Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Dikuasai separatis, gereja dan sekolah Katolik di Myanmar ditutup

Dikuasai separatis, gereja dan sekolah Katolik di Myanmar ditutup

Gereja-gereja dan sekolah-sekolah Katolik di Negara Bagian Shan, Myanmar utara, masih ditutup meskipun pasukan separatis etnis melonggarkan tindakan keras terhadap tempat-tempat ibadah Kristen tahun lalu, menurut sumber-sumber gereja setempat.

Sebanyak 52 gereja Baptis kini telah dibuka kembali sementara beberapa bangunan Katolik dialihfungsikan untuk tujuan lain, termasuk kantor polisi, kata mereka.

Gereja-gereja yang ditutup oleh Pasukan Gabungan Wa (UWSA) di Daerah Khusus mulai dibuka kembali pada bulan September di beberapa kota, termasuk Mei Pauk, Pansang dan Hotaung, kata seorang uskup Gereja Baptis.

“Semua gereja kami akhirnya dibuka minggu lalu, dan hanya sekolah studi Alkitab yang tetap ditutup di Hotaung,” Uskup Lazarus, sekretaris umum Liga Kristen Baptis Lahu di Kyaing Tong mengatakan pada 17 Desember, demikian laporan RFA.

“Kami tidak tahu mengapa mereka tidak mengizinkan yang satu ini dibuka kembali,” tambahnya.




Tindakan keras kelompok bersenjata yang beranggotakan 30.000 orang terhadap umat Kristen di negara bagian yang dideklarasikan sebagai negara bagian Wa dimulai pada September tahun lalu dengan penutupan gereja dan sekolah.

Para klerus dan biarawati ditahan atau diinterogasi jika mereka sedang melakukan pewartaan atau melakukan proyek pembangunan sebelum banyak yang diusir dari wilayah tersebut.

- Newsletter -

Pemimpin agama yang diizinkan oleh UWSA adalah penduduk di wilayah itu, dan mereka boleh melakukan pekerjaan mereka jika mereka mendapat izin dari pejabat setempat.

Alasan pengetatan itu adalah untuk membersihkan wilayah itu dari fanatisme agama, menurut UWSA.

Namun, pelonggaran tindakan kekerasan belum diperpanjang terhadap gereja-gereja dan lembaga-lembaga Katolik.

Sekolah-sekolah Katolik di beberapa kota di wilayah Wa masih ditutup, kata Uskup Philiip Lasap Za Hawng dari Keuskupan Lashio.

Sekolah-sekolah ini termasuk yang ada di kota Panwaing, Maingmaw dan Winkhaung, kata uskup itu.

“Kami belum pernah ke daerah ini karena pihak berwenang belum mengundang kami,” katanya.

Satu bangunan tempat para pastor dan biarawati dulu tinggal digunakan oleh otoritas Wa untuk keperluan lain, katanya.

Banyak bangunan gereja lainnya telah digunakan untuk keperluan lain, kata imam Katolik, Pastor Soe Naing.

Informasi tentang mereka tidak jelas tetapi, “Kami mendengar sekolah di Winkhaung diubah menjadi kantor polisi, dan bahwa sekolah di Maingmaw dihancurkan.”

Mengenai gereja, saat ini tidak ada yang beroperasi di wilayah yang dikontrol UWSA, kata Pastor Soe Naing.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest