Home LiCAS.news Bahasa Indonesia News (Bahasa) Kelompok kemanusiaan Mindanao sumbang ribuan masker bagi korban letusan Taal

Kelompok kemanusiaan Mindanao sumbang ribuan masker bagi korban letusan Taal

Sebuah kelompok perdamaian yang bermarkas di Mindanao, wilayah selatan Filipina, menyumbangkan ribuan masker kepada orang-orang yang terkena dampak letusan gunung berapi di utara negara itu.

Masker-masker itu disumbangkan oleh organisasi kemanusiaan asing tahun lalu kepada kelompok non-pemerintah Balay Mindanao setelah serangkaian topan dan gempa bumi di wilayah tersebut.

“Kami tidak tahu bagaimana kami bisa membantu,” kata Charlito Manlupig, ketua Balay Mindanaw Foundation Inc.

“Semoga kontribusi sederhana ini dapat membantu meringankan kesulitan mereka yang terkena dampak bencana Gunung Taal,” katanya.




Organisasi yang dipimpin Manlupig itu berada di garis depan dalam memberikan bantuan bencana di Mindanao sejak 2012.

“Ketika beberapa anggota Balay Mindanaw menjadi korban, saat itulah kami menciptakan mantra tanggap bencana kami: ‘Kami menolak untuk menjadi korban, kami memilih untuk menjadi sumber kekuatan’,” katanya.

Pada tahun 2019, organisasi itu mengutus timnya dalam upaya bantuan bencana gempa bumi untuk wilayah tersebut.

- Newsletter -

Permintaan untuk masker pelindung N95 melonjak dan pasokan telah habis di provinsi Batangas, Cavite, dan bahkan di Manila, saat Gunung Taal terus memuntahkan abu dan lumpur ke udara.

Situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit mencatat bahwa masker pelindung N95 merupakan “jenis penyaring partikel yang paling umum dari tujuh jenis masker penyaring.”

“Otoritas kesehatan merekomendasikan masker itu sebagai perlindungan pernapasan dari ancaman asap dan abu yang dipancarkan oleh gunung berapi yang meletus.

Sementara itu, Pusat Aksi Sosial Keuskupan Agung Lipas telah meminta sukarelawan untuk membantu mengemas barang-barang bantuan untuk keluarga yang terkena dampak bencana.

Kelompok gereja mengumumkan bahwa mereka juga membutuhkan sukarelawan untuk bergabung dalam kursus kilat tentang pertolongan pertama psikologis untuk membantu mendampingi “saudara-saudara kita yang tertekan yang terkena dampak letusan.”

Di provinsi Batangas, lebih dari 35.000 orang telah meninggalkan rumah mereka sejak letusan.

Angka itu diperkirakan akan terus meningkat karena semakin banyak penduduk di zona bahaya dengan radius 14 kilometer terus dievakuasi. Diperkirakan 450.000 orang tinggal di zona bahaya gunung berapi itu.

Badan Manajemen dan Pengurangan Risiko Bencana Nasional mengatakan tidak ada korban yang dilaporkan akibat letusan itu.

© Copyright LiCAS.news. All rights reserved. Republication of this article without express permission from LiCAS.news is strictly prohibited. For republication rights, please contact us at: [email protected]

Support LiCAS.news

We work tirelessly each day to tell the stories of those living on the fringe of society in Asia and how the Church in all its forms - be it lay, religious or priests - carries out its mission to support those in need, the neglected and the voiceless.
We need your help to continue our work each day. Make a difference and donate today.

Latest