima orang bulan ini, sementara tanah longsor di provinsi Jawa Barat menewaskan sedikitnya 28 orang, kata pihak berwenang.
Gunung Semeru di Jawa Timur meletus pada 16 Januari, tetapi belum ada laporan korban jiwa atau evakuasi.
Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), mengatakan cuaca ekstrem dan berbagai bahaya hidrometeorologi lainnya diperkirakan akan terjadi dalam beberapa minggu mendatang.